Konsep Mendesa di Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya

Garut News, ( Jum’at, 20/09 ).

Ist
Ist

Pertanyaan paling kerap dilontarkan mengenai Sriwijaya, “Di mana ibu kotanya?”

“Di mana istananya?”

Meski sebagian besar ilmuwan menyepakati Palembang pusat Sriwijaya pada periode awal, perdebatan tentang letak ibu kota kerajaan ini selalu muncul.

Lantaran, hingga kini belum ditemukan sisa-sisa reruntuhan merupakan istana atau keraton Sriwijaya.

Mengenai peluang terjadinya penemuan keraton Sriwijaya, para ahli menyatakan kemungkinannya tipis sekali.

“Permukiman Sriwijaya dibuat dengan konsep mendesa,” jelas Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi Palembang.

“Rumah-rumah dibangun dengan bahan kayu dan bambu berupa rumah panggung atawa rumah terapung,” katanya.

Hal tersebut sebab lokasi permukiman berada di tepian Sungai Musi yang terkadang meluap.

Dataran di wilayah Palembang pada masa silam juga banyak berupa rawa.

Hanya bangunan keagamaan dibangun Sriwijaya berbahan bata merah, mengingat lokasinya berada di tempat tinggi.

Catatan Cina di awal abad ke-13 berjudul Chu-Fan-Chi (Catatan Tentang Negeri-Negeri Barbar/Asing) ditulis oleh Chau-Ju-kua juga mengonfirmasi hal ini.

“Para penduduk Sanfo-tsi (Sriwijaya—red) tinggal tersebar di luar kota atawa di atas air, dengan rakit-rakit dilapisi alang-alang,” tulis Chau-Ju-kua. (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Related posts