Kondisi Kesehatan Juga Keselamatan Jurnalis Kerap Terabaikan

0
44 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 03/07 – 2017 ).

Jurnalis Televisi Periksakan Kondisi Kesehatan.
Jurnalis Televisi Periksakan Kondisi Kesehatan.

– Tingginya intensitas militansi kalangan jurnalis memburu, menghimpun, menyusun, serta melaporkan liputan berbentuk berita maupun featur, kerap mengabaikan kondisi kesehatan bahkan keselamatan jiwa mereka sekalipun. 

Sehingga kerap terdapat seorang jurnalis didera penyakit tipus lantaran terlalu kelelahan, atawa pola makan yang sangat tak teratur.

Bahkan bisa menjadi korban saat meliput peperangan, maupun menjadi korban amuk massa, dan “pentungan aparat” saat melakukan refortase demo besar-besaran.

Selain itu, rangkaian peristiwa pada musim arus mudik dan balik Lebaran Idul Fitri 1437 H/2016 ini, juga acap tak kalah serunya.

Tiga Pewarta Televisi Juga Konsultasikan Kondisi Kesehatan Mereka.
Tiga Pewarta Televisi Juga Konsultasikan Kondisi Kesehatan Mereka.

Selain bisa menguras pikiran, juga energi kalangan jurnalis memburu informasi termasuk visual, yang dinilai memiliki unsur sangat luar biasa.

Maka ketika memburu sudut pandang pemberitaan tersebut, sering menjadikan kalangan jurnalis menjadi lupa pada kondisi fisik, serta kesehatannya sendiri. Malahan faktor keselamatan pun kerap terabaikan.

Tak heran di Terminal Guntur Garut, Jawa Barat, terdapat sedikitnya tiga jurnalis televisi menyempatkan diri memeriksa kondisi kesehatan mereka.

Bersamaan dengan kegiatan liputannya, ketiga pewarta itu mendatangi Pos Siaga Kesehatan Mudik Lebaran, dengan keluhan antara lain sering pusing, mual, serta pilek.

Sedangkan pada Siaga Pos Kesehatan ini, hingga Ahad (03/07-2016), sedikitnya dikunjungi 150 pasien di antaranya terdiri kalangan operator ragam moda angkutan penumpang umum, serta para pemudik yang turun di terminal tersebut.

Sebagian besar dengan keluhan pusing, mual, juga alergi, katanya.

“Ngabuburit”

Bersama Mengumandangkan Shalawat Menunggu Pembagian Takjil untuk Berbuka Puasa Bersama di Masjid Agung Garut.
Bersama Mengumandangkan Shalawat Menunggu Pembagian Takjil untuk Berbuka Puasa Bersama di Masjid Agung Garut.

– Dalam pada itu,  di tempat terpisah ternyata Alun-alun atawa Lapangan Oto Iskandardinata masih menjadi lokasi paling pavorit bagi penduduk Kota Garut yang ngabuburit.

Kawasan seluas 1,5 hektar ini terletak di depan Masjid Agung. Saban hari, tak hanya didatangi kaum remaja sengaja menunggu saat berbuka puasa, melainkan ratusan anak kecil bersama orang tua masing-masing juga menikmati senja dengan beragam permainan.

Sebab selain lokasinya strategis. Ruang terbukanya pun cukup luas di tengah perkotaan, dan mudah dijangkau dari berbagai arah.

Banyaknya pohon perindang sekeliling menjadikan warga betah berlama-lama duduk di bangku taman menikmati suasana sambil menunggu berbuka tiba. Sehingga sengatan terik matahari pun tak terasakan.

Setiap Ramadlan, kawasan Alun-alun senantiasa ramai dikunjungi. Mulai kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua. Tingkah lakunya pun beragam.

Sebagian mereka tampak duduk-duduk di bawah pepohonan rindang sambil asyik mengobrol, dan sesekali memainkan telepon genggam. Sebagian terlihat asyik bermain kucing-kucingan, sepakbola maupun bersepeda.

Seorang Pak Tua Khusu Mengaji Ayat Suci Al Qur’an Menjelang Tiba Saatnya Berbuka Puasa di Masjid Agung Garut.
Seorang Pak Tua Khusu Mengaji Ayat Suci Al Qur’an Menjelang Tiba Saatnya Berbuka Puasa di Masjid Agung Garut.

Kerumunan warga juga terlihat di Masjid Agung Garut dan pelatarannya, serta di sekitar bangunan Babancong.

Sedangkan di dalam Masjid Agung, banyak mengaji Alquran. Sebagian lagi terlihat membaca buku-buku keislaman.

Semakin sore, suasana alun-alun kian ramai berdatangan para pedagang. Menu kuliner paling banyak diserbu warga, terutama es goyobod, es kelapa muda, aneka kolak, dan penganan goreng-gorengan.

Warga juga bisa menikmati menu takjil disediakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid secara rutin setiap hari menjelang berbuka shaum di bulan Ramadlan.

Deldom.
Deldom.

“Ngabuburit di alun-alun bisa sambil ngasuh anak. Tak harus keluar uang banyak seperti di pusat perbelanjaan. Di sini kalau lelah atau ngantuk, bisa istirahat duduk-duduk di bawah pohon, atau masuk masjid hawanya adem,” ungkap Hanapi (41), penduduk asal Asgir Tarogong Kidul, Ahad.

Selain kawasan Alun-alun Garut, terdapat sejumlah tempat sering dipilih menjadi lokasi ngabuburit di wilayah perkotaan. Antara lain kawasan Alun-alun Tarogong Kaler, Lapangan Olahraga Merdeka Tarogong Kidul, Lapang Golf Ngamplang, kawasan Bundaran Simpang Lima, juga sejumlah pusat perbelanjaan.

********

( nz, jdh ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here