Komunikasi Cuci Tangan

by

Halim Mahfudz, CEO Halma Strategic

Jakarta, Garut News ( Rabu, 08/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Pasca Kenaikan Elpiji kemasan 12 kilogram di Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Pasca Kenaikan Elpiji kemasan 12 kilogram di Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).

@SBYudhoyono: “Presiden menelepon Wapres & Menko Perekonomian agar memanggil Dirut PT Pertamina terkait kenaikan gas elpiji 12 kg serta menjelaskan pd masy.” – 4 Jan 2014, 09.33 AM.

Itulah sepenggal kalimat dalam akun Twitter Presiden SBY.

Pesannya jelas: agar Wapres memanggil Pertamina terkait dengan kenaikan harga elpiji.

Hal itu ditulis Presiden SBY untuk para follower-nya di dunia maya.

Tapi apakah Wapres menjadi follower akun SBY?

Apakah menteri yang harus langsung action setelah membaca tweet ini merupakan follower SBY?

Hmmm… Tuhan hanya tersenyum, bergumam, “aya-aya wae SBY ini.”

Sepertinya jalur tak standar kalau menteri terkait soal elpiji mengikuti perintah lewat Twitter.

Tidak juga Wapres.

Beberapa jam setelah itu, isu kenaikan harga elpiji menjadi topik hujatan dan topik cuci tangan.

Maka media pun meriah.

Di media daring, dalam sehari bisa muncul belasan – jika bukan puluhan – berita saling tuding dan saling komentar.

Setelah 3-4 hari saling lempar pernyataan, syukurlah, akhirnya ada keputusan soal kenaikan harga elpiji yang kecil saja.

Tapi ada pembelajaran penting dari cara berkomunikasi para tokoh publik dan selebritas media di Indonesia.

Dalam dunia komunikasi, ada beberapa cara menghindar dari hujatan, tudingan, ataupun fitnah.

Pertama, apologia, pernyataan untuk membela diri dari tudingan, tapi tidak perlu menempatkan diri pada posisi bersalah.

Pernyataan Menteri ESDM, yang mengatakan “saya tidak tahu-menahu” itu contoh sempurna apologia.

Begitu juga pernyataan Menko Ekonomi, bahwa kenaikan harga elpiji adalah corporate action Pertamina, pemerintah tidak bisa terlalu intervensi.

Nah, gabungan dua pernyataan ini disebut non-apologia apology.

Dalam konteks Indonesia, istilah populernya adalah cuci tangan, pakai sabun.

Bagi politikus, kenaikan harga elpiji yang tak terkontrol ini menjadi kuda tunggang lengkap dengan pelana.

Setelah menyikapi secara kritis soal kenaikan harga, Priyo Budi Santoso dari Golkar menambahkan bahwa klaim Pertamina yang terus merugi harus diaudit.

Dia juga menegaskan kenaikan harga sebaiknya tidak di saat seperti sekarang karena masyarakat baru dibebani oleh kenaikan harga BBM.

Priyo kecewa, tapi tidak jelas apakah dia setuju atau tidak.

Adapun Ibas dari Demokrat menjelaskan dalam rilisnya bahwa kenaikan harga ini akan memicu inflasi, dengan contoh kenaikan harga BBM tahun lalu dengan banyak penjelasan.

Pernyataan politikus seperti ini pas dalam kategori teori difusi, pernyataan yang tidak jelas arahnya.

Mau mengiyakan, tapi tidak mau terlalu mengiyakan.

Ingin menolak juga tidak jelas-jelas menolak.

Difusi memang jenis pernyataan yang dibuat membingungkan karena dibuat sambil naik kuda tunggang.

Ucapan sambil naik kuda kedengaran seperti bergumam, tak jelas.

Satu hal harus dipahami bahwa setiap pernyataan yang Anda sampaikan akan berdampak.

Dampak pernyataan bisa pada kredibilitas, kepercayaan publik, serta reputasi.

Dari berbagai pernyataan pejabat, sudah banyak pernyataan yang lebih banyak tidak memberikan kejelasan.

Diffusion-lah, apalagi yang sifatnya saling lempar tanggung jawab.

Secara keseluruhan, komunikasi selama isu kenaikan harga elpiji ini menegaskan amburadulnya koordinasi antardepartemen di pemerintah.

***** Kolom/artikel Tempo.