Lokasi Rumah Korban Cimanuk Garut Sangat Mencekam

by
Ny. Sutirah Tunjukan Rumahnya Sama Sekali Belum Terpasang Meteran Listrik.

“28 dari 42 Unit Sejak Diserahklan Bupati Belum Berlistrik”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Senin, 09/10 – 2017 ).

Ny. Sutirah Tunjukan Rumahnya Sama Sekali Belum Terpasang Meteran Listrik.

Sejak Diselenggarakannya penyerahan kepemilikan oleh Bupati Rudy Gunawan pada Rabu (20/09-2017), lingkungan seluruh lokasi rumah tapak bagi korban terdampak puncak amuk Sungai Cimanuk, 20 September 2017 silam tersebut. Hingga kini berkondisi sangat mencekam.

“Terutama mulai sore hingga sepanjang malam setiap harinya, lantaran lokasi rumah yang subagian besar masih dikepung areal persawahan ini, sama sekali belum dilengkapi ‘lampu penerangan jalan umum’ (PJU),” ungkap beberapa penghuni tetapnya termasuk Ny. Sutirah (47) kepada Garut News, Senin (09/10-2017).

Kondisi lingkungan seluruh lokasi sangat gelap gulita itu, juga semakin diperparah hanya 14 unit rumah di antaranya dari seluruh 42 unit rumah dibangun yang teraliri listrik, mengakibatkan kini jumlah penghuninya masih bisa dihitung dengan jari.

Ny. Yulia Nuryani.

Sedangkan 28 unit lainnya sama sekali masih belum terpasang meteran listrik sekalipun, menyebabkan banyak penghuni pemiliknya terpaksa masih belum menempati.

Mereka termasuk Ny. Yulia Nuryani(33) beserta seorang anaknya masih terpaksa kini masih mengontrak rumah di Kampung Cimacan.

Ny. Sutirah beserta dua anak yang masih lajang, mengaku terpaksa menempati pemberian rumah tapak, sebab beban ekonominya sangat berat jika harus mengontrak lagi, seperti setelah diharuskan keluar dari hunian sementara Rusunawa Al Musadaddiyah, juga terpaksa mengontrak rumah selama empat bulan dengan biaya Rp300 ribu setiap bulan.

Ny. Sutirah bersama suaminya korban bencana dari Kampung Leuwidaun Jayawaras Tarogong Kidul, seluruh bangunan rumahnya rata dengan tanah. Seluruh harta miliknya pun raib terbawa hanyut, termasuk ibu kandungnya Ny. Nani (70) ditemukan meninggal tujuh hari kemudian di Waduk Jati Gede Sumedang.

Suami Ny. Sutirah kini bekerja sebagai buruh di Kecamatan Samarang, sedangkan dirinya menjadi pembantu rumah tangga di Komplek Perumahan Nusa Indah.

Dalam pada itu, Ny. Yulia Nuryani, salah satu dari sekitar 46 kepala keluarga (KK) atau 182 penduduk termasuk keluarga Ny. Sutirah yang sempat selama sembilan bulan  menempati pengungsian Rusunawa Al Musadaddiyah, selanjutnya keluar dari Rusunawa sebab dipakai kembali oleh pemiliknya.

Ny. Yulia Nuryani kehilangan tempat tinggal, juga tiga orang kesayangannya direnggut amuk banjir bandang menjelang tengah malam disertai hujan sangat deras di Kampung Cimacan.

Ketiga orang kesayangan Nuryani ini, masing-masing anak bungsunya Fika(4) sempat hanyut tergerus terjangan banjir bandang kemudian bisa diketemukan namun berkondisi meninggal dunia, kemudian suaminya Supriatna(34), serta adik kandungnya atas nama Fitriani(9) pelajar Sekolah Dasar juga meninggal dunia.

Berhasil bisa selamat selain dirinya juga anak sulungnya atas nama Fajar pelajar kelas tiga MTs Al Musadaddiyah, yang memang selama ini mahir berenang.

Sebanyak 42 unit rumah tapak di Blok Kopi Lombong Kelurahan Sukagalih Tarogong Kidul tersebut, bakal dihuni sekitar 30 unit di antaranya oleh para korban terdampak banjir bandang berasal dari Asrama Tarumanagara, depan Lapangan Paris Garut.

Selebihnya antara lain dihuni korban dari Kampung Cimacan, serta asal Kecamatan Tarogong.

Sedangkan para donaturnya, di antaranya 10 unit rumah bantuan pembaca PR, lima unit rumah bantuan TP. PKK kabupaten setempat, masing-masing tiga unit rumah bantuan alumni SMA Negeri 3 Bandung, serta dari alumni SMA Negeri 1 Garut, juga terdapat bantuan dari “Pos Keadilan Peduli Umat” (PKPU).

 

*******