Komoditi Bersubsidi Masih Banyak Dinikmati Penduduk Kaya

0
28 views
Berdikarjaya, SE, MM.

Garut News ( Senin, 05/03 – 2018 ).

Berdikarjaya, SE, MM.

Hingga kini ragam komoditi maupun mata dagangan bersubsidi, ternyata masih banyak dinikmati penduduk kaya. Sedangkan masyarakat miskin kerap tak kebagian saat hendak melakukan transaksi pembelian, yang mendesak segera bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Fenomena gunung es yang acap hanya nampak di permukaan tersebut, antara lain pada komoditi bersubsidi gas elfiji berkapasitas isi tabung tiga kilogram.

Bahkan kini juga kadangkala dialami ketika hendak membeli bensin premium di SPBU, tetapi terpaksa mengisi BBM yang tak bersubsidi. Lantaran barang bersubsidinya telah kehabisan.

Kepala “Badan Pusat Statistik” (BPS) Kabupaten Garut, Berdikarjaya, SE, MM di ruang kerjanya, Senin (05/03-2018), katakan tak signifikan dampak kenaikan BBM nonsubsidi yang dimulai 24 Februari 2018 lalu tersebut.

Nilai inflasinya pun diperkirakan bisa dilihat pada April 2018 mendatang, ungkap Berdikarjaya.

Sedangkan hingga akhir pekan kemarin. Langkah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi (pertamax series) mulai Sabtu, 24 Februari 2018, sempat menuai banyak kritikan keras.

Sebab, kebijakan BUMN bidang energi itu minim sosialisasi. Kenaikan harga BBM dinilai secara diam-diam, tanpa pemberitahuan kepada masyarakat sebagai konsumen. Sehingga konsumen merasa haknya ditabrak.

Pertamina merasa memberikan pengumuman di SPBU maupun website resmi Pertamina.

Keputusan itu sesuai ketentuan dalam Perpres RI Nomor 19/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak ditandatangani Presiden Joko Widodo, 31 Desember 2014.

Pertamina menaikkan harga pertamax dari Rp 8.800 per liter menjadi Rp 9.100 per liter. Sedangkan jenis pertamax lainnya, yaitu Pertamax Turbo menjadi Rp 11.300 per liter dari sebelumnya Rp 10.800 per liter. Sementara Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing naik Rp 600 per liter dan Rp 750 per liter.

 

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.