You are here
Komentar Acak ARTIKEL 

Komentar Acak

Ignatius Haryanto, Peneliti Media

Garut News ( Senin, 16/12 ).

Ilustrasi, Cuap-Cuap. (Foto: John).
Ilustrasi, Cuap-Cuap. (Foto: John).

Salah satu acara televisi yang digemari kaum muda belakangan ini adalah The Comment, yang dibawakan oleh dua pembawa acara, yaitu Darto dan Danang.

Keduanya adalah penyiar radio anak muda yang kemudian ditarik untuk membuat acara di televisi.

Ada banyak kegilaan anak muda dan kreativitas yang membuat acara ini cepat digemari anak muda zaman sekarang.

Isi acaranya sebenarnya sederhana, yaitu mengomentari macam-macam hal di sekitar mereka, dipadu dengan aneka video dari YouTube untuk memeriahkan komentar-komentar mereka.

Nanti, dengan cara mereka sendiri, penonton di studio diminta berpartisipasi untuk meledek lawakan yang kurang lucu-biasanya yang disasar adalah Danang-atau penonton di rumah diminta melakukan voting atas tingkah kedua pembawa acara tersebut.

Keduanya biasa memanggil para penggemar mereka dengan sebutan “The Commenters”, baik kepada mereka yang hadir di studio maupun yang menjadi penonton di layar televisi. Entah berapa lama acara ini masih akan terus jadi kegemaran anak muda zaman sekarang.

Ahad kedua November lalu, Karlina Supelli mengucapkan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Tuan rumah acara ini adalah Dewan Kesenian Jakarta.

Acara ini berlangsung dalam rangka ulang tahun TIM.

Judul pidato itu adalah “Kebudayaan dan Kegagapan Kita”.

Pidato tersebut sangat menarik, dan yang lebih menarik adalah pidato ini tak mau berhenti sebagai macan kertas belaka.

Pada bagian belakang pidato sepanjang 40 halaman itu, disebutkan “delapan siasat sebagai suatu kemungkinan”.

Karlina menulis siasat pertama demikian: “Ruang-ruang publik kita sudah terlalu gaduh dengan komentar dari siapa saja yang bisa menjadi pakar bidang apa saja untuk segala persoalan yang sedang kita hadapi. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi selebritas, asal tidak membuat masyarakat kehilangan pegangan, kalau bukan malah berbalik menganggap sepele persoalan serius yang sedang menjadi perbincangan. Tugas kebudayaan para budayawan dan kaum intelektual adalah menghidupkan kembali, pada aras praktek, perbedaan yang ketat antara komentar-komentar acak dan pemikiran yang mengakar dalam perenungan yang mendalam.”

Kalimat pengajar di STF Driyarkara ini sungguh menonjok.

Komentar-komentar acak.

Itu kata kuncinya dan saya pun diam-diam merasa malu karena terkadang terlalu cerewet di media sosial untuk urusan yang agak remeh-temeh.

Sebelumnya, Karlina menyitir data terakhir: “Jakarta adalah kota yang paling cerewet di dunia. Pengguna Twitter nomor satu di dunia saat ini, dengan 15 tweet per detik.”

Astaga, kita ini terlalu banyak berkomentar daripada bekerja sesungguhnya, untuk berbagai macam masalah.

Saya jadi malu karena mereka yang sungguh-sungguh bekerja biasanya jauh dari ingar-bingar dunia media sosial.

Mereka yang sungguhan bekerja juga biasanya tidaklah narsis untuk menggembar-gemborkan karya.

Saya berjanji dalam hati untuk mengurangi kecerewetan dalam media sosial, walau itu bukan perkara mudah.

Terlalu banyak yang memang perlu dikomentari. *

***** Kolom/artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment