Klaster Keluarga Berperan Dominan Penularan Covid-19 di Garut

0
29 views
Nikmati Rehat Siang Bersuasana Sangat Menyenangkan. Dengan Busana Muslimah yang Juga Sangat Menyehatkan.

“Ponpes Yadul ‘Ulya Ketat Terapkan PHBS”

Garut News ( Senin, 14/09 – 2020 ).

Ternyata klaster keluarga juga berperan dominan dalam penularan Covid-19 di Kabupaten Garut. Bahkan penyebarannya pun terendus sejak awal merebaknya pandemi predator maut tersebut.

Berdasar catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kabupaten setempat, hingga 13 September 2020 dari 125 kasus positif wabah itu. Keluarga menjadi klaster penyebarannya mencapai 34 kasus. 16 kasus di antaranya diketahui masih aktif.

Senantiasa Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Klaster keluarga terjadi ketika salah satu anggota keluarga beraktivitas di luar rumah ternyata membawa pulang virus. Ironinya tak semua terinfeksi menunjukkan gejala melainkan ada pula tanpa gejala.

Malahan merasa sehat, dan baik-baik saja. Padahal dirinya merupakan carrier virus menularkannya kepada anggota keluarga lain tinggal dalam satu rumah.

Ada Agro Park di Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Koordinator Bidang Perencanaan Data Pakar dan Analisis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 juga Sekdis Kesehatan Leli Yuliani katakan, ada beberapa faktor domain penyebab penyebaran pada klaster keluarga.

Antara lain ada anggota keluarga beriwayat perjalanan dari luar kota, atau sebelumnya pernah berkontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif. Juga tingkat kepadatan dan keeratan kontak dalam lingkungan rumah, serta mobilitas keluarga ke luar rumah, seperti acara keluarga dengan keluarga lainnya.

Pemeriksaan Kesehatan Terhadap Pejabat Garut.

“Perilaku penerapan protokol kesehatan di keluarga masih lemah pun menjadi faktor domain (penyebaran Covid-19 pada klaster keluarga),” katanya, Senin (14/09-2020).

Mencegah penyebaran klaster keluarga di kabupatennya ini, ungkap Leli, Gugus Tugas Percepatan Penanganan melakukan pelbagai upaya penanganan. Di antaranya mengisolasi kasus ke rumah sakit; melaksanakan tracing dan tracking kontak erat.

Nikmati Ketenangan.

Juga skrining dengan pengambilan sampel swab pada kontak erat; peningkatan edukasi dan sosialisasi masyarakat mengenai risiko dan antisipasi stigma (negatif); pemantauan karantian 14 hari pada kontak erat, dan berkoordinasi lintas sektor.

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan menunjukkan pula, pasien terinfeksi Covid-19 di kabupaten tersebut terdiri usia satu hingga 75 tahun.

Bernuansakan Islami.

Dari 125 kasus positif, terdapat sembilan di antaranya pasien berusia 15 tahun ke bawah, termasuk lima pasien anak di bawah usia lima tahun (balita). Sedangkan berusia 60 tahun ke atas mencapai delapan pasien. Selebihnya didominasi usia produktif.

“Ketat Terapkan PHBS”

Dalam pada itu, para santri di lingkungan Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut kini semakin ketat menerapkan ‘perilaku hidup bersih dan sehat’ (PHBS).

Bahkan setiap santri putrinya pun, selain senantiasa mengenakan busana muslimah. Juga selalu maksimal berupaya meningkatkan kualitas imunitas.

Antara lain mengonsumsi asupan gizi berimbang yang dijamin halal, serta kerap menikmati suasana menyenangkan seperti halnya mengunjungi wahana ‘agro park’ di lingkungan pondok pesantrennya.

******

Abisyamil, JDH/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here