Kita yang Membutuhkan Ramadhan

0
8 views
Agung Sasongko. (Foto: dok. Republika).

Rabu 12 Jun 2019 05:09 WIB
Red: Joko Sadewo

Itikaf pada Sepuluh Hari Jelang Akhir Ramadlan. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Ramadhan memudahkan kita untuk belajar menjadi taqwa”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Agung Sasongko*

Tak terasa, bulan Syawal tiba, hari kemenangan pun datang. Sebulan penuh bulan pendidikan spiritual telah dijalani. Harapannya tentu saja, agar menjadi pribadi bertaqwa.

InsyaAllah. Setiap Syawal tiba, saya selalu bertanya-tanya, seandainya Allah SWT tidak memberikan kita Ramadhan apa yang akan terjadi?. Apakah kita merugi atau kita beruntung. Mungkin bisa disimak, pengandainya pada tulisan ini.

Sebelum puasa, mungkin kita adalah pribadi yang tak pernah shalat Tahajud, lalu dengan datangnya Ramadhan, kita jadi lebih mudah untuk melaksanakan Tahajud dikarenakan bangun malam hari untuk menunaikan sahur. Lalu, ada sebagian dari kita yang mungkin shalat Shubuhnya lebih banyak di akhir waktu.

Nah, ketika Ramadhan tiba, kita akan shalat Shubuh awal waktu. Syukur-syukur shalat Shubuhnya berjamaah. Ada juga sebagian dari kita, yang sebelum Ramadhan tak pernah menyentuh Alquran, lalu Ramadhan tiba dan sekolah atau tempat kantornya bekerja menganjurkan membaca Alquran sebelum jam kerja tiba.

Contoh lain, sebagian dari kita mungkin tak pernah berzakat. Lalu dengan datangnya Ramadhan, kita pun akhirnya menunaikan zakat fitrah. Lainnya, ada sebagian dari kita yang mungkin tak pernah melaksanakan iktikaf di masjid, karena Ramadhan tiba, mulailah ia menyisihkan sedikit waktunya untuk beriktikaf di masjid.

Contoh lain lagi, ketika sebelum Ramadhan, ia selalu menolak bertugas menjadi amil karena alasan tak memiliki ilmu. Lalu, amil yang biasanya bertugas mendadak pulang kampung. Praktis tinggal ia yang diamanahkan menjadi amil. Lalu jadilah ia amil zakat fitrah, meski harus terbata-bata membimbing muzaki untuk niat zakat fitrah.

Contoh hal lain setiap Ramadhan jelang berbuka, begitu banyak pedagang yang menyajikan panganan iftar. Meski setiap pedagang memiliki variasi jajanan yang sama, toh mereka tak kehabisan pembeli.

Jalanan yang sebelumnya sepi dari pedagang mendadak ramai, kita yang tak sempat masak untuk sajian berbuka pun tak kesulitan. Tinggal beli saja. Ini belum termasuk aktivitas yang kita lakukan bernilai ibadah. Setiap ibadah diganjar pahala. Momentum bulan inilah, kran pahala bakal lancar.

Melihat dari contoh-contoh tersebut, keistimewaan Ramadhan sebagai bulan pendidikan tidak diragukan lagi. Kita diingatkan untuk terus menjadi pribadi bertakwa (Al-Baqarah 2: 183). Kalau pun Ramadhan ini belum berhasil tentu akan ada Ramadhan berikutnya untuk kembali mengingatkan kita lagi.

Kalau memang tidak ingat-ingat juga, berarti ada yang salah dari diri kita ketika menjalaninya. Islam adalah agama yang penuh rahmat. Begitu luar biasanya rahmat itu dapat dengan mudah kita saksikan di bulan ini.

Allah SWT menyiapkan pahala tanpa batas bagi mereka yang berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman: Kecuali amalan puasa. Amalan tersebut untuk-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.”

Jadi, kitalah yang membutuhkan Ramadhan. Bulan suci ini merupakan anugerah yang luar biasa diberikan kepada umat Islam. Tentu saja kita berharap agar dapat bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun-tahun yang akan datang.

Selamat hari raya Idul Fitri, semoga Allah menerima segala amal ibadah yang kita kerjakan sehingga ampunan, rahmat, dan keberkahan menyertai kita semua. Wallahualam bis shawab.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here