Kita Dikuras Smartphone

0
31 views
Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dok.Istimewa).

Sabtu 20 January 2018 01:30 WIB

“Penelitian menyatakan dalam sehari semalam pemilik smartphon berinteraksi 65 kali”

Red: Agus YuliantoREPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dok.Istimewa).

Telepon di temukan tahun 1849, seratus tahun kemudian, hanya bupati dan wedana yang biasa pegang telepon. Tahun 1990, yakni 40 tahun setelah itu, televisi sudah ada di setiap rumah, tetapi telepon hanya dimiliki orang kaya. Tahun 2010, dua puluh tahun kemudian, tukang gali sumur, penjual bubur ayam, tukang becak, semuanya pegang telepon. Kini, HP yang dulu disebut telepon genggam sudah di sepak-sepak, ganti telepon pintar, smartphone.

Produk teknologi berkembang cepat. Bila dibuat grafiknya, orang-orang “sekolahan” menyebutnya sebagai fungsi eksponensial. Bila dalam pertumbuhan penduduk dikenal Hukum Maltus, deret ukur, pertumbuhan teknologi ada Hukum Moore.

Di sisi lain: manusia belum banyak berubah. Bentuk-bentuk organisasi dan manajemen kehidupan, proses yang terjadi pada individu baik kemampuan otak maupun jasmani dan rohani, sampai kemampuan adaptasi, selalu berjalan linier, bahkan logaritmik. Sangat lambat dibanding dengan perkembangan teknologi.

Ada jurang yang menganga antara pertumbuhan teknologi dengan kemampuan manusia. Apa akibatnya?

Smartphone tadi, tampilannya eksotis, menyerap perhatian dengan kecerahannya yang menawan. Menggiurkan karena seluruh dunia ada di dalamnya, Twitter, gadis cantik, Google, kenang-kenangan sesama teman sekolah dulu, musik, bioskop, sampai gosip selebriti.

Sebagian besar kita terlena. Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa dalam sehari semalam, pemilik smartphone berinteraksi 65 kali. Dan waktu yang dihabiskan berkisar 2,5 jam. Penelitian oleh sebuah institusi pemasaran di Indonesia lebih mengejutkan : 5 jam.

Dibanding dengan pertumbuhan teknologi, manusia sangat lambat menyikapi efek buruk yang ditimbulkannya. Mungkin ada yang berkata bukan lambat, tetapi memang tidak sempat menilainya. Para produsen (tentu saja kapitalis) telah memborbardir iming-iming fitur nyaman, canggih, dengan penggunaan yang mudah. Setiap hari ditawarkan hal-hal baru. Anda butuh nasi gudek Yogya? Masakan Padang? Atau tiket sepak bola. Tetap diam di kursi di rumah, cukup satu klik, semua beres.

***

Kesenjangan tadi, jurang antara perkembangan teknologi dan kemampuan individual manusia, membuat pemilik smartphone bergantung kepada benda tipis itu. Ketergantungan yang membuat mereka tak berdaya. Bukan gagap, tapi linglung, mengekor saja.

Studi University of Waterloo di Ontario pada tahun 2015 menyatakan, pengguna smartphone merupakan pemikir intuitif, yakni orang-orang yang menggunakan mesin pencari untuk menemukan solusi. Di sana diperoleh “efisiensi”, nyaman, dan praktis.

Tanpa disadari smartphone menempatkan otak manusia hanya sebagai “Decoders of information”, mengolah dan mengubah informasi menjadi lebih luas tapi dangkal. Sama sekali tidak memperdalam kemampaun otak, memang mampu meluaskan teks, tapi tidak menafsirkan teks. Memang dengan cepat mendapatkan impuls mental dari berbagai informasi, tapi tidak membuat koneksinya.

Otak tidak lagi terlatih, hati tidak diasah. Orang tidak pernah menghafal nomor telepon istri dan anak-anaknya. Tidak mau menghafal letak rumah dan peta jalan, semuanya ada di GPS. Seorang ayah tidak lagi perlu mengingat pesanan istri, apa yang harus dibeli untuk anak-anak di rumah ketika pulang kerja. Ada aplikasi satu klik yang akan membelikannya dan mengantarkan ke rumah. Silakan ayah menghapus ingatan tentang rumah, tentang istri dan anak. Yang di rumah juga tidak perlu lagi menunggu penuh kerinduan dengan sorak-sorai anak-anak bergembira menyambut ayahnya datang.

Nah, satu pelangi keindahan tentang kemesraan keluarga telah tercoret.

Journal of Experimental Psychology tahun 2015 mengadakan eksperimen dengan 166 relawan untuk diteliti, menemukan bahwa fokus perhatian menjadi goyah saat telepon berbunyi. Akibatnya hasil pekerjaan relawan menurun secara signifikan, lebih turun bila mereka tidak menjawab panggilan.

Di tempat lain, relawan pengguna smartphone sebanyak 800 menjalani serangkaian tes yang membutuhkan konsentrasi penuh dan kemampuan kognitif terukur saat duduk di meja kerja. Sebagian diminta meletakkan ponselnya di ruangan lain. Sebagian yang lain silahkan dengan ponsel di dekat mereka. Hasilnya, relawan yang meninggalkan ponsel mereka di ruangan lain secara signifikan mengungguli orang-orang dengan ponsel yang dekat dengan mereka

Artinya: Berdekatan dengan ponsel pintar, daya otak menurun. Bukan hanya daya berpikir otak, kepekaan hati juga ditipiskan. Keindahan bentang bukit dan lembah ataupun kesedihan bencana alam yang seharusnya mengasah perasaan, segera berubah dan jatuh menjadi sekedar latar belakang selfie.

Tidak berarti smartphone harus ditendang, smartphone memang memberikan kemudahan untuk memahami isi dunia, melalui koneksi, validasi, tawa dan informasi. Kesedihan Rohingya, duka Palestina membuat umat bisa menyatu menghadapinya dengan doa dan kepedulian.

Smartphone hanya sebuah alat, seperti juga pisau, sepatu atau semir rambut. Tergantung bagaimana kita memandang dan menyikapinya. Tidak perlu terlanjur tiga jam di televisi setiap petang. Juga tidak usah terlanjur menatap smartphone dengan satu jam di Twitter sampai WA, satu jam mengamati berita terbaru, setengah jam lagi mencermati produk terbaru, lalu… Setengah jam lagi tentang selebriti. Dan ada yang lupa.. tambah satu jam untuk menjawab atau menampilkan diri di Facebook maupun Instagram.

Total berapa jam? Bukan hanya waktu yang hilang, tapi kita juga harus membayarnya dengan kemunduran kemampuan otak dan hati. Segalanya dikuras.

Kelak di akhirat bila ditanya: Umurmu untuk apa? Tak bisa lain kita menjawab: Untuk memuaskan diri, mendayung kesenangan mendapatkan informasi.

Setan yang di belakang kita terkekeh-kekeh. Berteriak kepada malaikat, “Sama saja…. sama saja. Ada yang memuaskan diri dengan harta, ada yang memuaskan diri dengan informasi…. Tak usah ditanya lagi, langsung saja lempar ke neraka.”

Kita hanya bisa kecut. Ya, Allah. Ampuni kami.

*) Penyuka sastra dan teknologi, di Jember.

*********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here