Kita dan Gadget

by

Candra Malik, Musikus

Jakarta, Garut News ( Selasa, 10/12 ).

Foto : John.
Foto : John.

Kita bercengkerama tentang kemanusiaan sambil mencolek pucuk es krim sebelum tenggelam ke dasar gelas dan menyendok cheescake.

Dengan gadget terbaru, ada saja momen menarik yang bisa dikabarkan pada dunia.

Kita kini pemotret ulung.

Semua harus tahu bahwa ada dua kakak-adik duduk di emper jalan, yang kita temukan dari balik kaca kedai berkelas, yang di daun pintunya bergantung papan bertulisan “pengamen dilarang masuk”.

Asap mengepul, menelusup ke relung-relung paru-paru siapa pun di sana, juga mereka yang di ruang dengan penyejuk udara karena pintu dibuka-tutup melulu oleh lalu-lalang orang.

Di dalam situ, mungkin mereka juga ngobrol hal-hal yang kurang lebih sama, mungkin soal alangkah baik jika bumi bebas dari asap rokok.

Entah apakah mereka menyinggung soal bahaya freon AC dan efek rumah kaca bagi kehidupan.

Di sini, segala tema bercampur aroma aneka santapan dan parfum, pun gairah hedon kita.

Sambil memesan menu tambahan, kita membahas tema terbaru tentang para pengemis yang ternyata berpenghasilan lebih besar daripada gaji eselon ataupun partikelir.

Kita semakin yakin bahwa belas kasih kepada orang-orang yang tampak melarat itu salah alamat.

Lebih baik dana sedekah dipercayakan kepada organisasi-organisasi yang konon nirlaba itu-dan memiliki akses langsung ke loket pahala dan surga.

Bisa minta nama kita dicantumkan.

Remaja sekarang tak seperti kita dulu.

Mereka memotret kecepatan mobil.

Ini jelas saja tak bisa kita lakukan.

Bukan karena kita tak punya nyali.

Menjawab pesan pendek di telepon seluler saja sudah menyita banyak waktu.

Tangan kita cuma dua, yang satu harus fokus memegang setir, yang satu lagi masih harus sibuk memencet tombol-tombol di gadget.

Kita sama: tak terlalu suka pada sopir.

Tarif tutup mulutnya terlampau mahal, kan?

Seandainya mengajak sopir, bagaimana bisa kita jumpa di jam kantor begini?

Rahasia-rahasia pejabat saja bocor ke penyelidik korupsi gara-gara para sopir bisa dibeli, apalagi rahasia kita?

Belum lagi kalau sopir mengadu ke istri kita di mana kita tidur siang, bisa berabe.

Bahkan kita harus memikirkan ulang untuk tidak dulu ke rumah kos eksekutif yang sudah tahunan kita sewa.

Musim berita hari-hari ini sedang tak bagus untuk reputasi dan karier kita.

Pun harus berhenti dulu mengutip kata-kata mutiara, terutama yang bersajak dan berima.

Berhenti dulu berlagak flamboyan, merayu, bersikap manis, dan bersilat lidah pada kenalan-kenalan dalam pergaulan.

Kita kadangkala juga harus ingat betapa kita sudah berumur.

Sudah waktunya mulai merencanakan pembangunan rumah ibadah untuk umat agar kesalehan sosial kita dikenang dan darma tidak terputus.

Sekaligus untuk mencuci uang kotor.

Jangan terlalu pelit juga menaruh satu-dua lembar duit kertas lusuh di meja kedai.

Kita harus tahu berterima kasih kepada pramusaji yang sedari tadi sabar kita goda.

Besok, kita lanjutkan obrolan lagi di kafe lain, ya.

Harus tentang tema yang sedang panas.

Dari mencampuri urusan rumah tangga orang lain, misalnya, siapa tahu kita bisa menulis blog dan memenangi lomba kepedulian.

Tidak perlu terlalu perhatian pada tik-tok politik parlemen dan Istana.

Mereka sama saja.

**** Kolom/artikel : tempo.co