Kita Bisa Ikut-ikutan Kejam

by
Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

Sabtu , 14 Oktober 2017, 04:35 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

********* Las Vegas. Kota judi itu menangis tatkala Paddock menyebar peluru delapan biji per detik kepada penonton festival musik. Hanya 10 menit, senapan serbunya merenggut 58 nyawa dan lebih dari 500 orang luka.

Kejam? Ya. Adakah yang lebih kejam? Ada. Dua orang memegang parang, tombak atau pedang, ketika salah satu senjata mengenai lawannya, darah segar mengucur. Ada wajah meringis menahan sakit, wajah lainnya tertawa. Sorak penonton mengudara, menginginkan pertandingan lebih seru. Lebih banyak pedang beradu, lebih banyak luka menganga, lebih banyak darah segar menyebar. Sorak itu membahana bila salah satu petarung dilibas tanpa bisa mengelak, mungkin lengan yang putus dan berikutnya kepala yang menggelinding.

Gladiator, manusia diadu seperti jangkrik. Siapa yang kejam? Petarung, penonton, atau raja beserta keluarganya?

Adakah yang lebih kejam lagi? Ada, banyak. Orang ingat Hitler, berkumis kecil hampir segi empat di wajah kering, andaikan tidak melotot seiring pidatonya, ia hanya petani kurus pedesaan Jerman. Tapi Hitler kalah angka dibanding Stalin. Penguasa komunis Uni Soviet ini melalui eksekusi atau kerja paksa mencabut sekitar tiga juta nyawa. Bila korban kelaparan dan kedinginan juga dihitung, total 15-20 juta.

Angka Stalin masih di bawah Mao Zedong. Sepanjang sejarah, tak ada yang mengalahkan angka kematian selama Ketua Partai Komunis Cina ini berkuasa. Lebih dari 30 juta orang meninggal.

***

Pertanyaan diajukan Stanley Milgram, psikolog sosial Yale University setengah abad yang lalu, sosok yang mengerikan apakah hanya Stalin dan Mao? Bukankah kekejaman itu juga dilakukan banyak orang, terbukti ribuan mesin algojo di bawah Stalin dan Mao melaksanakannya. Atau semua orang bisa kejam?

Kekejaman juga ada di Rwanda, Bosnia, dan masih terjadi di Rakhine sana, apakah kekejaman hanya menari di satu kepala: Ashin Wirathu? Dengar apa yang diucapkan Adolph Eichmann, salah satu mesin algojo Hitler, penjahat Nazi ini seperti tanpa bersalah, berkata ringan, “Aku hanya mengikuti perintah”.

Tahun 1971 Philip Zimbardo, psikolog di Stanford University mengadakan eksperimen. Sekelompok orang diberi tugas sebagai sipir penjara, dan kelompok lain berperan narapidana. Zimbardo berperan sebagai kepala penjara, yang berusaha mengkondisikan sebagai benar-benar penjara.

Permulaannya santai saja, karena penyandang narapidana menganggap hanya permainan peran. Eksperimen dijadwalkan 14 hari, tetapi di hari kedua sudah terjadi keributan, sipir bertindak sungguhan, narapidana melawan. Saat sipir bertindak lebih keras, narapidana tidak mau kalah, kerusuhan dan kekerasan tak terhindarkan. Zimbardo ikut larut, bertindak lebih ekstrem.

Beruntung, teman dekat Zimbardo yang juga psikolog ikut mengamati, ketika penjara bohong-bohongan tidak terkendali, Zimbardo diingatkan. Eksperimen dihentikan di hari kelima. Eksperimen ini terkenal luas dengan nama Stanford Prison Experiment, melahirkan istilah terkenal: Psikologi kejahatan, sekaligus sering disebut psikologi setan.

Apa artinya, orang bisa menjadi jahat, menjadi setan, kesetanan, karena lingkungan yang mendukung, karena kekuasaan yang disandang. Komunis memberi jalan bagi Stalin atau Mao dengan ribuan orang lainnya yang menyandang kekuasaan diperbolehkan berbuat kejam. Hasilnya: jutaan nyawa melayang.

Aneh, sampai hari ini orang masih bicara bahwa kekerasan lebih banyak terjadi atas nama agama. Seorang sejarawan, Profesor Frank Dikotter, menulis tentang China di bawah kekuasaan Mao dalam buku “Kelaparan Besar”. Mendapat Penghargaan Samuel Johnson pada tahun 2011 berupa hadiah £ 20.000. Buku nonfiksi itu mengisahkan langit dan tanah yang suram. Frank Dikotter mendapatkan catatan polisi China : ‘Nama pelakunya: Zhu Shuangxi, Maret 1960, korbannya: Suami dan anak sulung. Cara kejahatannya: mayat digali dan dimakan. Kelaparan menuntun ibu menjadi kanibal.

Bukan hanya itu. Di Hunan, seorang anak mencuri segenggam biji-bijian. Pembesar wilayah, Xiong Dechang, memaksa ayahnya mengubur anaknya. Tiga minggu kemudian ayah itu meninggal karena kesedihan.

***

Kekejaman ada di mana-mana, berpotensi di setiap dada manusia. Termasuk kita. Alquran menyatakan manusia diberi ilham, dua pengetahuan, jalan ketakwaan dan jalan keburukan (QS. As Syam: 8). Artinya, hari ini berakhlak baik-baik, tidak tertutup kemungkinan esok hari memilih jalan keburukan; menjadi kejam, membunuh. Bahkan bisa lebih curam, hatinya ditutup setan dengan membenarkan kekejaman yang dilakukan.

Seperti Stalin dan Mao yang tak pernah menyesal. Meski sempat sakit berbulan-bulan, tak ada berita penyesalan Mao sampai matinya. Stalin lebih tragis. Setelah makan malam bersama petinggi lainnya ia tidur. Pagi hari tak ada yang berani membangunkan. Sepi, semua takut. Malam harinya ada yang berusaha menengok, Stalin tergeletak di lantai, stroke berat. Diangkat ke rumah sakit dan bertahan empat hari. Di detik-detik akhir kehidupannya, putrinya Svetlana yang menunggu mengisahkan kebingungannya, atau merinding, “Ia tiba-tiba membuka mata, tampilannya mengerikan, sangat marah atau takut akan kematian. Mengangkat tangan kirinya, menunjuk ke atas. Mungkin mengancam. Lalu mati.”

***

Kita? Marilah berbahagia. Prison Experiment menyatakan, bergaul dengan kekejaman, menuntun ikut kejam, ikut jahat. Ikut kejam berarti menyakiti secara fisik maupun psikis, bisa dalam bentuk menumpahkan darah, menyiksa, menelantarkan, menyengsarakan rakyat lewat korupsi, menjadi lintah darat yang menghisap darah lewat riba, sampai hanya melihat (apalagi bersorak sorai) kekejaman yang dilakukan manusia kepada manusia lainnya.

Jalan setan mengajak kejam tidak hanya karena pergaulan. Banyak jalan lain, lewat depresi, lewat dendam dan dengki, putus asa, juga sepi. Bahkan jalan pergaulan juga bercabang. Bukan hanya pergaulan dengan manusia, bila seorang muslim bergaul dengan tontonan, buku, koran, internet yang tidak Islami, pasti menuntun pemikiran, perasaan, yang setapak demi setapak menjauhi Islam. Itu menuntun lebih jauh lantas tidak menyenangi islam, entah jilbab, entah gamis, tulisan Arab, bahkan tilawah dianggap kebisingan. Tidak jauh, setapak kemudian: Memusuhi islam.

Nah. Sikap tidak menyenangi apalagi memusuhi Islam, itu kejahatan, bukan hanya kejam terhadap Islam, tapi juga terhadap orang lain yang berusaha meneguhi Islam dan zalim terhadap diri sendiri dengan memuluskan diri masuk neraka.

Adakah itu kita? Keluarga kita? Sanak saudara kita? Semoga tidak. Semoga jangan. Ya, Allah tunjukilah kami ke jalan yang lurus dan ampuni kami. Amin.

*) Dosen di Jember.

*********

Republika.co.id