Kisah Tiga Pasang Kekasih Sebelum Berlayar

0
57 views

Jakarta, Garut News ( Ahad, 25/01 – 2015 ).

 

Ist.
Ist.

Duapuluhtujuh  Januari, 1949  kapal Taiping membawa 1500 penumpang penuh harap, penuh rasa cemas.

Kapal Taiping yang sesungguhnya  hanya bisa memuat 600 penumpang nekad menampung jumlah penumpang lebih dari dua kali lipat.

Malam itu, sekitar 1500 warga RRC berdesakan memaksakan diri untuk masuk ke kapal itu karena ingin bermigrasi ke Taiwan.

Perang saudara, perang ideologi dan segala macam pertikaian di dalam negara besar itu tak lagi memperhitungkan keselamatan.

Kapal itu berlayar melewati jam malam, hingga mereka terpaksa memadamkan lampu. Baru saja beberapa jam berlayar dalam gelap, Taiping menabrak sebuah kapal kargo dan perlahan tenggelam.

Seperti kapal Titanic untuk Inggris dan AS dan kapal Van Der Wijk untuk Hindia Belanda yang kemudian menginspirasikan para novelis dan sineas, kapal Taiping yang nahas ini juga mendorong sutradara John Woo menciptakan tiga kisah cinta yang kemudian akan berakhir di atas kapal yang akhirnya tenggelam itu dalam dua bagian panjang yang masing-masing berdurasi dua jam.

Berbeda dengan kapal Titanic yang bertabrakan dengan bongkahan es setelah empat hari berlayar—sehingga James Cameron bisa berkisah konflik cinta segitiga di atas kapal—kapal Taiping hanya sempat berlayar selama beberapa jam.

Tak heran jika John Woo mengabdikan begitu banyak cerita di darat sebelum nantinya berkisah pada tragedi kapal tersebut.

Adalah jendral Lei Yifang (Huang Xiaoming)  yang digambarkan berhasil menghajar pasukan Jepang pada tahun 1945, kembali ke Shanghai dengan kaki pincang.

Dengan percaya diri  Lei Yifang mengelus lantai dansa dengan primadona pesta Yun Fen (Song Hye-kyo) dan secepat pula itu sang jendral muda tampan (yang terlalu tahu dirinya ganteng) melamar dan mengawini si jelita.

Hanya dalam waktu sekejap sang jendral ditugaskan ke medan perang ketika kali ini yang harus dihadapi adalah “saudara” sendiri.

Ideologi bukan hanya membelah pasukan di bawah pimpinan Lei Yifang, tetapi membelah seluruh Cina dan kelak, dunia.

Pada saat RRC perang melawan Jepang, seorang dokter Taiwan Yan Zekun (Takeshi Kaneshiro) ditugaskan ke RRC untuk mengobati tentara yang terluka.

Selama peperangan itu, cita-citanya hanya satu: bertemu kembali dengan kekasih hatinya Masako (Masamo Nagasawa).

Hubungannya dengan perempuan muda Jepang itu tentu saja tak mulus, karena di masa itu Jepang identik dengan kekejian dan kekerasan di negara-negara Asia.

Persoalan cinta itu bukan hanya masalah geografis yang menghalangi Yan Zekun, tetapi juga masalah personal antara ibunya yang tak sekalipun bersedia menatap wajahnya.

Pasangan lain adalah seorang tentara bernama Tong Daqing (Tong Dawei) yang bersiasat dengan perempuan muda Yu Zhen (Zhang Ziyi).

Mereka berpura-pura kawin karena di masa itu, pasangan kawin akan lebih mudah untuk mendapatkan kupon makanan.

Sementara Tong Daqing ditugaskan ke medan perang di bawah pimpinan Jendral Lei Yifang menghadapi perang saudara; Yu Zhen mencoba bertahan hidup dengan menjual diri karena dia bercita-cita untuk naik kapal Taiping mencari kekasihnya.

Tiga pasangan dari berbagai kelas, tiga cinta yang sudah terasa bakal berakhir dengan tragis, dan John Woo yang biasa berjibaku dengan adegan fisik kini mencoba berkutat dengan drama yang kompleks berlatar belakang sejarah sebuah negara yang besar.

Tentu saja tak ada salahnya seorang sutradara laga berkecimpung dalam film drama cinta atau sebaliknya sutradara drama mencoba-coba membuat film laga; bukankah sutradara seperti Ang Lee dan Zhang Yimou sudah membuktikan mereka bisa membuat film dari genre apa saja?

John Woo sudah mencoba film Red Cliff  (2009), yang juga dibagi menjadi dua film yang panjang bukan buatan yang juga menyajikan martial art, sejarah dan peperangan.

Tetapi The Crossing mengandung beberapa problem tiga plot yang tak terlalu berkaitan.  Cerita pertama tentang Jendral Lei Feng dan isterinya sebetulnya menjadi dramatis karena persoalan ideologi dan “sumpah tentara” yang mengharuskan sang Jendral tetap bertahan di medan perang, meski dia tahu akan kalah.

Kisah tentara yang berpura-pura kawin itu berhasil menyatu dengan kisah sang jendral. Mereka bertemu di medan perang.

Tetapi kisah dokter Yu Zhen, meski sempat juga menyentuh peperangan Jendral Lei Feng melawan Jenag, akhirnya terlantar sendirian.

John Woo dan para penulis skenario seperti tak bisa memutuskan apakah mereka akan membuat omnibus atau tiga cerita yang akhirnya akan menyatukan para tokohnya.

Persoalan lain adalah para aktor dan aktris besar yang cantik dan ganteng itu lebih tampil seperti aktor dan aktris.

Huang Xiaoming  lebih gemar berpose sebagai jendral ganteng yang  rambutnya rapi kaku dan bersih selama di antara asap mesiu perang; Zhang Ziyi yang katanya miskin menderita dan terpaksa melacur wajah dan penampilannya seperti mahasiswa kelas menengah yang bersih dan cantik; Song Hye-kyo yang selalu saja tampil sebagai puteri jelita (baik dalam film The Grandmaster maupun film ini) memang cantik jelita tapi akhirnya membosankan karena hanya ada dua macam ekspresi: sendu dan sedih.

Akhirnya di antara kebosanan menghadapi dua jam yang melarat-larat itu, semula Takeshi Kaneshirolah yang paling lumayan penampilannya.

Ternyata belakangan, Kaneshiro yang sudah berusia 40 tahun itu harus berperan sebagai seorang remaja pada sebuah adegan kilas balik. Ah…John Woo…

Sekali lagi, tentu saja semua penampilan aktor-aktris ini ada urusannya dengan tangan sutradara. John Woo—di Indonesia dikenal dengan film Face/Off, Mission Impossible II dan terakhir Red Cliff I dan II— yang dahsyat dalam menghasilkan adegan laga itu nampak tak fasih dengan narasi kisah cinta.

Bagian pertama yang sudah mulai ditayangkan di bioskop Indonesia ini belum lagi menyentuh kapal Taiping yang bernasib buruk itu.

Kita baru berhenti pada tiga kisah cinta yang mendayu-dayu. Di akhir dua jam, kita dipersembahkan potongan adegan bagian ke dua: bagian perang saudara dan kapal Taiping.

Mungkin John Woo harus mengenali kekuatannya: bikin film laga saja.

Leila S.Chudori

The Crossing

Sutradara         : John Woo

Skenario          : Wang Hui-ling, Su Chao-pin, Chen Ching-hui, Woo.

Pemain            :  Zhang Ziyi, Takeshi Kaneshiro, Song Hye-kyo, Huang Xiaoming, Tong Dawei, Masami Nagasawa, Qin Hailu, Faye Yu, Tony Yo-ning Yang, Hitomi Kuroki, Yang Kuei-mei, Bowie Lam, Cong Shan, Angeles Woo, Yu Zhen, Wang Qianyuan, Lin Mei-hsiu, Jack Kao.

*********

Tempo.co

SHARE
Previous articleKPK
Next articlePergulatan Hadapi Tsunami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here