Kisah Patung Larantuka, dari Hilang Misterius hingga Dipamerkan di Australia

Garut News ( Jum’at, 26/09 – 2014 ).

Patung perunggu langka dari Larantuka yang menggambarkan sesosok perempuan yang menenun sambil menyusui bayinya. (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya).
Patung perunggu langka dari Larantuka yang menggambarkan sesosok perempuan yang menenun sambil menyusui bayinya. (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya).

Satu lagi benda cagar budaya Indonesia yang hilang ditemukan. Sayangnya, bukan pihak Indonesia yang menemukannya. Benda itu justru ditemukan tengah dipamerkan di museum Asia.

Benda cagar budaya itu adalah patung perunggu asal Larantuka. Patung menggambarkan sosok sosok ibu yang sedang menenun sambil menyusui bayinya.

Patung tersebut ditemukan sedang dipamerkan di Galeri Nasional Australia.

Cerita perjalanan patung perunggu dari Larantuka hingga sampai ke Galeri Nasional Australia panjang sekaligus belum diketahui runutannya secara pasti.

Diyakini, patung sempat berpindah ke banyak tangan.

Tahun 1977, patung diyakini berada di tangan seorang perempuan asal Larantuka. Ini diketahui dari bukti foto yang diterbitkan dalam buku “Fragile Traditions, Indonesian Art in Jeopardy” karangan Michael Taylor.

Entah bagaimana ceritanya, patung itu kemudian hilang. Patung diyakini hilang pada 1977. Sebabnya, setelah tahun tersebut, tak ada lagi dokumentasi terkait patung yang terbilang sangat berharga itu.

Menurut keterangan Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sempat akan meneliti patung perunggu itu.

Namun saat tim sampai Flores, warga mengatakan bahwa patung telah disita polisi untuk dijual ke luar negeri.

Ternyata, pada 2006, patung dibeli dan mulai dipamerkan oleh Galeri Nasional Australia. Galeri tersebut membelinya dari seorang kolektor Swiss dengan harga luar biasa mahal, 4 juta dollar AS.

Siapa kolektor Swiss itu? Tak jelas. Namun, Patrick O’Keefe, pakar benda cagar budaya dari University of Queensland, mengatakan kepada The Australian, Jumat (19/9/2014), kolektor itu bernama George Oritz.

Dia meninggal tahun lalu.

Selama 8 tahun berada di Galeri Nasional Australia, tak ada yang menyadari bahwa patung itu adalah patung ibu menyusui dari Larantuka.

Hingga kemudian The Australian mengungkap kebenarannya dalam laporannya baru-baru ini.

Pemberitaan The Australian menyatakan, sungguh aneh Galeri Nasional Australia tidak menyadari patung itu adalah patung ibu menyusui asal Larantuka.

Pasalnya, ada 31 eksemplar buku Fragile Traditions yang tersebar di Australia, dan satu di galaeri itu.

Jhohanes Marbun dari Madya dalam keterangannya kepada Kompas.com, Kamis (25/9/2014), menyesalkan sikap Galeri Nasional Australia yang membeli barang tanpa memedulikan asal-usulnya. Seharusnya, galeri itu melakukan penyelidikan terlebih dahulu.

Menurut Jhohanes, pemerintah Indonesia harus segera menyusun langkah strategis untuk mengembalikan tersebut ke Indonesia.

Sebelumnya, Galeri Nasional Australia juga menyimpan patung Dewa Shiwa yang menari dari India. Patung itu akhirnya dikembalikan secara cuma-cuma.

*******

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Related posts