Kisah Nabi Yaqub ‘Alaihissalam

0
1,272 views
Kisah Nabi Yaqub

Kisah Nabi Yaqub

Kisah Nabi Yaqub ‘Alaihissalam

Garut Newsa – Kisah Nabi Yaqub ‘alaihissalam adalah salah seorang di antara para nabi. Beliau adalah putera Ishaq bin Ibrahim ‘alahimas salam. Kelahiran Ya’qub telah disampaikan oleh para tamu Nabi Ibrahim yang terdiri dari beberapa malaikat dari istrinya Sarah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. “ (QS. Huud: 71)

Kisah Nabi Ya’qub secara panjang lebar akan diceritakan bersama kisah Nabi Yusuf, insya Allah. Oleh karena itu, kisah yang disebutkan di sini hanyalah sebatas pengantar saja.

Nabi Ya’qub dari sejak kecil hingga dewasa tumbuh dengan mendapatkan perhatian dari Allah dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, ia berjalan di atas jalan hidup ayahnya dan kakeknya. Nabi Ya’qub memiliki dua belas orang anak yang Allah sebut mereka dengan sebutan asbath (keturunan Ya’qub). Dari istrinya yang bernama Rahiil lahirlah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Bunyamin. Dan dari istrinya yang bernama Laya lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon.

Dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.

Di antara sekian anaknya, yang paling tinggi kedudukannya, paling bertakwa dan paling bersih hatinya, di samping paling muda usianya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadanya. Hal ini sudah menjadi tabiat, yakni ayah sangat sayang kepada anak yang paling kecil sampai ia dewasa dan kepada yang sakit sampai ia sembuh.

Kisah Nabi Yaqub adalah seorang ayah yang patut dijadikan teladan, dimana beliau mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik, memberikan nasihat kepada mereka dan menyelesaikan masalah mereka. Namun selanjutnya, saudara-saudara Yusuf dihasut oleh setan untuk berlaku jahat kepada Yusuf ketika mereka mengetahui perhatian ayahnya kepada Yusuf. Sampai-sampai mereka hendak membunuh Yusuf, namun kemudian sebagian mereka mengusulkan untuk melempar Yusuf ke sumur yang jauh agar dibawa oleh kafilah yang lewat dan menjadi budak mereka. Ketika Yusuf tidak kunjung pulang, maka Nabi Ya’qub bersedih dengan kesedihan yang dalam karena berpisah dengan puteranya, bahkan ia sampai menderita buta karena rasa sedih yang begitu dalam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikannya dapat melihat kembali.

Cerita Nabi Setelah berlalu waktu yang cukup lama, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam pun sakit, ia kumpulkan anak-anaknya dan berpesan kepada mereka agar tetap beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, demikian juga tetap beriman dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133)

Kisah Nabi Yaqub AS nangis hingga buta karena sedih kehilangan anak

Kisah Nabi Yaqub AS adalah putra dari Nabi Ishaq bin Ibrahim dan ibunya Rifqah binti A’zar. Nabi Yaqub AS memiliki saudara kembar bernama Al-Aish. Nabi Ishaq lebih menyayangi Aish dikarenakan dia merupakan anak tertua, sedangkan istrinya lebih menyayangi Nabi Yaqub AS karena dia merupakan anak terakhir.

Pada suatu ketika, Nabi Ishaq menginginkan seekor rusa. Beliau meminta Aish untuk mencarikannya seekor rusa. Namun, sebelum Aish berburu, sang ibunda menyuruh Nabi Yaqub AS terlebih dahulu. Dan dia melayani ayahnya terlebih dahulu, Nabi Ishaq pun mendoakaan Nabi Yaqub AS “Mudah-mudahan engkau menurunkan nabi-nabi dan raja-raja”. Mengetahui hal itu, Aish yang dirundung rasa iri pun menjadi lebih kaku dan dingin terhadap Nabi Yaqub. Aish lebih sering menyindir karena merasa dengki terhadap Nabi Yaqub.

Kisah Nabi Yaqub, Melihat kejadian tersebut Nabi Ishaq menyuruh Nabi Yaqub AS untuk berhijrah ke Fadan A’raam dan menemui sang paman bernama Laban bin Batu’il. Sesuai nasihat sang ayah, pergilah Nabi Yaqub AS menuju kota Fadan A’raam yang berada di Irak. Setelah berhari-hari melewati padang pasir, tibalah Nabi Yaqub AS di kota tersebut.

Dia bertanya kepada salah satu penduduk tentang kediaman Laban bin Batu’il. Penduduk tersebut menunjuk ke arah Rahil seorang gadis yang cantik jelita, yang kebetulan merupakan putri kedua dari Laban bin Batu’il.

Setelah memperkenalkan diri kepada Rahil, Nabi Yaqub AS diajak untuk bertemu dengan ayahnya Laban bin Batu’il. Dalam pertemuan tersebut Nabi Yaqub AS menyampaikan pesan dari ayahnya, agar mereka berdua menjadi besan dengan menikahkan salah satu putri Laban dengan Nabi Yaqub.

Laban menyetujui pesan tersebut dengan syarat menggembalakan hewan ternak miliknya selama tujuh tahun. Nabi Yaqub AS menyanggupi syarat tersebut, setelah tujuh tahun berlalu, Nabi Yaqub AS menaggih janji kepada Laban. Laban pun menjodohkan putri pertamanya bernama Laiya. Namun, Nabi Yaqub lebih menginginkan menikahi Rahil. Seorang gadis yang dia jumpai pertama kali saat berada di kota Fadan A’raam.

Laban pun menyarankan Nabi Yaqub AS untuk menikahi Laiya terlebih dahulu. Setelah itu, dia diizinkan untuk menikahi Rahil sebagai istri kedua dengan syarat bahwa Nabi Yaqub AS harus bersedia menggembalakan hewan ternak milik Laban selama tujuh tahun. Pada masa Nabi Yaqub, belum ada larangan untuk menikahi kakak beradik dalam satu waktu hingga diturunkannya surat Annisa ayat 23. Allah SWT berfirman,

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Kisah Nabi Yaqub AS kemudian menikah dengan kedua putri dari pamannya yakni Laban bin Batu’il. Pada saat itu Laban menghadiahkan kepada kedua putrinya seorang pembantu perempuan bernama Zulfa dan Bahlah. Beberapa tahun kemudian Nabi Yaqub AS menikahi kedua asisten rumah tangga tersebut. Dia memiliki 12 orang anak dari keempat istrinya. Salah satunya adalah Nabi Yusuf AS dari istrinya bernama Rahil.

Nabi Yusuf merupakan anak kesayangan Nabi Yaqub, sehingga mengakibatkan iri dengki terhadap saudara-saudaranya. Pada suatu hari, saudara-saudaranya berencana membuang Nabi Yusuf AS dari kehidupan mereka. Mereka mengatur strategi untuk menyingkirkan Nabi Yusuf AS, dan rencana tersebut berhasil. Nabi Yusuf AS terjebak pada sebuah sumur, jebakan tersebut berasal dari saudara-saudaranya yang iri dengki terhadapnya.

Sejak saat itu, Nabi Yaqub AS dirundung kesedihan yang berkepanjangan karena kehilangan putra tercintanya yaitu Nabi Yusuf AS. Sepanjang hari dia menangisi kepergian Nabi Yusuf AS dan akhirnya dia menjadi buta. Beberapa tahun kemudian, Nabi Yaqub AS mendengar kabar dari anak-anaknya jika Nabi Yusuf AS putra tercintanya masih hidup. Nabi Yusuf AS yang sebelumnya bertemu dengan saudara-saudaranya yang iri dengannya, memerintahkan mereka untuk memberikan gamisnya kepada Nabi Yaqub AS dan diusapkan ke wajah Nabi Yaqub, agar ayahnya kembali dapat melihat. Atas izin Allah SWT Nabi Yaqub AS pun dapat melihat kembali dan berkumpul dengan keluarganya di Mesir.

Cerita Nabi Ya’qub dimusuhi saudara kembarnya

Namun meski mereka bersaudara kandung, dan bahkan kembar. Antara Ya’qub dan Ishu tidak bisa rukun dan damai, tidak ada kasih sayang antara satu sama lainnya. Bahkan ishu memiliki rasa dendam dan iri pada Ya’qub yang memang dimanja, disayangi dan dicintai secara lebih oleh ibunya. Hubungan antara keduanya semaking tidak baik dan semakin tegang saat setelah Ishu mengetahui bahwa Ya’qub lah dimintakan dimintakan doa kepada Allah ketika ayahnya meminta kedatangan anak-anaknya.

Karena telah melihat sikap sudaranya yang kaku dan dingin dan juga sering mengeluarkan kata-kata menyindir karena rasa dengki dan iri, bahkan sampai dia diancam. Maka Ya’qub pun mendatangi ayahnya, untuk mengadukan sikap permusuhan dari saudara kembarnya tersebut :

”wahai ayahku! Tolonglah beri nasihat kepadaku, bagaimana aku harus menghadapi saudaraku Ishu yang membenciku mendendam dengki kepadaku dan selalu menyindirku dengan kata-kata yang menyakitkan hatiku, sehinga menjadikan hubungan persudaraaan kami berdua renggang dan tegang tidak ada rasa saling mencintai dan menyayangi. Dia marah karena ayah memberkasih dan mendaoakan agar aku memperoleh keturunan yang soleh, rezeki yang mudah dan kehidupan yang makmur serta kemewahan. Dia menyombongkan diri dengan kedua orang isternya daari suku Kan’aan dan mengancam bahwa anak-anaknya dari kedua isteri itu akan menjadi sangan berat bagi anak-anaku kelas dalam pencarian dan penghidupan dan macam-macam ancaman lain yang mencemaskan dan menyesakkan hatiku. Tolonglah ayah berikan aku jalan keluar bagaimana aku dapat mengatasi masalah ini serta mengatasinya dengan cara kekeluargaan”
Berkata si ayah, Nabi Ishaq as yang memang sudah merasa kesal melihat hubungan kedua puteranya yang makin hari makin meruncing :

”Wahai anakku, karena usaku yang sudah lanjut aku tida dapat menengahi kamu berdua, ubanku sudah menutupi seluruh kepalaku, badanku sudah membungkuk, raut mukaku sudah kusut berkerut, dan aku sudah diambang pintu perpisahan dari kamu dan meninggalkan dunia yang fana ini. Aku khawatir bila aku sudah menutup usia, gangguan saudaramu Ishu kepadamu akan makin meningkat dan ia secara terbuka akan memusuhimu, berusaha mencari cela mu dan kebinasaanmu. Dalam usahanya memusuhimu akan mendapat dukungan dan pertolongan dan saudara-saudara iparnya yang berpengaruh dan berwibawa di negeri ini. Maka jalan yang terbaik bagimu, menuru fikiranku engkau harus pergi meninggaklan negeri ini dan berhijrah ke ke Fadan A’raam di daerah Irak, tempat tinggal sudara ayah dan ibumu Lapan bin Batu’il. Engkau dapat meningkahkan puteramu kepada salah seorang puterinya dan dengan demikian menjadi kuat kedudukan sosialmu disegani dan dihormati orang karena kedudukan mertuamu yang menonjol di masyarakat. Pergilah engkau ke sana dengan iringan do’a ku semoga Allah memberkahi perjalananmu, memberi rezeki murah dan mudah serta kehidupan yang tenang dan tenteram, Kisah Nabi Yaqub.

Apa yang dinasihatkan oleh ayah mendapat tempat di hati Ya’qub. Ia memnadang anjuran ayahnya sebagai jalan keluar yang diinginkannya dari kekacauan hubungan denga Ishu, ditambah lagi dengan mengikuti saran dari ayahnya itu akan bisa bertemu dengan bapak saudaranya serta anggota keluarnya dari pihak ibu. Ia segera berkemas membungkus segala barang yang diperlukan dalam perjalanan dengan hati yang terharu serta dengan air mata yang menetes ia meminta restu kepada kedua orangnya untuk meningalkan rumah.

Cerita Nabi Ya’qub menerima wahyu dari Allah

Beberapa waktu kemudian Nabi Ya’qub as hijrah ke palestina untuk menemui pamannya. Ia berjalan pada malam hari dan beristirahat pada siang harinya. Dalam perjalanan hijrat itu, beliau tertidur di atas sebuah batu, kemudian bermimpi. Dalam mimpi itu Nabi Ya’qub as menerima wahyu dari Allah yang berbunyi “Aku Allah, tiada Tuhan melainkan aku. Aku Tuhan engkau dan Tuhang bapak engkau. Aku telah mewariskan bumi yang suci (Baitul Maqdis) untukmu dan keturunanmu, dan aku memberi berkat padanya dan aku berikan engkau kitab dan pelajaran serta hikmah dan keNabian”

Kisah Nabi Yaqub, Pada usia yang telah lanjut, Nabi Ya’qub mengikuti puteranya di Mesir yang yang juga seorang Nabi, yaitu Nabi Yusuf yang menjadi pembesar di Negerinya. Nabi Ya’qub tinggak di mesir dan menurunkan banyak keturunan di mesir. Dari sinilah asal muasal bangsa israil tersebsar di Negeri Mesir yang kemudian dibebaskan oleh Nabi Musa as dari penjajahan Fir’aun. Nabi Ya’qub meninggal dunia atau wafat pada usia 147 tahun di negeri Mesir.

Dalam kitab suci Al Qur’an telah dinyatakan bahwa Nabi Ya’qub as telah memberikan wasiat kepada putera-puteranya, setelah beliau mendekati ajalnya, Firman Allah dalam Al Qur an adalah sebagai berikut :

“adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab : “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan neneng moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. 2 : 133)

Itulah cerita Nabi Ya’qub semoga dapat mengambil banyak hikmah dan cara pikir yang baik dari contoh suri teladan yang baik pula. Dan semoga dapat menambah pengetahuan kamu tentang kisah para Nabi. Aamiin ya Allah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here