Kisah K’tut Tantri, “Bule” Tawanan Jepang pada Masa Penjajahan

0
28 views

Garut News ( Sabtu, 11/07 – 2015 ).

Ktut Tantri memiliki selusin lebih nama julukan, sebagian digunakannya ketika siaran lewat radio perjuangan untuk mengabarkan situasi Indonesia sekitar 1945-1946. Foto kala Tantri berada di sebuah hotel pada 1978. (Nani/Kompas).
Ktut Tantri memiliki selusin lebih nama julukan, sebagian digunakannya ketika siaran lewat radio perjuangan untuk mengabarkan situasi Indonesia sekitar 1945-1946. Foto kala Tantri berada di sebuah hotel pada 1978. (Nani/Kompas).

– Selama masa penjajahan Jepang di Indonesia, tak hanya warga lokal yang menjadi tawanan perang negeri berjulukan “matahari terbit” itu.

Salah satu warga kebangsaan asing yang pernah menjadi tawanan Jepang itu adalah Stuart Muriel Walker, atau lebih dikenal dengan nama Bali nya, K’tut Tantri.

K’Tut yang mendukung rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan, tertangkap oleh Kempetai (satuan polisi militer milik Jepang) ketika ia sedang bersembunyi di kediaman rumah seorang bangsawan di Solo.

Sebelumnya memang K’tut sudah mengkhawatirkan akan adanya usaha dari Jepang untuk menangkapnya karena ia membantu rakyat Indonesia dalam melawan penjajah. Karena dari itu ia kemudian melarikan diri ke Solo dari Surabaya yang sudah diperketat keamananya oleh tentara Jepang.

Namun keberadaan K’tut di Solo terendus oleh Jepang, akibatnya pada suatu malam kamar K’tut digeledah oleh Kempetai. Tanpa penjelasan Kempetai memasuki kamar K’tut dan mengambil beberapa surat dan dokumen yang K’tut miliki, termasuk pula paspor berkebangsaan Amerika Serikat yang ia miliki diambil secara paksa oleh Kempetai.

K’tut kemudian dibawa secara paksa ke sebuah penjara di daerah Kediri. Kondisi sel yang K’tut diami begitu memprihatinkan, tempat tidur yang hanya beralaskan tikar kotor, bantal terbuat dari merang yang menjadi tempat kutu busuk bersarang danjamban yang hanya berupa lubang di lantai tanah dengan seember air kotor di sampingnya.

Untuk urusan makan pun tahanan hanya diberi makan dua hari sekali berupa segenggam nasi dengan garam. Hasilya seminggu pertama di sel membuat berat badan K’tut turun 5 kilogram.

Keingnan untuk mandi sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi para tahanan, untuk sekedar mencuci muka dan menyisir menjadi hal yang tak bisa dilakukan. Belum lagi ketika hendak buang air tidak ada kemungkinan untuk menutup diri dari padangan orang lain.

Kejorokan dan kelaparan menjadi senjata utama Jepang dalam mematahkan semangat para tahananya dengan harapan mereka kemudian bersedia untuk memberikan Jepang informasi yang dibutuhkan.

Setelah beberapa hari di penjara,K’tut kemudian digiring memasuki sebuah ruang pemeriksaan,ruangan tersebut di penuhi beberapa perwira Jepang yang kemudian menghujani K’tut dengan berbagai pertanyaan.

Kemudian dikatakan oleh mereka alasan mereka menangkap K’tut adalah karena dirinya adalah seorang mata-mata Amerika Serikat.

“Agen rahasia Amerika! Aku hampir saja tertawa, kalau tidak sedang setengah mati ketakutan saat itu,” ucap K’tut dalam mengisahkan reaksinya pada saat itu ketika dituduh sebagai mata-mata Amerika Serikat dalam autobiografinya yang berjudul Revolt In Paradise.

K’tut kemudian menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tak memiliki hubungan dengan apa-apa yang berhubungan dengan mata-mata Amerika Serikat.

Jawaban dari K’tut tak memuaskan para perwira Jepang di ruangan itu, salah seorang perwira kemudian memerintahkan K’tut untuk membuka pakaianya, namun karena hanya terpaku mendengar perintah itu, kemudian seorang letnan muda menyentakan baju K’tut hingga robek.

“Beridiri pada satu kaki,” bentak pemeriksa ku. “Sekarang angkat kaki yang satu lagi, dengan lutut dibegkokan.” Aku ditamparnya karena tidak menuruti perintah itu dengan segera.

”Bukan, bukan begitu,” teriaknya. ”Ke samping!” cerita K’tut akan perlakuan seorang perwira Jepang dalam autobiografinya.

Beberapa hari setelah pemeriksaan hari pertama, K’tut kemudian digiring kembali ruang pemeriksaan. Seorang perwira Jepang mengatakan bahwa mereka telah berhasil menangkap seorang mata-mata Tiongkok di Surabaya yang sebenarnya merupakan teman K’tut.

Namun K’tut mengaku tak mengenalinya, lagi-lagi pihak Jepang merasa tak puas dengan jawaban K’tut sehingga mereka terus bertanya diiriigi dengan pukulan tongkat bamboo. Namun dengan menahan rasa penderitaanya, K’tut tetap mengaku mengenal orang Tiongkok itu.

Setelah dipukul dengan bamboo habis-habisan, kemudian K’tut dikembalikan ke sel. Sehari setelah itu K’tut setiap hari digiring ke ruangan pemeriksaan, setiap hari pula ia ditelanjangi dan ditanyai berbagai pertanyaan yang menyangkut dengan keterlibatan Amerika Serikat di Indonesia.

Seorang perwira bahkan mengaku informasi yang mereka dapat tentang pertanyaan tersebut berasal dari teman K’tut yang dicurigai oleh Jepang sebagai mata-mata. Bahkan K’tut diberikan sebuah surat pernyataan yang bertandatangan orang Tiongkok tersebut.

Namun sebelumnya K’tut dan temanya sepakat untuk membuat tanda-tanda tertentu tanda tangan mereka supaya tanda tangan mereka tidak mudah dipalsukan.

Sehingga ketika mendengar pengakuan tentara Jepang itu, K’tut meminta untuk melihat surat tersebut dan menemukan bahwa surat tersebut palsu dan hanya akal-akalan Jepang untuk membuat K’tut mengaku.

Selain surat palsu, pihak Jepang juga menyodorkan dokumen-dokumen gadungan yang isinya menyebutkan berasal dinas rahasia Amerika Serikat dan berisi mengenai pengakuan mereka bahwa K’tut adalah agen rahasia utusan Amerika Serikat.

“Pemalsuan itu begitu kentara, sehingga nyaris saja aku tertawa terbahak-bahak,” ucap ketut mengenai tipu muslihat yang dilakukan oleh tentara Jepang.

Pemeriksaan demi pemeriksaan terus dilakukan sekitar sepuluh sampai empat belas hari, masa-masa itu K’tut katakan sebagai pengalaman yang begitu mengerikan. Lalu pada suatu hari kesabaran Jepang sudah mulai habis, K’tut kemudian diancam akan ditelanjangi dan digiring mengelilingi Kediri jika tidak juga mengaku.

Ancaman itu K’tut anggap hanya sebagai sebuah gertakan, namun ternyata Jepang tidak main-main. Karena tak mau mengaku kemudian K’tut disertai seorang tentara yang mengikuti dari belakang sambil menyodorkan bayonetnya kearah ketut dan sambil rambut K’tut yang dipenitikan selembar kertas besar bertuliskan “Mata-mata Amerika” mengelilingi Kediri dengan kondisi telanjang bulat.

Warga sekitar yang berada di jalan raya, begitu melihat keadaan K’tut pun langsung lari pontang-panting ketakuan ke rumah mereka masing-masing karena tak biasa melihat pemandangan seperti itu.

Yang tetap berada di jalan raya hanyalah tentara Jepang dan K’tut yang dalam keadaan telanjang bulat serta memar-memar dan kotor.

Setelah melihat bahwa usaha yang sia-sia, tentara Jepang kemudian memasukan K’tut ke sel nya kembali dan memukulinya kembali, kemudian membiarkan K’tut menderita di selnya.

Namun sejatinya tentara Jepang masih memiliki belas kasihan, setelah lelah menyiksa K’tut tanpa mendapatkan hasil apa-apa, mereka kemudian mulai lembek kepada K’tut.

Ada dari mereka kemudian menawarkan makanan yang layak, meski harus K’tut makan di depan Jepang orang-orang yang baru saja memukuli dirinya hingga baru saja sesuap K’tut muntah, kemudian salah seorang perwira menghampiri K’tut dengan wajah kasihan kemudian menyuapinya dan mengelus-elus rambutnya

Lalu juga suatu hari juga keinginan untuk mandi terwujud bagi K’tut, ia ditawarkan untuk mandi air panas di suatu tempat pemandian, walaupun sempat diperhatikan oleh dua tentara yang mengintip, K’tut kemudian tak menghiraukanya dan melakukan sesuatu yang ia tak dapat lakukan selama ia berada di penjara.

Setelah sekitar tiga minggu menjalani pemeriksaan dan penyiksaan yang berlangsung hampir setiap hari, Jepang kemudian membebaskan K’tut. Namun sebelumnya ia ditawarkan oleh seorang perwira Jepang untuk bekerja melawan Amerika Serikat dengan cara menjadi penyiar radio untuk siaran yang ditujukan ke Amerika Serikat.

Dari pekerjaan itu K’tut dapat mendapatkan uang, rumah bagus, mobil, dan benda mewah lainya.

Namun segala itu K’tut tolak dan ia kemudian pergi meninggalkan penjara yang kemudian ia ingat sebagai masa-masa yang paling menderita dalam hidupnya. (Haydr Suhardy).

********

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : National Geographic Indonesia/ Kompas.com