Kisah Ilham Bintang dan C&R

0
15 views
Nasihin Masha. (Foto: Republika/Daan).

Sabtu 27 Apr 2019 14:27 WIB
Red: Didi Purwadi

Nasihin Masha. (Foto: Republika/Daan).

“lham Bintang menutup Tabloid C&R yang sudah 21 tahun terbit dan beralih ke online”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nasihin Masha, Penulis Lepas

Ingat Cek & Ricek, ingat almarhum Mayjen TNI Purn Edi Budianto. Saya mengenalnya ketika meliput perang Bosnia. Saat itu ia menjadi komandan pasukan Indonesia yang menjadi pengamat perdamaian dalam perang tiga wajah tersebut.

Saat itu saya reporter di Republika. Ia menyemangati saya agar masuk di wilayah tempur. Dorongannya berhasil. Saya bisa masuk di gelap malam di pinggiran hutan. Bertemu tentara-tentara Bosnia dengan senjata rakitan. Itulah kisah perkenalan saya dengan Letkol Inf Edi Budianto pada 1994.

Perkenalan itu terus berlanjut menjadi pertemanan. Pada 1999, saat itu saya ditugasi menjadi redaktur pelaksana tabloid politik milik Republika, Tekad. Saya bercerita tentang perpindahan tugas tersebut. Dengan enteng dia berkata: “Buat apa bikin tabloid politik…sekarang orang nyarinya yang ringan-ringan. Orang lebih suka baca Cek & Ricek. Itu laris banget.”

Saya cuma senyum kecut. Padahal saat itu tabloid politik sedang booming. Ada Detak, Saksi, Bangkit, Adil, dan sebagainya. Omongan Edi benar. Tabloid politik hanya berumur kurang dari 10 tahun. Pada 2001 Tekad ditutup oleh pemilik baru Republika, Erick Thohir. Padahal saat itu Tekad adalah yang terbesar. Kondisinya untung. Tapi Erick berpendapat tabloid politik tak memiliki prospek bisnis yang bagus. Iklannya sangat minim. Jadi hanya mengandalkan dari selisih harga produksi dengan harga jual. Padahal dalam bisnis media cetak, pendapatan terbesar adalah dari iklan. Bukan dari penjualan koran/majalah/tabloidnya.

Cek & Ricek berdiri pada 24 Agustus 1998, hanya beberapa bulan setelah kejatuhan Soeharto. Tabloid hiburan ini dipimpin dan milik Ilham Bintang. Selain itu, juga diperkuat sejumlah jurnalis senior seperti Marah Sakti Siregar. Dua nama ini hanya saya kenal lewat cerita. Saat itu saya baru empat tahun menjadi wartawan. Belum banyak bergaul dengan para senior. Apalagi lingkup tugas saya belum bersentuhan dengan mereka.

Ilham adalah wartawan yang besar di harian Angkatan Bersenjata, milik TNI. Sedangkan Marah pernah di Tempo dan Editor. Ilham bercerita, ia mendirikan tabloid tersebut sebetulnya hanya sekoci saja. Dan benar, sekoci inilah yang menjadi penyelamatnya.

Nama Cek & Ricek sudah moncer sejak setahun sebelumnya. Tapi itu nama program infotainment di RCTI yang memang hasil rumah produksi milik Ilham. Inilah yang menjadi pertanda booming jurnalisme infotainment. Cek & Ricek sebetulnya bukan yang pertama, tapi didahului oleh Kabar-Kabari (1996) yang fokus pada musik milik Remy Stansyah dan Hans Miller Banureah dan Buletin Sinetron (juga milik Ilham) yang tayang di RCTI pada 1994-2007 yang fokus pada sinetron.

Namun Remy dan Hans tentu tak seberminyak Ilham dalam jurnalistik, apalagi dalam dunia artis dan perfilman. Satu hal yang membedakan C&R dengan Kabar-Kabari maupun Buletin Sinetron, yaitu C&R tak membatasi pada isu musik saja atau sinetron saja tapi semua isu dalam dunia hiburan. Jadi lebih umum. Hal lainnya adalah Ilham sejak belia sudah terjun sebagai wartawan budaya, termasuk film. Ia bahkan menjadi ketua bidang budaya di PWI.

Dalam sekejap, Kabar-Kabari lenyap. Ilham menjadi raja infotainment. Namun krisis melanda Indonesia pada 1997, padahal Cek & Ricek baru tayang enam bulan. Saat itu, kantor Cek & Ricek masih di garasi rumahnya di Jakarta Barat. Krisis tersebut membuat dunia bisnis kolaps. Stasiun televisi tak banyak beroleh iklan. Karena itu mereka tak mampu membayar vendor, termasuk Cek & Ricek.

“Pernah mau dibayar dengan ruko yang terbakar dan satu kontainer mi instan cap Ayam Merak,” kata Ilham.

Sebelum mendirikan versi cetak, Ilham sempat bicara dengan Chairul Tanjung (CT). Saat itu CT belum memiliki stasiun televisi Trans TV. Dia menjadi salah satu pemilik majalah Panji Masyarakat, yang kemudian tutup. Ilham dan CT sempat bersepakat untuk berkongsi mendirikan versi cetak Cek & Ricek. Namun kemudian CT mundur.

Sesuai dengan kajian orang keuangan di perusahaannya, bisnis media sedang tak bagus. Maka Ilham pun jalan sendiri. Namun tunggu dulu. “Direktur keuangan saya menyodorkan kertas analisisnya. Intinya tak layak. Karena itu saya nggak mau liat dan nggak mau baca,” kata Ilham. “Tapi saya punya insting. Orang bosan dengan politik dan ingin hiburan dan informasi yang ringan,” katanya bersemangat. Maka dengan modal Rp 400 juta, Ilham menerbitkan tabloid Cek & Ricek dari garasi rumahnya.

Dalam enam bulan, Ilham sudah bisa membangun kantor untuk Cek & Ricek. Tak lagi di garasi rumahnya. Ia bisa membeli rumah dengan luas tanah 250 meter persegi. Namun pada 2008, ia bisa membangun perkantoran yang megah. Bangunan empat lantai itu berdiri di atas tanah seluas 3.400 meter persegi.

Di tahap awal, harga tabloid itu masih Rp 2.000 per eksemplar. Namun kemudian tabloid hiburan itu berganti ke kertas HVS. Harganya pun naik menjadi Rp 4.000 per eksemplar. Dan saat ini, hingga edisi terakhirnya, tabloid Cek & Ricek dibanderol Rp 10 ribu per eksemplar. Inilah satu-satunya tabloid hiburan yang memiliki kolom tajuk yang diasuh Ilham sendiri.

Setelah 21 tahun, pada 23 April 2019, pukul 06.43 WIB, Ilham Bintang memposting cover C&R edisi terakhir di grup Whatsapp Forum Pemred (dengan admin Pemred JakTV Herbert Timbo Parluhutan Siahaan). Dengan warna khasnya, cover itu hanya berisi kalimat: Kami Pamit! (Berpisah untuk Bertemu Kembali). Satu menit kemudian, Khairul Jasmi, pemred koran Singgalang, Padang, merespons, “Apa ini? Gak terbit?”

Ilham menjawab diplomatis: “Ini terbit hari ini.” Jasmi menanggapinya lagi dengan becanda, dan dijawab Ilham dengan canda lagi. 06.50, Toto Irianto, pemred Pos Kota, segera menanggapi, “Semoga C&R lebih jaya dalam dunia online.”

Sejak Ilham memposting cover itu, saya tak segera bertanya. Apalagi pertanyaan Jasmi dijawab diplomatis. Maka saya memilih membuka Facebook Ilham. Benar saja, pada pukul 06.30, 13 menit sebelum memposting di grup WA, Ilham sudah terang benderang menjelaskan soal ini. Dengan memposting cover C&R edisi terakhir di akun FB-nya, Ilham mengantarnya dengan kalimat singkat: “Shifting. Cover story edisi terakhir tabloid C&R, terbit hari ini.”

Setelah membaca fbnya, saya segera menanggapinya di grup WA: “Wah, C&R total shifting nih ke digital. Mantap.” Ilham pun menjawab, “Siapp. Terima kasih Ink.” Lalu perbincangan berlanjut tentang C&R.

Ya, shifting, bergeser. C&R termasuk telat masuk dunia online/digital. Baru pada tahun 2017, Ilham membuat portal C&R. Padahal seluruh media sudah bergerak ke versi digital sejak awal. Republika.co.id lahir pada 17 Agustus 1995, Detik.com lahir pada 1998, dan Kompas.com 14 September 1995. Pada 23 Desember 2017, di bawah komando salah satu putranya, C&R membuat konser Tulus di halaman kantornya yang luas.

Tulus adalah penyanyi dengan follower Twitter yang jutaan. Dengan cara itu, portal C&R diharapkan akan ikut terkerek dengan cepat. Pada konser berikutnya menampilkan penyanyi dari grup RAN dan Reza Artamevia di Hotel Fairmont. Strategi co-branding dan engagement dilakukan dengan baik oleh C&R. Para penontonnya dipilih dari follower yang sang biduan. Mereka harus mendaftar, setelah itu dipilih dan diundang. Strategi yang baik.

Setelah 1,5 tahun, setelah edisi cetak dan edisi online terbit beriringan, manajemen C&R merasa sudah cukup untuk menutup edisi cetak dan membiarkan sang bayi C&R edisi online dibiarkan tumbuh besar. Mungkin mengikuti falsafah tak boleh ada matahari kembar, maka salah satunya harus dimatikan.

Strategi yang berbeda dilakukan oleh Republika dan Kompas –dua media ini juga mengawalinya dari edisi cetak lalu diikuti edisi online. Dua koran ini justru hadir beriringan antara edisi cetak dan edisi online. Karena keduanya memiliki karakter pembaca yang berbeda. Walaupun banyak yang bilang bahwa pada saatnya edisi cetak akan mati –bisa jadi bukan karena tak ada pembaca dan pengiklannya tapi misalnya karena bahan kertas yang makin sulit didapat atau pabrik mesin cetaknya yang tutup.

C&R edisi cetak sampai edisi terakhir masih bertiras 60 ribu eksemplar. Sebetulnya masih cukup untuk hidup alakadarnya. Namun tentu saja ini sudah tinggal 10 persen saja dibandingkan di masa puncaknya, yang bisa terbit dengan tiras lebih dari 500 ribu eksemplar. Bahkan sejumlah edisi terbit dua kali naik cetak karena cetakan pertama ludes di pasar. Hal itu misalnya terjadi pada edisi Machicha Muchtar dan edisi Raam Punjabi.

Walau C&R adalah media hiburan dan gosip artis yang terbit sepekan sekali, dan sebagian edisinya bikin gempar, tapi C&R justru relatif aman dari gugatan. Apakah ini karena faktor Ilham Bintang yang disegani kalangan artis? Atau karena kualitas jurnalistiknya?

Harus diakui, Ilham adalah figur petarung dan berani melawan siapa saja. Badan gempal, muka persegi, mata tajam, dan suaranya yang menggelegar memang bisa bikin orang lain geder. Namun dunia elite bisa tak berwajah. Artinya, faktor fisik individu bisa tak bermakna.

Ilham juga memiliki relasi yang kuat dengan banyak tokoh. Namun sekali lagi, hal-hal seperti itu bisa tak bermakna jika sudah menyangkut kebenaran. Ya, kekuatan C&R adalah justru pada kualitas jurnalistiknya. Sedari awal, Ilham secara sadar menamakan medianya sebagai Cek & Ricek, sebuah penerjemah sederhanya dari check and recheck. Inilah salah satu falsafah kerja jurnalistik.

Cek, dan bukan hanya sekali, tapi cek ulang (ricek) terhadap fakta yang didapat. Tentang hal ini, kita teringat pada jurnalis yang satiris dan humoris almarhum Mahbub Djunaidi. Katanya: “Fakta harus dijunjung seperti mertua”.
Dengan fakta-fakta yang dimiliki dan mampu diverifikasi dengan baik, membuat terang isu yang dipilihnya. Bukan bersembunyi di balik ayunan kalimat. Itulah kekuatan C&R. Padahal ibarat kata, C&R adalah media gosip artis maka nyerempet-nyerempet sensasi merupakan pilihan yang masih bisa dimaklumi. Namun C&R tak memilih jalan itu. Ilham lebih memilih jalan terang.

Berkat pendekatan jurnalistiknya yang clear ini, Ilham berhasil memperjuangkan agar jurnalisme infotainment diakui sebagai bagian dari jurnalistik. Saat itu, khalayak jurnalis masih tak mengakui infotainment sebagai bagian dari jurnalistik. Perjuangan itu berhasil mendapat pengakuan dari PWI Pusat di masa Tarman Azzam memimpin PWI.

Namun ironisnya, seiring perkembangan bisnis infotainmen, stasiun-stasiun televisi kemudian memproduksi sendiri rubrik infotainment-nya. Dan, Ilham Bintang justru menjadi minoritas dalam belantara infotainment. Program-program infotainment bahkan oleh MUI dinilai sebagai ghibah. Ya, memang umumnya berisi gosip-gosip yang tak bermakna. Isinya hanya seputar kawin-cerai, putus-nyambung, dan kabar perselingkuhan dunia artis. Bahkan sebagian berita infotainment itu merupakan berita setting-an untuk menaikkan rating program atau menaikkan popularitas artis.

Tak heran jika popularitas infotainment makin menurun. Mirip dengan film Indonesia yang pernah bunuh diri melalui film-film panas seputar paha dan dada. Beruntung kemudian lahir sineas-sineas muda seperti Riri Reza dan Mira Lesmana yang berhasil mengangkat kembali dunia perfilman hingga bangkit sampai saat ini.

Turunnya pamor infotainment di televisi juga beriringan dengan serbuan dunia digital dalam informasi. Nah, edisi cetak media hiburan adalah yang terkena pertama. Tabloid Bintang Indonesia (Tempo), Mutiara (Sinar Harapan), Citra (Kompas), Gennie (MNC), Dangdut (Arswendo Atmowiloto), dan Wanita Indonesia (Siti Hardiyanti Indra Rukmana) sudah tutup lebih dulu. Padahal dua tabloid ini lahir lebih dulu. Kini masih menyisakan tabloid Nyata di Surabaya.

Bisa jadi ini memang era tabloid yang harus tutup buku. Karena sebelumnya tabloid Bola dan sebagainya sudah berguguran lebih dulu. Ilham bercerita di masa jayanya, pendapatan terbesar C&R adalah dari penjualan tabloid, yakni 60 persen. Sedangkan 40 persennya lagi dari iklan. Hal ini berbeda dengan koran. Pendapatan terbesar adalah dari iklan. Bisa 60-80 persen. Sisanya berasal dari penjualan korannya. Pengiklan memang cenderung memilih koran dibandingkan tabloid.

Namun Ilham sudah memiliki rencana yang baik dalam menghadapi perubahan platform dan channel media di abad ke-21 ini. Hasil 21 tahun kesuksesannya menjadi owner media, Ilham tak hanya membangun kerajaan media tapi juga diinvestasikan di bidang-bidang lain. Ia membuka usaha di bidang kesehatan dan kuliner. Dua lini usaha ini dikelola oleh dua anaknya (Rezanades Mohammad dan Yassin Yanuar). Sedangkan usaha di bidang media juga sudah dikelola salah satu anaknya, Fikar Rizki. Kini Ilham dan istrinya lebih menikmati hidup dengan berkeliling dunia dan beribadah.

Untuk eksistensi dirinya, Ilham tetap aktif di PWI Pusat sebagai ketua Dewan Kehormatan. Ini jabatan paling bergengsi di PWI. Jabatan yang hanya dipegang oleh para senior pers di Indonesia seperti Rosihan Anwar dan Haji Agus Salim (ketua DK PWI pertama). Sebagai ketua DK PWI Pusat, Ilham ‘cukup bunyi’ menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Namun tak ada gading yang tak retak, pasti setiap orang memiliki banyak kelemahan.

PR terbesar Ilham adalah membimbing anaknya agar mampu membawa C&R tetap berlayar mengarungi samudera pers Indonesia. Bisnis pers itu bisnis yang unik, karena ia juga tergantung pada isinya. Ya, isinya adalah perjuangan mencari kebenaran dan mengabarkan pesan peradaban.

Orang kadang lebih sibuk pada kebenaran formal, lalu lupa pada substansi. Kebenaran formal dalam jurnalistik sudah dibakukan dalam kode etik. Sedangkan substansinya adalah pesan itu sendiri. Di era post truth ini, banyak pers hanya bersandar pada kebenaran formal dan melupakan substansi pesannya itu sendiri. Padahal di situlah nyawa sesungguhnya. Apakah kita menyampaikan pesan kebenaran, atau kita memanipulasi pikiran dan emosi orang.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here