Kisah Heroik Achmad Mochtar, Dokter Indonesia yang Mati Dipancung Jepang

0
33 views

Garut News ( Selasa, 10/11 – 2015 ).

Achmad Mochtar (kiri) beserta keluarganya di kediamannya di Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Dipotret pada tahun 1940. (Taty Hanafiah D. Uzar).
Achmad Mochtar (kiri) beserta keluarganya di kediamannya di Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Dipotret pada tahun 1940. (Taty Hanafiah D. Uzar).

– Nama Achmad Mochtar mungkin tak pernah tertulis di buku sejarah anak-anak sekolah. Tapi jasanya bagi bangsa Indonesia besar.

Dia menjadi peneliti unggul berdarah Indonesia pada masa penjajahan sekaligus rela menjadi kambing hitam kejahatan perang Jepang untuk menyelamatkan rekan penelitinya.

Kisah pengorbanan Achmad Mochtar tertulis dalam buku berjudul “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine” terbitan University of Nebraska Press. Buku yang ditulis JK Baird dari University Oxford serta Sangkot Marzuki dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu diterbitkan pertengahan tahun ini, 70 tahun setelah wafatnya Achmad Mochtar.

Tahun 1944, sekitar 900 romusa (pekerja paksa zaman Jepang) mati setelah menunjukkan gejala tetanus. Beberapa hari sebelum kematian, mereka diberi vaksin TCD (tifus, kolera, disentri). Staf Lembaga Eijkman memang menyuntikkan cairan yang dibilang vaksin namun atas perintah Jepang.

Polisi Jepang atau Kenpetai mempersalahkan Mochtar yang kala itu menjadi direktur Lembaga Eijkman serta stafnya atas tragedi tersebut. Jepang menuduh Mochtar dan stafnya sengaja mengganti vaksin dengan kuman tetanus supaya para romusa mati.

Jepang kemudian menangkap Mochtar dan stafnya. Mereka disiksa, dibakar, dan disetrum. Satu dokter tewas.

Staf Lembaga Eijkman lain kemudian bebas namun hidup Mochtar berakhir tragis dengan hukuman pancung pada 3 Juli 1945. Bahkan disebutkan, setelah dipancung, tubuhnya digilas dengan traktor sebelum akhirnya dikubur.

Sangkot mengungkapkan, “Cerita tentang Achmad Mochtar tidak ada di buku sejarah umum tetapi selalu tercatat dalam sejarah kedokteran. Sejak awal, keterlibatan Achmad Mochtar dalam kematian 900 romusa diragukan. Masa dokter tega membunuh bangsa sendiri?”

Tahun 2010, makam Mochtar berhasil ditemukan. Ia dikubur di Evereld, Ancol. Jurnal Science pada tahun 2010 memuat penemuan dan dugaan pembunuhan Mochtar.

Sangkot dan rekan penelitinya lalu membaca ulang sejumlah memoir sejumlah survivor yang telah dibukukan. Mereka juga mewawancara keluarga dan keturunan Mochtar. Analisis mengungkap, Mochtar sengaja dikambinghitamkan untuk menutupi kejahatan perang yang dilakukan Jepang.

Situasi pada tahun 1944 hingga 1945 panas. Saat itu, kekuasaan Jepang di Indonesia sudah menunggu waktu. Tentara sekutu sudah sampai di Indonesia Timur. Jepang harus bersiap menghadapi perang melawan sekutu sekaligus Indonesia yang ingin merdeka.

Dalam situasi perang, Jepang panik. Mereka membutuhkan vaksin tetantus. “Saat itu tetanus mematikan. Perang bukan hanya dengan tembakan tetapi juga tusukan. Jumlah orang yang mati karena tetanus akibat tusukan banyak,” jelas Sangkot saat dihubungi Kompas.com, Selasa (10/11/2015).

Jepang diduga melakukan eksperimen vaksin tetanus. Tim Jepang yang melakukan eksperimen itu masih misterius. Namun, ditemukan jejak eksperimen ilmiah oleh militer Jepang Unit 731 di Bandung. Kala itu, di Bandung ada lembaga Pasteur Institute yang melakukan riset vaksin TCD.

Analisis mengungkap, para romusa sengaja disuntik dengan toksin tetanus agar keampuhan vaksin tetanus bisa diketahui. Eksperimen itu mestinya dilakukan pada hewan terlebih dahulu tapi Jepang langsung melakukannya pada romusha.

“Itu sengaja dilakukan tapi gagal. Tidak mungkin hanya kecelakaan,” kata Sangkot.

“Jepang bangsa yang superior. Kalau sampai eksperimen mereka gagal, mereka akan dituduh melakukan kejahatan perang. Karena itu mereka butuh kambing hitam,” jelas Sangkot. Jadilah kemudian Achmad Mochtar yang menjadi kambing hitam dalam kegagalan eksperimen itu.

“Saat itu di Indonesia hanya ada dua lembaga penelitian, Pasteur Institute di Bandung dan Lembaga Eijkman di Jakarta. Direktur Pasteur Institute adalah orang Jepang, jadi tidak mungkin dikorbankan. Sementara direktur Eijkman adalah orang Indonesia, bisa dikambinghitamkan,” urai Sangkot.

Sebagai orang Indonesia, posisi Mochtar sebagai direktur lembaga penelitian juga sangat strategis. Dia dinilai terlalu banyak atas rencana-rencana Jepang. Agar kejahatan perang Jepang tak terbongkar, Mochtar perlu “dibungkam” dengan cara eksekusi.

Mengapa kemudian hanya Achmad Mochtar yang dipancung? Sangkot menuturkan, sebelum eksekusi Mochtar menandatangi perjanjian dengan Kenpetai. Dalam perjanjian itu, Mochtar bersedia dinyatakan bersalah atas kematian 900 romusha asalkan stafnya bisa dibebaskan.

Penerbitan buku tentang Mochtar dalam bahasa Inggris bermaksud untuk mengungkapkan kepada dunia tentang adanya dokter yang dikriminalisasi untuk menutupi kejahatan perang. Sampai kini, Jepang tidak pernah minta maaf atas tindakannya memancung Mochtar.

Di Indonesia sendiri, Mochtar belum terlalu dihargai. Dia pernah dianugerahi Bintang Jasa Utama pada masa Presiden Soeharto. Penghargaan itu ditujukan untuk orang yang berjasa pada kalangan terbatas. Sangkot mengatakan, Mochtar layak menjadi pahlawan nasional dengan jasa-jasanya.

Jasa yang bisa dilihat pada Mochtar bukan hanya bahwa dia rela dipancung. Dia juga yang turut melakukan riset dan misi kedokteran pada masa Jepang. Setelah sekolah kedokteran masa penjajahan Belanda ditutup, Mochtar turut serta membuka sekolah kedokteran Ikada Daikagu pada zaman Jepang (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Pahlawan bangsa Indonesia bukan hanya mereka yang bertempur di medan perang, melainkan mereka yang melakukan kegiatan ilmiah dan mati karena dikriminalkan. Jepang sendiri membantai banyak intelektual Indonesia dalam 3 tahun masa penjajahannya.

Salah satu pembantaian dilakukan di Kalimantan Barat. Korban pembantaian dikubur di Makam Juang Mandor. Salah satu dari sekian banyak intelektual yang dibantai adalah dr Roebini dan dr Soesilo yang aktif melakukan riset malaria.

“Salah satu anggota keluarga dokter malah harus datang ke Kalimantan hanya untuk melihat pembantaian suami dan ayah,” kata Sangkot.

*******

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here