Kisah Dua Bintang Saling Menyinari

Sekali lagi, kisah bertema pengidam kanker. Tetapi  film ini justru berhasil menyajikan humor dan persahabatan yang unik”

Garut News ( Ahad, 13/07 – 2014 ).

Ist.
Ist.

Berkatalah Cassius kepada Brutus:  “The fault, dear Brutus, is not in our stars, / But in ourselves, that we are underlings.”

Ucapan yang tertera di dalam drama terkemuka Julius Caesar karya William Shakespeare ini sebetulnya berkisah tentang keriuhan politik.

Bahwa apa yang terjadi pada mereka bukan karena yang sudah ditetapkan takdir, melainkan karena mereka adalah bawahan Julius Caesar.

Sepotong kalimat itu kemudian dijadikan judul novel remaja karya John Green yang meledak dan dipuji The New York Times sebagai karya yang merupakan “campuran melakoli, manis, filosofis dan lucu” dan berhasil bertahan pada area “realisme tragis”.

Ist.
Ist.

Dengan mengangkat karya keenam novelis John Green yang sama sekali jauh dari kisah politik itu, apalagi dengan memilih pemain yang sudah menjadi idola para remaja, film ini sudah mendapat perhatian karena kepopulerannya.

Ringkasnya, film ini berupaya mengangkat sepasang remaja pengidap kanker yang dimabuk cinta.

Tetapi sutradara John Boone, seperti juga novelis Jogn Green agaknya ingin mencegah segala yang klise dari berbagai cerita novel dan film yang melibatkan pengidap kanker.

Kotak tisyu tentu harus menjadi kawan remaja yang menyaksikan film ini.

Tetapi duo Scott Neustadter dan Michael H Weber—sebelumnya menulis skenario 500 Days of Summer’ dan ‘The Spectacular Now—menunjukkan sepasang remaja ini adalah dua anak muda yang bukan saja cerdas dan unik, tetapi mencoba menjauhi segala melankoli justru karena menyadari usia mereka sangat terbatas.

Pertemuan mereka yang tentu saja tak biasa, yaitu di sebuah pertemuan kelompok pendukung pengidap kanker, sudah menunjukkan karakter Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) yang anti-sentimental dan mencoba realistik dengan situasi kehidupannya.

Sikapnya itu, dan juga tentu saja wajahnya yang cantik dengan sepasang mata yang penuh kilatan daya hidup membuat Augustus Waters, si pemuda tampan (dimainkan oleh Ansel Elgort) langsung saja jatuh hati dan terus menerus menggoda dan mendekatinya.

Hazel Grace, demikian Augustus memanggilnya, ragu untuk berhubungan serius karena “saya adalah sebuah granat,” katanya mengingatkan.

Sebuah ledakan bisa saja terjadi pada saat mereka berdekatan.

Harus diakui,  semula tema ini sungguh mencurigakan karena film yang bertema pengidap kanker dan segala kepedihannya sudah digarap berulang-ulang oleh sutradara terbaik di dunia sinema.

Dari film-film klasik seperti Ikiru (Akira Kurosawa, 1952); Love Story (Erich Segal,1970; Terms of Endearment (James L.Brook, 1983), hingga yang lebih baru seperti My Sisters’s Keeper (Nick Cassavetes, 2009) dan August : Orange  County  (John Wells, 2013).

Film Faults in Our Star mungkin tidak bisa dideretkan dengan rangkaian film klasik tersebut—meski judulnya menyarankan sesuatu yang dalam dan serius—tetapi sebagai sebuah film dengan segmen penonton remaja, film ini berhasil mengusir segala yang klise dari yang lazim disajikan film-film bertema penyakit yang mematikan hingga sudah pasti plot itu akan berkisah bagaimana  sang protagonis mengisi sisa-sisa hidupnya.

Bahwa Hazel punya keinginan besar mengetahui lanjutan dari novel yang disukainya berjudul Imperial Affliction karena novel itu sengaja diselesaikan di tengah sebuah kalimat yang belum selesai—sudah menunjukkan betapa uniknya karakter dan betapa uniknya plot film ini.

Bahwa kemudian Augustus mengupayakan Hazel untuk bertemu sang penulis yang ‘bersembunyi’ di Amsterdam, Belanda, setelah namanya meroket karena keberhasilan novel tersebut, juga sebuah plot yang menarik, yang kelak diakhiri dengan belokan yang cukup mengejutkan (ingat, film ini melibatkan dua orang pengidap kanker).

Adegan-adegan di Amsterdam, termasuk yang mengambil lokasi Hotel Americain dan museum Anne Frank menjadi tempat bersejarah bagi pasangan yang tengah dilanda asmara itu menjadi menarik bukan hanya karena pemandangan yang indah secara sinematik, tetapi Amsterdam diletakkan sebagai bagian dari cerita yang relevan, bukan sekedar untuk turis-turisan seperti dalam banyak film Indonesia masa kini.

Di Amsterdam Hazel kemudian menyadari bahwa dia bukan sebuah granat.

Dia sebuah bintang yang menerangi hidup Augustus.

Penampilan Shailene Woodley sungguh berkilat-kilat.

Sesudah Jennifer Lawrence dan Emma Stone, kita tak bisa tidak akan jatuh sayang sejak penampilannya dalam film The Descendant sebagai puteri sulung George Clooney.

Tetapi  Ansel Elgort, betapapun gantengnya dia di mata remaja puteri yang tak henti-hentinya mencericit  terpesona setiap dia muncul di layar, belum bisa menyamai kedalaman dan keluasan seni peran Woodley.

Ekspresi yang terkadang kaku dan repetitif yang selalu saja terbanting dengan penampilan Woodley yang bersatu begitu dengan layar perak di hadapan kita.

Di luar sepasang remaja yang kini nampaknya menjadi Romeo dan Juliet terbaru, tentu saja aktor veteran macam Laura Dern dan Willen Dafoe menunaikan perannya sebagai pendukung plot ini dengan baik.

Maka akhirnya, ‘fault in our star” dalam film ini lebih berkisah tentang perjuangan mereka mencapai hari-hari yang “biasa” menjadi “luar biasa”.

Seperti yang diutarakan tokoh Hazel kepada Augustus, dia tak merasa dia butuh dikenang oleh banyak orang, tetapi yang penting dia dikenang oleh seseorang yang sangat dicintainya, yaitu Augustus.

Leila S.Chudori

THE FAULT IN OUR STARS
Sutradara         : Josh Boone
Skenario           : Scott Neustadter dan Michael H Weber (berdasarkan novel karya John Green dengan judul sama)
Pemain             : Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolff, Laura Dern, Sam Trammel, Willem Dafoe

******

Tempo.co

Related posts