Kisah anak kelahiran perang Vietnam

0
65 views

Garut News ( Kamis, 30/04 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Saya lahir pada masa perang Vietnam, persisnya 43 tahun lalu, dan lebih tepat lagi ketika ‘senandung tidur’ pemboman diperintahkan oleh Gedung Putih di Washington.

Begitulah cerita keluarga yang saya dengar tentang kelahiran saya di sebelah Barat laut Vietnam, yang sekarang disebut Son La.

Sekarang, saya jelaskan sedikit bahwa rangkaian pemboman Amerika Serikat atas Vietnam Utara, dilakukan dengan sesekali berhenti, dimaksudkan untuk berbagai tujuan.

Jadi bukan sekedar membunuh saja.

Hal itu merupakan ‘diplomasi lewat serangan bom malam hari’ melawan musuh Presiden Richard Nixon, sebuah ‘diplomasi’ yang sulit dipahami.

Seperti yang diceritakan ayah, pada tanggal 4 Januari 1972 -ketika dia ditugaskan sekitar 50km jauhnya dari rumah- dia meminta cuti untuk mengambil kesempatan saat jeda pemboman, semacam hadiah Natal dari Paman Sam.

Dia mengayuh sepedanya dengan membawa satu karung beras yang ditaruh di setang sepeda untuk bertemu dengan ibu saya, yang saat itu -sesuai dengan perhitungannya- sedang mengandung delapan bulan.

Namun saya sudah menyapa Vietnam yang sedang dilanda perang sehari sebelumnya, dengan berat 2,7 kg, cukup baik untuk seorang bayi yang lahir di tengah-tengah perang.

Saya coba membayangkan wajah ayah ketika pertama kali melihat saya dengan kakak perempuan, An, duduk di tepi tempat tidur, tak jauh dari perapian.

Momen keluarga yang gembira walau tidak bertahan lama.

Kakek saya ditugaskan ke Laos, memimpin batalyon artileri tentara komunis untuk memukul mundur pasukan Hmong yang didukung Amerika Serikat dari kawasan yang disebut Jejak Ho Chi Minh.

Ibu yang dibesarkan di barak militer sudah terbiasa menyaksikan ayahnya pergi ke medan perang di Laos sejak pertengahan 1960-an.

Tahun 1969 hingga 1970 perang makin berkorbar dan jumlah korban amat tinggi, sehingga kekhawatiran akan kehilangan kakek amat tinggi pula, yang menghantui ibu saat itu.

Saya sendiri tidak tahu berapa banyak korban yang jatuh di kawasan tempat kakek berperang.

Tapi setelah enam bulan menggempur Hmong, brigade artileri kakek berkumpul kembali di pangkalan militer dekat perbatasan Vietnam.

Saat itu, tanpa angkutan udara, pasukan harus menggunakan jalan darat namun lumpur dan hujan lebat membuat pasukan tidak bisa bergerak karena membawa peralatan artileri yang berat.

Sementara gempuran besar-besaran Amerika terus dilancarkan, siang dan malam.

Kisah perang yang mengerikan yang rincian kisahnya saya dengar dari anggota keluarga yang lebih tua dan tidak akan terlupakan.

Tanggal 8 Januari 1973, akhirnya tercapai kesepakatan damai, ketika saya sudah merayakan ulang tahun pertama, sebuah prestasi yang boleh dibanggakan juga mengingat situasi perang saat itu.

Prestasi itu diperpanjang, setidaknya sampai 43 tahun, dan saya masih juga belum bisa memahami perang yang berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden Nixon.

Dan sebagai individu tentu sulit untuk membuat penilaian hitam putih atas kompleksitas perang.

Tapi bagi yang Anda selamat dari perang dan mendapat kesempatan untuk melihat hal-hal baru -seperti saya- keluarga menjadi hal yang amat penting.

Mereka -dengan sedikit keberuntungan dan kasih sayang- yang menjadi bagian penting dari saya pada hari ini, di London.

*******

BBC Indonesia/Tempo.co