Kisah Air yang Tersesat

by

Putu Setia, www.mpujayaprema.com

Garut News ( Selasa, 21/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Liukan Sungai di Gunung Gelap Garut, Jawa Barat. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Liukan Sungai di Gunung Gelap Garut, Jawa Barat. (Foto: John Doddy Hidayat).

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, diberitakan di koran ini, selalu mengajak bicara tanaman dan pohon yang dipeliharanya.

Untuk menebang pohon, ia meminta izin dulu kepada pohon.

Ketika hendak merawat pohon pun begitu.

Pernah ada tanaman tak lekas hidup meski sudah dipupuk dan Risma pun datang.

“Saya ajak ngomong tanaman itu. Kamu kenapa kok enggak mau tumbuh, padahal kan sudah kami rawat dengan baik?” kata Risma.

Berselang beberapa hari, tanaman itu langsung berbunga.

Risma meyakini seluruh ciptaan Tuhan mempunyai roh.

Tumbuhan punya roh, ini bukan keyakinan baru.

Ini keyakinan para leluhur.

Di Bali, ada yang disebut Tumpek Pengarah, yaitu hari Sabtu Kliwon, 25 hari menjelang Hari Raya Galungan.

Orang Bali membawa sedekah kepada pohon yang berbuah sambil mengucapkan kata-kata yang dikuasai orang (bukan bahasa yang dikuasai pohon).

Dalam bahasa Indonesia kira-kira: “Cepat-cepatlah buahmu matang dan ranum, dua puluh lima hari lagi Galungan. Kau mau kupersembahkan ke Hyang Widhi.”

Entah pohon itu mengerti atau tidak, pohon pisang berbuah bagus, nenas matang dengan manisnya, sotong (jambu biji) pun menguning.

Apakah air juga punya roh dan bisa diajak berdialog?

Sangat bisa, begitu kata para tetua.

Alkisah, air itu ciptaan Tuhan yang paling penting di bumi ini, selain udara dan sinar matahari.

Air dilindungi oleh para dewa.

Air dari langit dibawa turun Dewa Indra, lalu menetes ke bumi dilindungi Dewa Wisnu, masuk ke perut Ibu Pertiwi dan dikeluarkan lewat mata air untuk kehidupan umat manusia.

Jika air berlimpah dan Ibu Pertiwi tak kuasa menampung, dibuatkan genangan berupa danau, dan Dewi Danu melindunginya.

Masih juga berlimpah, air dialirkan oleh sungai ke laut dan berkumpul di sana dalam perlindungan Dewa Segara.

Sayangnya, manusia kian begitu serakah dan tidak lagi menghormati air dengan menyumbat jalannya.

Hujan turun, air tak banyak bisa disimpan Ibu Pertiwi karena pohon sudah ditebang.

Tak ada akar-akar pohon yang menahan air.

Bahkan, masuk ke tanah pun air bingung karena permukaan tanah sudah berubah menjadi beton.

Vila dan permukiman mewah sudah dibangun di hutan.

Terdesak keadaan, air pun berpikir (kan punya roh): “Langsung saja deh ke samudra.”

Eh, sungai pun disumbat oleh sampah yang dibuang manusia.

Juga diganjal oleh longsoran tanah, karena di tebing sungai ternyata ada vila dan di bantaran sungai ada rumah-rumah.

Air yang tersesat itu makin bingung, akhirnya masuk ke permukiman, ke jalan raya, juga ke parkir mal dan perkantoran.

Manusia modern pun mengumpat: “Sialan, banjir bandang.”

Padahal, air hanya minta dimengerti: “Saya tersesat lo, jalan saya di mana sih?”

Kini, ada teknologi rekayasa hujan agar warga Jakarta yang manja ini aman.

Awan basah di langit Jakarta dihalau oleh zat kimia yang ditaburkan pesawat Hercules.

Manusia mau berperang dengan alam, bukan bersahabat.

Hujan pun mengalah (“kasihan biaya rekayasa miliaran”), tapi air diturunkan di Pemanukan, Subang, Cirebon, dan Pekalongan.

Ini rekayasa pengalihan banjir.

Kenapa manusia tidak bersahabat dengan alam?

Kalau air cuma tersesat, kembalikan saja hutan di pegunungan, lindungi sempadan sungai, keruk sampah dari kali, fungsikan danau atau situ atau waduk.

Dan ikuti Ibu Risma, yang selalu berdialog dengan alam.

“Saya ajarkan kepada anak-anak untuk selalu permisi dengan alam,” kata Risma.

Ibu, tolong ajarkan juga ke anak bangsa.

***** Kolom/artikel Tempo.co