Realisasi Keuangan APBD Garut Hanya 71,84 Persen

0
23 views
Kantor Bupati Garut.
Wajah Kemiskinan Penduduk Garut.

“Realisasi Fisiknya 62,48 Persen”

Garutnews ( Selasa, 22/12 – 2020 ).

Realisasi keuangan pelaksanaan APBD Kabupaten Garut T.A 2020 terdiri ‘Belanja Langsung dan Belanja Tidak langung’ (BTL+BL) kondisi November 2020 hanya 71,84 persen. Sedangkan realisasi fisiknya lebih rendah lagi 62,48 persen.

Dari keseluruhan pagu BTL+BL pada 78 ‘Organisasi Perangkat Daerah’ ( OPD) termasuk 42 kecamatan mencapai Rp4.906.820.922.510 tersebut, realisasinya Rp3.524.865.910.061 atau 71,84 persen, serta realisasi fisiknya 62,48 persen.

“Sehingga pada kondisi November 2020 masih tersisa pagu anggaran sekitar Rp1.381.955.012.449,-  Sedangkan fisik belum terealisasi 37,52 persen juga pada kondisi November 2020.”

“Sesumbar Bupati Tak Sesuai Kinerja Penyerapan APBD”

Sesumbar Bupati Garut, Rudy Gunawan pada akhir Nopember 2019 silam menyatakan optimis serapan APBD di akhir 2019 bisa mencapai Rp4,6 triliun (96%). Alibinya, ada lonjakan kenaikan serapan anggaran 82% di awal Desember 2019, katanya.

Ternyata tak sesuai faktanya, lantaran capaian kinerja penyerapannya hingga akhir Desember 2019 terealisasi Rp4.423.195.945.572,59 atau 88,13 persen dari APBD Rp5.019.227.858.278,00 yang diperparah realisasi anggaran kegiatan fisiknya lebih rendah, 81,04 persen dari 78 DPA dengan 3.660 kegiatan.

Di antaranya banyaknya kegiatan gagal lelang, baik bersumber APBN, APBD Provinsi maupun APBD Garut. Termasuk antara lain mega proyek penataan wisata Situ Bagendit, pembangunan ruas jalan Toblong, pembangunan jembatan Maktal lama, dan pembangunan Pasar Cikajang.

Rudy Gunawan juga beralibi, adanya sisa anggaran tak terserap akibat gagalnya proses lelang di Pemkab setempat, karena keterlambatan penerimaan uang dari Pemerintah Pusat maupun Pemprov Jabar ke kas daerah melalui dana alokasi khusus (DAK), dan Bantuan Provinsi (Banprov).

Dia katakan, mega proyek tak terserap dari DAK/APBN senilai Rp10 miliar, APBD Provinsi Jabar Rp40 miliar, dan APBD Garut Rp15 miliar, ungkapnya.

Sebelumnya Tim Liputan Khusus Garut News melaporkan, capaian kinerja penyerapan APBD Kabupaten Garut selama tahun anggaran 2019 terealisasi sekitar 88,13 persen atau Rp4.423.195.945.572,59 sehingga yang tidak terserap mencapai 11,87 persen bernilai Rp596.031.902.705,41

Sedangkan totalitas realisasi fisiknya hingga 31 Desember 2019 tersebut sekitar 81,04 persen, dengan pagu APBD bernilai Rp5.019.227.858.278,00 berjumlah DPA 78, dan jumlah kegiatan 3.660.

Berdasar investigasi maupun penelusuran Tim Liputan Garut News juga menunjukan, pada 78 DPA dengan 78 kegiatan BTL berpagu dana bernilai Rp2.613.378.349.621,00 terealisasi 95,26 persen keuangan, dan fisiknya bernilai Rp2.489.470.899.312,00

Kemudian BL dengan 75 DPA berjumlah kegiatan 3.582 pagu dananya Rp2.405.849.508.657,00 realisasi keuangannya 80,38 persen bernilai Rp1.933.725.046.260,59 sedangkan realisasi fisiknya 65,60 persen.

Sebanyak 11,87 persen atau mencapai Rp596.031.902.705,41 tidak terserapnya dana APBD Kabupaten Garut 2019, selain lantaran adanya gagal lelang juga pada bantuan provinsi di lingkungan Dinas PUPR, Dinas Perkim, dan gagalnya pembangunan di Situ Bagendit.

Kinerja penyerapan APBD 2019 pada Dinas PUPR kabupaten setempat terealisasi sekitar 81 persen bernilai Rp346.753.999.671,00 dari pagu dana Rp425.307.152.818,00 dengan realisasi fisiknya sekitar 83 persen.

Pada Dinas Perkim terealisasi 97,72 persen atau Rp340.300.652.549,00 dari pagu dana Rp348.233.810.870,00 dengan realisasi fisiknya 92,73 persen.

Apapun alibinya, capaian kinerja penyerapan APBD 2019 yang ternyata tidak terserap mencapai Rp596,031 miliar lebih itu, sangat merugikan khususnya bagi masyarakat penerima manfaat.

Sebab antara lain jalan kabupaten pun banyak mengalami kerusakan, termasuk di antaranya gagalnya pembangunan jalan di Toblong pada 2019 itu.

“Diperparah Pandemi Maut” 

Kondisi 2020 juga diperparah pada, Selasa (22/12-2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Garut melaporkan terjadi lima kasus baru kematian akibat wabah corona di Garut dari empat kecamatan.

Jumlah tersebut merupakan volume harian kasus kematian tertinggi akibat penularannya di kabupaten ini.

Dari lima pasien meninggal dunia terebut dua orang di antaranya asal Kecamatan Garut Kota, yakni laki-laki (KC-2876) 52 tahun dan perempuan (KC-3119) 54 tahun. KC-2876 masuk isolasi perawatan menyusul dikonfirmasi positif pada 16 Desember 2020.

Sedangkan KC-3116 masuk isolasi perawatan paskaterkonfirmasi positif pada 18 Desember 2020.

Meninggalnya kedua pasien itu maka jumlah kematian akibat Covid-19 di wilayah Kecamatan Garut Kota bertambah menjadi 18 kasus. Menjadikan Kecamatan Garut Kota sebagai kecamatan berangka kematian tertinggi di antara kecamatan lainnya.

Sebanyak tiga pasien positif lainnya meninggal dunia yakni laki-laki (KC-2843) 79 tahun dari Kecamatan Cikajang, laki-laki (KC-3395) 55 tahun dari Kecamatan Leles, dan perempuan (KC-3423) 72 tahun dari Kecamatan Kadungora.

Menjadikan jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di ketiga kecamatan bersangkutan bertambah, masing-masing menjadi dua kasus, tiga kasus, dan lima kasus.

Terdapatnya lima pasien positif meninggal dunia ini pun menjadikan total jumlah kematian akibat penularan di Kabupaten Garut bertambah menjadi 92 kasus.

Keseluruhan positif di Kabupaten Garut pun mencapai 3.444 kasus dengan adanya penambahan 28 kasus baru positif.

Sebanyak 28 kasus baru positif terdiri 16 perempuan dan 12 laki-laki, berusia antara 12 tahun sampai 72 tahun.

Ada pula penambahan 15 pasien dinyatakan sembuh. Sehingga total jumlah pasien dinyatakan sembuh menjadi 1.942 orang. Sedangkan pasien positif masih dalam isolasi perawatan mencapai  1.410 orang.

******

Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here