Khusyuk Jadi Pengobat Luka

0
28 views
Shalat Tetap Khusu Meski Dikepung Hamparan Karang Terjal Pantai Garut Selatan. (Ilustrasi/Foto : John Doddy Hidayat).

Kamis 19 July 2018 23:31 WIB
Red: Agung Sasongko

“Khusyuk bukan berarti lupa segala-galanya”

Shalat Tetap Khusu Meski Dikepung Hamparan Karang Terjal Pantai Garut Selatan. (Ilustrasi/Foto : John Doddy Hidayat).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selepas kemenangan kaum Muslimin atas kaum kafir di perang Dzatur Riqa’, Rasulullah bersama pasukan kaum Muslimin langsung bertolak ke Madinah. Dalam perjalanan, pasukan kaum Muslimin terpaksa bermalam di sebuah tempat. Lantas disuruhlah dua orang sahabat Rasulullah ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyir untuk berjaga-jaga di tempat yang disebut pintu Syi’b.

Kedua sahabat yang kelelahan tersebut bersepakat untuk jaga malam secara bergantian. Melihat ‘Ammar yang sangat kelelahan, ‘Abbad meminta rekannya untuk tidur lebih dahulu. Ia pun mulai berjaga-jaga.

Melihat lingkungan sekelilingnya aman dan hening, terlintaslah dalam pikirannya untuk mengisi waktu dengan shalat malam. Bukankah ia bisa memperoleh pahala berlipat?

Ketika tengah khusyu’ dengan bacaan shalatnya, tanpa disadari ‘Abbad, ada sepasang mata yang mengincarnya. Sejurus kemudian, sebatang panah pun menancap di pangkal lengannya. Herannya, panah itu diabaikannya begitu saja. Ia terus melanjutkan shalatnya seakan tidak terjadi apa-apa.

Tak lama berselang, panah kedua dan ketiga pun berdesing menghujam tubuhnya. Namun, ‘Abbad tetap saja bersikap tenang seperti tak terjadi apa-apa. Panah yang menancap di tubuhnya itu secara perlahan dicabutnya, lalu ia teruskan shalatnya. ‘Abbad yang hampir sekarat itu terus menyelesaikan shalatnya. Setelah salam ke kanan dan kekiri, barulah ia tarik rekannya ‘Ammar yang tertidur.

Spontan saja, ‘Ammar yang baru terbangun dari tidurnya sangat kaget melihat rekannya yang sudah bersimbah darah. “Gantikan aku mengawal, karena aku telah kena,” tutur ‘Abbad dengan sisa tenaganya.

Si pemanah pengecut itu pun lari tunggang-langgang melihat banyak di antara kaum Muslimin yang sudah terbangun. “Subhanallah, mengapa aku tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi?” tanya ‘Ammar kepada ‘Abbad.

“Ketika aku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat Alquran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya. Demi Allah, kalau bukan karena takut mengabaikan tugas yang diperintahkan Rasulullah, aku akan biarkan orang itu membunuhku hingga aku selesaikan bacaanku,” ujar ‘Abbad. Demikian seperti dikisahkan dalam Bidayah wan Nihayah Karangan Imam Ibnu Katsir.

Sedemikian hebatkah kekuatan khusyuk sehingga mampu menghilangkan rasa sakit dipanah? Seorang ‘Abbad bin Bisyir secara sukarela dipanah dan hampir terbunuh hanya karena tidak ingin memutuskan shalatnya. Pastilah ada suatu kenikmatan luar biasa dalam khusyuknya yang bisa melebihi rasa sakit akibat ditembus panah.

Demikian juga agaknya ketika Ali bin Abi Thalib yang pernah tertusuk panah. Seperti dikisahkan dalam Tafsir Kasyf al-Asrâr Maibadi, sebuah anak panah pernah menembus kaki beliau hingga mengenai tulangnya.

Meski telah diusahakan untuk mencabut, namun tidak kunjung berhasil. Satu-satunya cara untuk mencabutnya adalah dengan menusukkan anak panah tersebut sampai benar-benar tembus, kemudian mematahkan ujungnya. Barulah panah itu bisa dicabut.

Ali bin Abi Thalib pun meminta agar anak panah tersebut dicabut ketika ia tengah menunaikan shalat Ashar. Benar saja, ketika beliau tengah khusyuk dengan shalatnya, seorang tabib datang untuk mencabut anak panah itu. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sama sekali tak merasakan kesakitan. Tatkala beliau memberikan salam, Ali langsung berujar, “Sekarang lukaku agak ringan.”

Khusyuk seperti inilah yang tak ingin dilewatkan para sahabat ketika shalat. Kenikmatan ‘bercakap-cakap’ dengan Allah telah menjadi penawar dari segala bentuk kesakitan. Jika sakit yang nyata seperti tertusuk panah saja bisa lenyap dengan shalat, apalagi dengan sakit ruhani.

Hati yang tidak tenang, pikiran yang buntu, dan jiwa yang ada dalam kegalauan. Shalat dengan khusyuklah yang menjadi penawar semua itu. Ketika mengadukan semuanya kepada Allah maka segala persoalan pasti akan diselesaikan oleh Yang Mahakuasa. Pantas saja Allah berfirman, “Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat. Namun, yang demikian itu sungguh berat, melainkan bagi orang-orang yang khusyuk,” (QS al-Baqarah [2]:153).

Khusyuk bukan berarti lupa segala-galanya. Seperti didefenisikan Imam Ibnu Rajab, khusyuk berarti kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia kepada Allah SWT. Intinya, seorang hamba menyadari bahwa ia tengah berkomunikasi dengan Allah. Ketahuilah, di akhirat nanti, kenikmatan terbesar seorang hamba ketika menemui Rabb mereka di surga. Bagaimanakah kiranya, ketika mereka bisa merasakan itu di dunia?

Sumber : Dialog Jumat Republika

*******

Republika.co.id