Ketika Tanah Ini Belum Bernama Indonesia

0
9 views
Ist.
Ist.

Jakarta, Garut News ( Kamis, 16/04 – 2015 ).

Sebuah film panjang biopic tentang guru yang menginspirasi para pendiri negara ini. Reza Rahadian adalah ledakan.

***

Inilah masa ketika tanah ini belum bernama Indonesia.

Sebuah masa di mana kita boleh saja membayangkan seorang gadis cantik bernama Stella berlari-lari, menyusul dan mendesak-desak tokoh besar Haji Oemar Said Tjokroaminoto tentang sebuah nama masa depan. Stella (Chelsea Islan), gadis cantik keturunan Tionghoa, adalah tokoh fiktif yang dimaksudkan mewakili pertanyaan penonton: apakah kelak nama tanah air kita?
Saat itu Hindia Belanda memasuki episode gerakan Politik Etis setelah terlepas dari era tanam paksa. Kemiskinan dan kesenjangan antar-ras dan feodalisme masih menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Sejak kecil, Tjokro sudah memperlihatkan sikap yang gelisah terhadap situasi ini. Dalam film ini, diperlihatkan bagaimana dia membantu seorang yang disiksa majikannya.

Sebetulnya ada beberapa hal simbolis yang menunjukkan bagaimana Tjokro tak nyaman dengan feodalisme dan penjajahan: dia tidak setuju dengan laku dodok berjalan di depan bangsawan dan dia juga menanggalkan gelar raden.

Tapi bukan sekadar sikap kritisnya terhadap feodalisme yang membuat Tjokroaminoto dianggap sebagai ”bapak” yang melahirkan para ”bapak pendiri” tanah air ini. Adalah Tjokro yang menggagas agar organisasi Sarekat Dagang Islam, yang didirikan Haji Samanhudi dari himpunan para pedagang pribumi muslim, terutama pedagang batik, berubah wujud menjadi Sarekat Islam (SI).

Dalam pandangan Tjokro, gagasannya untuk mendirikan SI, mereka harus bisa mengembangkan organisasi ekonomi ke politik. Dia berpikiran modern; dia pandai membakar massa dengan pidato yang membangkitkan harapan dan tak aneh jika dia berhasil menggalang dua juta anggota.

Jika kelak dia disebut sebagai ”Ratu Adil” oleh rakyat dan disebut ”Raja tanpa Mahkota” oleh pemerintah Belanda, tentu itu ada alasannya.

Tjokro paham dengan karismanya. Karena dia seorang muslim yang baik dan taat, karismanya digunakan untuk sesuatu yang baik pula buat rakyatnya.

Sutradara Garin Nugroho jelas ingin memperlihatkan tokoh H O.S. Tjokroaminoto sebagai juru peta politik di Indonesia. Tanpa Tjokro, tak akan lahir Sukarno, Haji Agus Salim, Semaoen, dan Kartosoewirjo, yang kita kenal dalam sejarah.

Tanpa Tjokro, kaum pergerakan dan partai politik di Indonesia tak akan menggeliat dan meledak seperti yang tercatat dalam sejarah.

Tapi mengangkat kisah seorang intelektual ke atas layar putih, apalagi yang memang anti-kekerasan serta penuh kegiatan pergerakan dan diskusi, tentu bukan perkara mudah. Tak cukup dengan tata artistik dan kostum yang bagus, tapi Garin dan para penulis skenario sadar bahwa mereka harus membangun cerita yang mengalir dan logis yang tidak membuat penonton ketiduran.

Film ini tak mungkin memiliki klimaks, karena memang hidup Tjokro tampaknya terdiri atas serangkaian klimaks kecil: dia dituduh menggerakkan kerusuhan di Garut dan ditahan oleh Belanda. Tapi tuduhan itu toh tak terbukti.

Adegan mereka yang langsung menjura di depan Tjokro saat tokoh besar itu melangkah masuk ke tempat tahanan memang mengharukan dan sekaligus meyakinkan saya: Reza Rahadian adalah seorang aktor serba bisa.

Ada atau tak ada kumis tebal Tjokro itu, Reza segera saja masuk menyusup ke sebuah tubuh Tjokro ciptaannya yang lantas kita percayai sebagai Tjokroaminoto, seseorang yang kita kenal sebagai guru bagi para pemimpin kita.

Seandainya drama personal Tjokro dijelajahi lebih dalam, mungkin akan lebih menarik lagi. Tentu Garin menyentuh ayah mertua Tjokro yang tampak jengkel kepada menantunya yang di masa mudanya sibuk berpolitik atau kita juga sempat diperkenalkan sekilas putri Tjokro yang bernama Utari, yang kelak dikenal sebagai istri pertama Bung Karno ketika masih bernama Kusno.

Kita juga menyaksikan betapa kompaknya Soeharsikin (Putri Ayudya, seorang pemain teater yang menurut saya sungguh layak diperhatikan para sutradara) dan Tjokro dalam berpolitik sekaligus sebagai suami-istri hingga kita percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.

Tapi riuh-rendahnya rumah Tjokro yang menjadi tempat ”kos” dan ngobrol para pemimpin negeri ini seharusnya bisa lebih diperluas. Kita ingin tahu lebih banyak pertarungan pemikiran Semaoen yang kelak menanamkan cikal-bakal komunisme yang bertentangan dengan kawan-kawannya yang lain.

Tentu saja saya akan lebih jatuh hati jika Garin tak perlu kenes dengan memasukkan berbagai adegan nyanyi, tari, dan kor pada setiap titik yang dianggap semacam perubahan periode atau perubahan segmen.

Sudah cukuplah Garin membuat Soegija, yang hampir mirip film semi-musikal. Biarkan para pemain yang dahsyat ini mengeluarkan semua keahlian mereka yang jitu: seni peran. Dan yang ingin menyanyi atau bergabung dengan kor pasti ada wadahnya yang lain.

Tjokro adalah pendiri Sarekat Islam yang berpikiran sangat modern untuk zamannya. Saya ingin sekali melihat perwujudan karakter beliau yang modern itu. Bahwa Islam kemudian menjadi dasar dari moral dan gerakan politiknya tentu sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi, harus diingat, Tjokro selalu dipuja dan diingat antara lain karena dialah yang meniupkan modernisasi dalam berorganisasi: dengan koperasi dan dengan menekankan pentingnya informasi melalui surat kabar.

Tapi saya tetap menikmati film ini, meski rada panjang, karena sudah lama Indonesia (modern) kehilangan tokoh politik yang ideal. Melihat bagaimana Tjokro dengan para muridnya, seperti Semaoen, Haji Agus Salim, dan belakangan Kusno (Sukarno), berinteraksi dan berdebat, kita percaya bahwa kita bukan bangsa yang buruk dan pemalas.

Film ini membuat kita semakin merindukan pemimpin-pemimpin yang ideal. 

Leila S. Chudori/Tempo.co

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO

Sutradara: Garin Nugroho
Skenario: Ari Syarif, Erik Supit
Pemain: Reza Raha
dian, Christine Hakim, Putri Ayudya, Didi Petet, Alex Komang, Maia Estianty, Ibnu Jamil, Tanta Ginting

Produksi: Yayasan Keluarga Besar H.O.S. Tjokroaminoto, Pic[k]lock Films, dan MSH Films