Ketika Imam Al Asyari Membuat Kaum Rasionalis Terdiam

0
3 views
Imam Al Asyari memberikan argumen mengalahkan kaum rasionalis. Membaca Alquran (ilustrasi). Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto.

Ahad 01 Mar 2020 09:21 WIB
Red: Nashih Nashrullah

Alqur’an, di Museum Madinah. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Imam Al Asyari memberikan argumen mengalahkan kaum rasionalis”

REPUBLIKA.CO.ID, Imam Al Asy’ari merupakan seorang ulama yang piawai dengan kedalaman ilmu yang mumpuni.

Riwayat menuturkan, ketika itu, Al Asy’ari mempertanyakan persoalan berikut. Satu jahat, satu saleh, dan satu masih kecil. Mereka meninggal. Bagaimana nasib masing-masing?

Dalam episode dialog ini, disebutkan bahwa Al Jabbai, pendiri Mazhab Mu’tazilah, lantas menjawab bahwa yang saleh masuk surga, yang jahat masuk neraka, dan yang masih kecil masuk dalam kelompok samar, ‘kaum damai’ yang berada satu tempat di antara dua tempat (manzilah bayna al-manzilatayn).

Lebih jauh, Al Asy’ari bertanya kembali, ”Bila yang kecil minta izin untuk mengunjungi saudaranya di surga, apa dibolehkan?”

Al Jubbai pun menjawab, ”Berdasarkan doktrin keadilan Muktazilah, itu adalah tidak karena surga hanya dapat dimasuki dengan perbuatan baik.”

Merasa kurang puas dengan penjelasan itu, Al Asy’ari mengajukan pertanyaan susulan, yakni bila si kecil berkata, ”Kalau saja aku dibiarkan tetap hidup, aku akan dapat masuk surga.”

Sekali lagi, Al Jubbai yang mendasarkan sikapnya pada prinsip Muktazilah tentang kemahabaikan Tuhan mengatakan, si kecil akan diberi tahu bahwa dia beruntung mati ketika masih kecil.

Dari situ, Al Asy’ari mengambil kesimpulan, ”Namun, jika saudaranya yang jahat kemudian bertanya kepada Tuhan, ‘Engkau mengetahui kebaikan si kecil dan memutuskan mencabut nyawanya untuk mencegahnya dari berbuat jahat yang akan menghancurkan dirinya. Engkau pasti mengetahui masa depanku juga. Mengapa Engkau menolongnya dan bukan aku?”’

Al Jubbai pun kebingungan. Setelah itu, Al-Asy’ari memutuskan keluar dari kelompok Muktazilah.

Tiga pokok

Meski demikian, perbedaan pandangan dengan Muktazilah juga terkait bidang lain. Paling tidak, ada tiga hal pokok yang ditentang Al Asy’ari.

Pertama, netralisasinya terhadap sifat Tuhan menjijikkan bagi Islam. Al Asy’ari menilai, subyek dan predikat tidak mungkin satu dan sama, begitu juga Tuhan dan sifat-sifat-Nya tidak mungkin satu.

Menurut dia, ini semua bukan apa yang ditegaskan Muktazilah (bahwa sifat-sifat itu intrinsik pada Tuhan dan karena itu merupakan diri-Nya), juga bukan apa yang mereka sangkal (bahwa sifat abadi merupakan Tuhan lain di samping Tuhan).

Pertanyaan mereka juga dianggap keliru. Sifat-sifat ini jelas merupakan sifat Tuhan karena Dia menggambarkan diri-Nya dalam sifat-sifat tersebut.

”Pada sifat-sifat itu, terdapat kualitas transenden-Nya yang membuat pertanyaan menjadi tidak berguna. Karena, secara definisi, transenden berada di luar pengetahuan manusia,” jelas Al Asyari.

Kedua, Al Asy’ari setuju bahwa kata, suara, dan asosiasi bermakna dari kata dan suara, tercipta serta ditetapkan melalui kebiasaan.

Namun, semuanya itu bukanlah Alquran, sambungnya, melainkan hanyalah substansi empirisnya.

Dalam kaitan ini, dia berpendapat bahwa Alquran adalah ucapan pribadi Tuhan. Alquran membentuk realitas dari tatanan yang berbeda, realitas spiritual yang dapat dipahami melalui pikiran.

”Jadi, Alquran abadi karena bagian dari Tuhan. Seperti Tuhan, Alquran bukan makhluk,” paparnya.

Adapun aspek ketiga, al Asy’ari menganggap bahwa Muktazilah keliru dalam menyangkal visi kebahagiaan di surga.

Muktazilah sendiri berpegang bahwa di surga, visi terjadi seperti di bumi. Al Asy’ari justru melihat bahwa surga merupakan bidang transenden yang tidak menyerupai alam.

Karena Tuhan telah berjanji bahwa orang beriman akan melihat-Nya di surga, tak seorang pun mempunyai hak untuk menyangkalnya. Sebaliknya, umat Muslim malah berusaha menegaskannya seperti dijelaskan dalam surat Al Qiyaamah [75] ayat 23.

Di samping itu, dalam “Ensiklopedi Nurcholis Madjid” karya Budhy Munawar Rachman, terungkap bahwa Al Asy’ari juga mengembangkan alur argumen logis dan dialektis sebagaimana dia pelajari dari para guru Muktazilah.

Setelah dikembangkan sedemikian rupa oleh Al Asy’ari serta oleh para pengikutnya yang lain, terutama Al Ghazali, argumen itu menjadi tumpuan kekuatan paham Al Asy’ari sebagai doktrin/akidah Islamiyah/kaum Sunni.

Salah satu yang fenomenal adalah argumen kalam Al Asy’ari. Pusat argumentasinya berada pada upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagat raya dan bahwa jagat raya itu ada karena diciptakan Tuhan dari ketiadaan (min al ‘adam)

sumber : Harian Republika

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here