Ketekunan Berdagang Bajigur Tembus Pangsa Pasar Perbankan

0
86 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Senin, 01/02 – 2016 ).

Jasa Layanan Konsumsi Para Pensiunan.
Jasa Layanan Konsumsi Para Pensiunan.

Profil inspiratif saat ini Garut News memotret Mang Iya, lelaki berusia 63 tahun. Sejak 34 tahun lalu dia menekuni profesinya sebagai pedagang bajigur atawa minuman khas masyarakat Tatar Sunda, atawa Jawa Barat.

Mata dagangan tersebut, selama ini dijajakannya pada sepanjang lintasan Perkotaan Garut, kendati sesekali menyempatkan mangkal di beberapa titik lokasi dinilainya sangat strategis sambil rehat sejenak.

Antri Bajigur.
Antri Bajigur.

Ayah lima anak juga kakek dari lima cucunya itu, mengaku kerap bermandikan peluh mendorong roda komoditi bajigurnya.

Antara lain dilengkapi ragam jenis penganan di antaranya ubi rebus, “katimus” maupun penganan berbahan baku singkong berisi gula merah dibungkus daun pisang kemudian direbus, serta kelepon.

Penduduk mengaku berdomisili di Kecamatan Samarang ini katakan, ketika menyempatkan mangkal di pinggiran lintasan Jalan A. Yani. Tanpa diduga berdatangan sejumlah konsumen dari salah satu lembaga perbankan milik swasta di Kota Garut.

Karyawan Lembaga Perbankan swasta pun Mencicipinya.
Karyawan Lembaga Perbankan swasta pun Mencicipinya.

Setelah beberapa kali mereka membeli bajigur, ternyata terdapat penawaran mangkal di komplek perbankan tersebut.

Guna memenuhi konsumsi kalangan pensiunan pegawai negeri, yang menunggu proses pembayaran gaji pensiunnya.

Sehingga setiap konsumen dengan menukarkan nomor antrian masing-masing, bisa gratis menikmati bajigur sambil menyantap ragam penganan tersedia.

Dikemukakan Mang Iya, omset maupun modal usaha yang dijajakannya pada komplek perbankan milik swasta itu, nilainya mencapai Rp700 ribu.

Mang Iya.
Mang Iya.

Kemudian mangkal sejak pagi (Senin, 01/02-2016) hingga menjelang sore, yang diharapkan hasil transaksi penjualannya bisa mencapai di atas Rp1 juta, imbuh Mang Iya pula.

Dikatakan, seluruh proses produksinya memanfaatkan serpihan batok kelapa atau tempurung yang dibeli dengan harga Rp15 ribu, sebanyak satu karung kecil untuk bahan bakar produksi selama sehari penuh, katanya.

Digunakannya bahan bakar serpihak batok kelapa, lantaran lebih panas dibandingkan menggunakan minyak tanah, atawa gas elfiji tabung berkapasitas tiga kilogram, bebernya pula.

Berbahan Bakar Serpihak Batok Kelapa atawa Tempurung.
Berbahan Bakar Serpihak Batok Kelapa atawa Tempurung.

Ditambahkan, baru pertama kali bisa mangkal berjualan sekaligus dicarter lembaga perbankan swasta, setelah 34 tahun berdagang keliling kota.

 

*******

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here