Ketegangan Psikologis Masyarakat di Pemilu 2019

0
24 views
Rekapitulasi Perhitungan Suara di PPK Cikajang Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selasa 23 Apr 2019 17:02 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

Rekapitulasi Perhitungan Suara di PPK Cikajang Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

“Ketegangan psikologis selama Pemilu meningkat”

Ratusan juta pasang retina tertuju pada Pemilu 17 April 2019. Melalui mata itulah ketegangan psikologis juga ikut meningkat. Antusiasme masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri untuk berpartisipasi pada pemilu kali ini juga naik secara tajam.

Orang-orang yang biasanya tidak peduli dengan pemilu atau memilih golput, kini ikut memberikan pilihannya. Ketegangan itu memang semakin terasa menjelang detik-detik pencoblosan. Namun, eskalasi politik rupanya semakin meroket setelah pemilu berlangsung.

Hal ini memberikan efek sangat kompleks bagi kehidupan personal ataupun relasi antarindividu. Banyak orang keluar dari grup di media sosial karena perdebatan politik yang amat sengit di dalamnya. Ada juga hubungan keluarga yang menjadi dingin, bahkan retak disebabkan perbedaan pilihan calon presiden.

Hal yang sangat jelas adalah tingkat stres pada seseorang menanjak karena suhu politik semakin meningkat. Baik orang itu terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dengan membaca berita di dunia maya, kondisi psikologis bisa berubah secara cepat.

Sebuah kasus nyata yang penulis temukan, karena begitu panasnya pilpres kali ini, seorang warga biasa mengalami stres yang sangat signifikan hingga mengalami gangguan pada pendengaran yang bersifat permanen.

Dia tidak terlibat secara langsung dalam percaturan politik pilpres, tetapi ingar bingar politik membuat dirinya mengalami tekanan cukup hebat hingga berdampak pada pendengaran yang membuat ia sulit tidur pada malam hari.

Profesor Abdul Rashid Moten mengatakan, ”Anda tidak bisa menghindar dari politik.” Awalnya, penulis anggap itu klise karena penulis dididik jalur psikologi secara formal bukan politik. Beberapa tahun kemudian, penulis baru menyadari sepenuhnya dari sudut pandang psikologi bahwa yang ia katakan benar.

Melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini, penulis kembali teringat pertemuan dengan Profesor Abdul Rashid Moten lebih dari 10 tahun lalu. Politik memengaruhi seluruh sendi psikologi masyarakat. Ada baiknya, tim psikologi segera diterjunkan.

Tujuannya, memulihkan kondisi masyarakat yang terombang-ambing dalam kancah politik yang semakin membara. Memulihkan sepenuhnya mungkin sulit, tetapi setidaknya berusaha menahan agar tidak terperosok terlalu dalam pada titik stres yang membahayakan kesehatan mental masyakarat secara luas.

Masyarakat dipertontonkan adanya kecurangan tanpa respons positif, baik dari pemerintah, KPU, maupun aparat. Tak sedikit dari mereka merasa frustrasi melihat keadaan tersebut, dirasakan seperti sedang menelanjangi demokrasi, lalu menertawai hingga menunggunya mati.

Sebuah konsep masyhur dalam psikologi dikenal frustration leads to aggression, rasa frustrasi menuntun kepada perilaku agresif. Sebodoh apa pun masyarakat ketika mereka tahu sedang atau telah dibohongi, pasti timbul rasa kesal dan benci di dalam relung hatinya.

Apalagi di budaya Timur, Indonesia khususnya, di mana orang-orang lebih banyak memendam perasaan dan apa yang ada di dalam pikiran mereka ketimbang mengungkapkannya secara langsung. Berbeda dengan budaya Barat yang lebih ekspresif mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

Manusia mempunyai ambang batas untuk menyimpan rasa kekesalan. Jika banyak kekecewaan terpendam di dalam dada banyak orang hingga memuncak, mereka akan berujung pada kondisi yang biasa dikenal sebagai frustrasi. Saat banyak orang frustrasi berkumpul, bisa mendorong mereka bergerak bersama-sama.

Rasa frustrasi yang terus bergejolak di dalam sanubari dapat berubah menjadi perilaku agresif. Sebagai contoh, seorang caleg menjadi marah-marah di sebuah masjid di daerah Tidore karena telah memberikan banyak sumbangan, tetapi tidak ada yang memilihnya dan juga capresnya.

Walhasil, masyarakat mengeluarkan bantuan karpet yang diberikannya sewaktu kampanye. Marahnya itu refleksi dari rasa frustrasi. Demokrasi politik di Indonesia bukan hanya membutuhkan biaya mahal secara finansial, melainkan juga harga kesehatan jiwa orang-orang di dalamnya, baik terlibat langsung maupun tidak.

Frustrasi mendorong perilaku agresif merupakan formula psikologi yang tak terbantahkan lagi bagi kebanyakan manusia. Apa pun kulturnya, warga negaranya, pilihan politiknya, jenis kelaminnya, juga agamanya. Namun yang membedakan adalah tingkat eks ternalisasi atau pengekspresian agresivitasnya.

Dalam kacamata psikologi Gestalt, manusia mempunyai kecenderungan alamiah untuk berkumpul dengan manusia lain berdasarkan kesamaan. Apa pun jenis kesamaannya: nasib, hobi, tingkat ekonomi, ideologi, dan lainnya. Contoh, para kolektor mobil mewah akan berkumpul dengan orang yang berhobi sama.

Barisan sakit hati di pemerintahan akan mudah membentuk organisasi atau partai baru untuk menjadi oposisi. Begitu juga, dengan orang-orang yang merasa frustrasi, kesal, dan kecewa akibat perilaku penguasa yang semena-mena, mereka akan cenderung untuk berkumpul bersama.

Berkumpul itu memberi rasa nyaman juga energi baru untuk melakukan suatu hal, seperti demonstrasi, mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi, dan menggalang massa di dunia virtual untuk membuat tagar tertentu. Secara individu, berkumpulnya manusia dengan persamaan nasib bisa menjadi ‘obat’ untuk dapat saling menyembuhkan.

Pemerintah sebaiknya tak membiarkan pemilu ini menambah tekanan psikologis yang amat tidak sehat di seluruh lapisan masyarakat. Beban psikologis memang tidak terlihat secara kasat mata, tapi ia baru akan terlihat jelas ketika sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan seperti berimbas pada gangguan fisik.

Sebagai contoh, kondisi stres bisa menyebabkan rasa gatal, hilangnya pendengaran dan penglihatan, halusinasi, mual-mual, dan bahkan bisa berujung bunuh diri. Jangan sampai masyarakat Indonesia yang dikenal dengan kesantunan dan keramahan, berubah menjadi beringas.

Mungkin ada baiknya kita merenung, mengapa banyak gangguan jiwa di Indonesia? Apakah masyarakatnya yang gila hingga membuat penguasanya menjadi gila ataukah penguasanya yang gila hingga membuat masyarakatnya menjadi gila?

TENTANG PENULIS

IHSHAN GUMILAR, Neuropsikolog

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here