Kesederhanaan dan Kemiskinan yang tak Berjarak

0
17 views
Ady Amar (Foto: dok. Pribadi).

Rabu 07 March 2018 07:30 WIB
Red: Agus Yulianto

Zaman tidak berubah, tapi justru sikap hidup manusia yang berubah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ady Amar *)

Ady Amar (Foto: dok. Pribadi).

Sejarah itu senantiasa menampilkan tokoh di dalamnya. Dan tokoh itu, apa pun perangainya, baik atau buruk, akan dicatat dalam lembar sejarah. Maka ia akan dibicarakan saban waktu melintasi zaman.

Kita boleh saja memiliki pandangan yang berbeda tentang pilihan politik, dan bahkan metode perjuangan dari seorang tokoh, tapi satu hal, kita tidak boleh menafikan tentang perangai baik yang “ditulisnya” dalam perjalanan hidup sang Tokoh, yang bisa menjadi inspirasi generasi sesudahnya.

Tokoh yang melatari sejarah perjalanannya adalah pribadi yang bisa diteladani sikap-sikap hidupnya dan hal-hal lainnya yang positif yang menempel pada diri sang Tokoh.

Membaca sejarah para tokoh adalah bentuk afirmasi menemukan kebaikan di tengah-tengah pusaran zaman dimana sulit untuk menemukan pribadi-pribadi menonjol, yang hidup sederhana dan tanpa pamrih.

Tidak dipungkiri bahwa kita masih memiliki tokoh-tokoh yang hidup sederhana, meski tidak banyak, dan hanya bisa dihitung dengan jari. Salah satu yang masih hidup dan menonjol dalam hal kesederhanaan dan konsisten memilih jalur kebaikan, Abdullah Hehamahua, mantan Penasihat KPK, 2005-2013. Sebelumnya kita kenal juga Baharuddin Lopa (1935-2001) dan Satrio “Billy” Budihardjo Joedono (1932-2017), adalah pribadi-pribadi yang memilih jalan kesederhanaan.

***

Ada kebiasaan unik yang menempel pada diri ini. Setiap kesempatan ke toko buku, maka beberapa buku saya beli, tapi kebanyakan tidak langsung saya baca. Bahkan bisa jadi, baru terbaca berbulan-bulan kemudian, atau bahkan setahun pun belum tersentuh. Tapi pada saatnya pastilah buku itu saya baca juga. Tidak ada yang mubazir.

Ada beberapa sebab, kenapa kebiasaan itu seperti menjadi hal yang biasa-biasa saja. Mungkin membaca menjadi “nikmat” jika apa yang kita baca memang sedang dibutuhkan, atau membaca karena mood pada tema-tema tertentu sedang bergelora.

Semalam, sebuah buku genre Novel Epik Sejarah, yang saya beli beberapa tahun lalu menjadi menu untuk disantap. Ingin juga membaginya dengan Anda.

Saya ingin mengutip intro novel itu, yang cukup menarik, tentang kesederhanaan salah satu pemimpin bangsa.

“Ayahmu Menteri Keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah menguasai uang negara, tetapi tidak punya uang untuk membeli kain gurita untuk adikmu, Khalid, yang baru lahir. Kalau Ibu tidak alami sendiri kejadian itu, Ibu pasti bilang bahwa itu khayalan pengarang. Tapi ini nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong kain gurita.”

Kalimat itu tentunya bukan episode abal-abal dalam Sinetron Turki yang mengumbar kisah absurd, yang judul dan isi cerita terkadang tidak nyambung di pikiran normal. Kisah itu adalah secuil kisah yang disampaikan sepenuh hati oleh istri Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Tengku Halimah Sjihabuddin.

Tulisan ini tidak sedang ingin membahas kiprah Pak Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) dalam episode pergerakan merebut kemerdekaan, atau dalam pusaran sejarah pasca kemerdekaan.

Hanya ingin menunjukkan, betapa kesederhanaan Tokoh Pergerakan yang satu ini amat sederhana, bahkan untuk ukuran orang yang hidup tidak beruntung pada saat ini.

Bayangkan, saat itu Pak Sjafruddin menjabat sebagai Menteri Keuangan, tapi untuk membeli sepotong kain gurita untuk sang anak, yang baru lahir, tidak mampu…

Kesederhanaan dan kemiskinan tampaknya tak terlalu berjarak pada diri Pak Sjafruddin itu. Sulit kita menafsiri, apakah itu masuk kategori “sederhana” atau “miskin”.

Tampaknya saat ini, pemimpin sederhana itu, sudah sulit kita temukan lagi. Sudah seperti barang langka. Zaman tidak berubah, tapi justru sikap hidup manusia yang berubah, dan banyak faktor yang mempengaruhinya.

Buku yang saya baca itu, karya Akmal Nasery Basral, berjudul “Presiden Prawiranegara, Kisah 207 Hari Sjafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia” ... Buku yang layak dibaca siapa saja, yang suka melihat salah satu “episode” sejarah yang tidak biasa.

*Pemerhati Masalah Sosial

*******

Republika.co.id