Kepsek SMPN 1 Leuwigoong Mengemban Misi Bahasa/Budaya Indonesia

0
51 views
Tari Ular Asal Samarang Garut.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 03/08 – 2016 ).

Tari Ular Asal Samarang Garut.
Tari Ular Asal Samarang Garut.

Kepala SMP Negeri 1 Leuwigoong Kabupaten Garut, Jawa barat, Agus WF terpilih menjadi duta Indonesia sebagai Kepala Sekolah Indonesia Davao City (SID) di Filipina.

Tugas barunya tersebut, bakal dijalaninya selama tiga tahun dengan mengemban misi pendidikan mengajarkan Bahasa, dan Budaya Indonesia.

Pria asal Garut itu, berhasil menyisihkan 31 pendaftar kepala sekolah pada seleksi diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan atase Kedutaan.

Agus katakan, dari 31 pendaftar ini hanya lima lolos menjadi kepala sekolah Indonesia di beberapa negara.

“Alhamdulillah saya terpilih mewakili Jawa Barat, khususnya Garut melaksanakan tugas kedinasan di Filipina dalam rangka menjadi kepala sekolah di sana,” ungkapnya, Selasa (02/08-2016).

“Kerang Raksasa” Juga Berfungsi Sebagai Piranti Komunikasi Masyarakat Adat Papua, Disaksikan Penari Asal Aceh Maupun Provinsi Paling Barat Indonesia.
“Kerang Raksasa” Juga Berfungsi Sebagai Piranti Komunikasi Masyarakat Adat Papua, Disaksikan Penari Asal Aceh Maupun Provinsi Paling Barat Indonesia.

Agus tak menyangka terpilih. Apalagi proses seleksinya cukup panjang sejak setahun lalu. Fasih berbahasa Inggris pun menjadi salah satu syarat mesti dipenuhi dengan skor TOEFL 550, dan mempunyai pengalaman kepala sekolah selama tiga tahun.

“Dari Jawa Barat, perwakilannya ada dua kepala sekolah. Satu dari Bogor ditugaskan ke Bangkok, dan saya mewakili Garut bertugas ke Filipina,” ujar lulusan S2 Manajemen Pendidikan Universitas Galuh itu.

“Jika tak ada halangan, insya Allah saya beserta istri juga ikut berangkat Sabtu (06/08-2016) nanti ke Filipina. Kebetulan istri juga seorang guru. Jadi bisa bantu mengajar di sana,” ujarnya pula.

Mantan Kepala SMPN Banjarwangi tersebut, juga menyatakan memboyong kedua anaknya ke Filipina selama bertugas di sana.

Dikemukakan, anak-anak bersekolah di SID merupakan anak duta besar, pekerja Kedubes, warga Indonesia, dan keturunan Indonesia. Davao City merupakan kota wisata, dan banyak dihuni warga keturunan Indonesia.

“Di sana saya jadi kepala sekolah dari SD sampai SMA. Jadi lumayan berat juga. Meski begitu, saya punya misi mencerdaskan mereka, serta mengenalkan pada Bahasa dan Budaya Indonesia,” ungkapnya.

Pria delapan tahun berpengalaman menjadi kepala sekolah itu, berharap bisa mendapat pengalaman berharga dari tugasnya di Filipina. Dia pun menyatakan tetap mengabdi pada dunia pendidikan sekembalinya dari Filipina.

Kabid Dikdas pada Dinas Pendidikan kabupaten setempat Totong menyatakan, apresiasi dan kebanggaannya atas prestasi diraih Agus WF. Diharapkan prestasinya bisa menjadi contoh bagi guru atau kepala sekolah lain di Garut.

“Pak Agus delapan tahun jadi kepala sekolah. Memang seharusnya dia terkena periodisasi. Namun dia berprestasi di tingkat internasional. Maka, setelah selesai bertugas, kami akan tetap memberikan jabatan kepala sekolah kepadanya. Pengalamannya di sana mudah-mudahan bisa diterapkan di sini nantinya,” imbuh Totong.

********

( nz, jdh ).