Kepentingan Abadi Dua Pemimpin Dunia

0
49 views
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump saat KTT G20 di Hamburg, 7 Juli 2017. (Foto: AP Photo/Evan Vucci).

Senin 16 July 2018 04:01 WIB
Red: Joko Sadewo

“Penyelidikan ketelibatan intelijen Rusia dalam Pemilu AS, membuat Trump ketar-ketir”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Nuraini*

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump saat KTT G20 di Hamburg, 7 Juli 2017. (Foto: AP Photo/Evan Vucci).

Istilah Frenemy yang merupakan gabungan dari kata Bahasa Inggris, friend (teman) dan enemy (musuh) sepertinya cocok untuk menggambarkan hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Keduanya berteman sekaligus bermusuhan.

Dua pemimpin dunia tersebut dijadwalkan bertemu di Helsinki, Finlandia pada Senin (16/7). Pertemuan itu memang bukan yang pertama bagi keduanya. Akan tetapi, pertemuan tersebut penting untuk hubungan Rusia dan AS.

Sejumlah isu akan dibahas dalam pertemuan Trump dan Putin. Keterlibatan Rusia dalam perang Suriah menjadi perhatian Donald Trump. Militer Rusia diketahui mendukung pasukan Presiden Suriah Bashar al Assad.

Sementara, pasukan AS diterjunkan ke Suriah untuk memerangi kelompok ISIS. Setelah ISIS dipukul mundur, pasukan AS justru diperintahkan Trump untuk menyerang militer Suriah bersama pasukan koalisi. Serangan pada April itu berdalih merespons penggunaan senjata kimia dalam perang Suriah.

Serangan AS di Suriah hanya berlangsung satu putaran. Akan tetapi, serangan itu menghasilkan ketegangan antara Rusia, yang mendukung rezim Assad, dengan AS.

Isu selanjutnya yang akan dibahas Trump dengan Putin adalah soal denuklirisasi Semenanjung Korea. Pertemuan bersejarah antara Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un tak luput dari radar Putin. Pertemuan itu dinilai Putin bisa meredakan ketegangan di Semenanjung Korea. Selama ini, Rusia diketahui sebagai sekutu dekat Korea Utara.

Pembahasan lain antara Trump dan Putin akan menyentuh isu sensitif keduanya yakni dugaan keterlibatan Rusia dalam Pilres AS pada 2016. Intelijen Rusia diduga telah meretas hasil pemilu AS. Perkembangan terbaru kasus tersebut menyeret 12 intelijen Rusia.

Otoritas AS telah menuntut 12 intelijen Rusia tersebut karena diduga ikut campur dalam pemilihan Presiden AS 2016 yang memenangkan Donald Trump. Isu peretasan tersebut telah membuat gundah pemerintahan Trump yang berulang kali membantah ada keterlibatan intelijen Rusia dalam Pemilu AS.

Kedekatan kepentingan antara Trump dan Putin tersebut tak membuat keduanya sepi dari perang pernyataan. Dalam satu sesi di pertemuan NATO di Belgia bulan ini, Trump menyebut Putin adalah pesaingnya.

Meskipun, Trump tak menampik ingin menjadi teman bagi Putin. Pernyataan Trump itupun dibalas Putin, bahwa dirinya menganggap Presiden AS sebagai rekan utamanya dalam bernegosiasi.

Trump dalam kunjungannya ke Inggris baru-baru ini, menegaskan niatnya untuk menjalin hubungan baik dengan Putin. Dia menegaskan isu intervensi Rusia dalam Pilpres AS 2016 merusak hubungan AS dan Rusia.

Bahkan, dia menyebut penyelidikan atas kasus tersebut tak berdasar. Nampaknya, perkembangan penyelidikan ketelibatan intelijen Rusia dalam Pemilu AS, membuat Trump ketar-ketir.

Berbagai isu yang berkembang dalam hubungan Rusia dan AS itu akan mempertemukan Trump dan Putin di Finlandia. Hubungan frenemy antara Trump dan Putin bisa saja dikesampingkan, selama masing-masing pihak memiliki kesamaan kepentingan yang abadi: tetap berkuasa untuk menjadi pemimpin dunia.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here