Kepemimpinan dan Perkembangan Teknologi di Era Disruptive

0
25 views
Ilustrasi Wanita berjilbab/wanita main gadget.(Republika/Darmawan)

Kamis 04 Jul 2019 06:03 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

Meski Rumah Tak Layak Huni, Namun Bisa Bergaya Dengan Gadget. Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Kemajuan teknologi sebuah gawai dapat mengubah pola hidup dan interaksi sosial”

Perkembangan teknologi Zaman Now semakin pesat dan tak terbendung. Dengan kemajuan teknologi sebuah gawai dapat mengubah pola hidup dan interaksi sosial. Dahulu saat menemani anak balitanya makan orang tua suka bercerita atau bernyanyi, orang tua Zaman Now lebih senang memberikan anaknya gawai untuk menemani anak saat makan.

Akibatnya anak Zaman Now usia 6-12 tahun, khususnya “generasi z” lebih senang menyendiri dalam melakukan aktifitas serta lebih memilih berinteraksi sosial melalui gawai atau komputer di rumah. Di dalam teori tumbuh kembang, usia 6-12 tahun adalah tahap penting untuk tumbuh kembang motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Hal ini adalah sebuah disruption, sebagai dampak perkembangan teknologi.

Jadi apa yang dimaksud dengan “disruption?” Disruption adalah perubahan yang terjadi akibat hadirnya “masa depan” ke masa kini, “tomorrow is today” (self disruption, series on disruption, Renald Kasali, April 2018). Disruption adalah perubahan yang membuat sesuatu yang semula berjalan normal menjadi tiba-tiba harus berubah atau berhenti mendadak akibat munculnya sesuatu yang baru.

Disruption dan Perkembangan Teknologi

Untuk menjelaskan hubungan disruption dengan perkembangan teknologi, saya teringat lagu berjudul “Video Kills the Radio Star” dari The Buggles. Lagu ini sebagai gambaran pergeseran trend di awal era 80-an sebagai dampak perkembangan teknologi. Televisi mengeser peran radio, terlebih saat MTV (Music Television Network) melakukan breaktrough dengan mengubah trend menikmati lagu tidak hanya didengar tetapi kita dapat melihat penampilan penyanyi atau grup band idolanya melalui sebuah musik video terkonsep di layar televisi. Yup, Video Kills the Radio star! Just like the song.

Bentuk disruption akibat perkembangan teknologi lainnya, yaitu kemunculan gawai Ipod oleh Apple inc pada 23 Oktober 2001. Ipod menjadi disruption bagi toko musik yang menjual album musik fisik berbentuk kepingan CD.

Secara perlahan tetapi pasti dalam beberapa tahun Ipod berhasil mengubah trend masyarakat dalam menikmati musik dari format kepingan CD menjadi format musik digital. Gaya hidup berubah, membeli album atau lagu tidak perlu repot ke toko musik, dapat dilakukan dari rumah melalui ITunes dan langsung terunduh ke dalam Ipod.

Business format musik digital menjadi disruption bagi business format fisik CD. Matinya bisnis retail CD dan cassete store di seluruh dunia adalah bentuk disruption akibat penemuan teknologi baru. Intinya perkembangan teknologi, mengakibatkan disruption dan shifting dalam trend Bisnis. Keadaan ini memakan banyak korban dari dunia usaha, terutama yang terlena oleh comfort zone dan enggan berinovasi untuk masa depan usahanya.

Tantangan yang dihadapi semakin besar , jelang memasuki tahun 2020 di mana dunia bersiap memasuki era Industri 5.0, IoT bersiap menjadi barang lawas yang akan digantikan oleh teknologi yang baru. Siapa yang tidak siap akan tertinggal , pertanyaannya sekarang adalah apakah kita siap?

Leadership di era Disruptive

Untuk menghadapi era disruptive ini dibutuhkan disruptive leader, yaitu para pemimpin yang berhasil membawa keluar organisasi yang dipimpin dari perangkap masa lalu dan mendisrupsi organisasi menjadi sehat. Pemimpin yang masih mempertahankan gaya lama akan tertinggal atau ditinggalkan.

Salah satu contoh pemimpin di era disruptive saat ini adalah Jeffrey Preston Jorgensen atau lebih dikenal dengan nama Jeff Bezos, pendiri Amazon.com. Bezos mengawali karier dengan bekerja di FITEL tahun 1986 dan terakhir bekerja di D.E Shaw & Co tahun 1990-1992. Berbekal pengalaman bekerja di dua perusahaan tersebut, Bezos lulusan Princeton university di tahun 1994 mendirikan Amazon.com yang awalnya sebuah situs e-commerce penjualan buku.

Pada awalnya Amazon.com melakukan disruption terhadap bisnis penjualan buku yang berdampak pada retail toko buku di USA. Bezos dikenal sebagai seorang pekerja yang sangat memperhatikan karyawannya dan memperhatikan konsumennya. Setiap feeback consumer selalu menjadi catatan untuk melakukan perbaikan dalam sistem layanan dan kualitas product amazon.com.

Intusisi Bezos melihat perubahan trend technology dan sifat tahan banting menghadapi kegagalan menjadi kekuatan personalnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil Jeff Bezos tahun 2018 dinobatkan sebagai pengusaha terkaya di dunia, dengan nilai kekayaan 156 milyar dolar AS.

Karakter Pemimpin Disruptive

Seperti apakah ciri ciri pemimpin di era disruptive? Dari Faisal Hoque pendiri Shadoka dan penulis buku Everything Connect: How to Transform and lead in the age of creativity, innovation & Sustainability, 2014. Terdapat lima ciri-ciri pemimpin disruptive :

1. Selalu mencari Kebenaran, Jujur terhadap diri sendiri

2. Mampu membimbing anggotanya dalam keadaan apa pun.

3. Berani mengambil keputusan berdasarkan intuisi dan mampu menjelaskan kepada anggotanya mengenai alasan, tujuan dan bagaimana cara mewujudkannya.

4. Berani mendobrak cara lama, terutama yang menghambat kemajuan perusahaan.

5. Dia tumbuh dan berkembang bersama ketidakpastian, tidak terlena oleh comfort zone.

Kesimpulan

Saat ini dunia tidak hanya memiliki Jeff Bezos, Ada juga Nadiem Makarim (Go-Jek) , Ferry Unardi (Traveloka), Ahmad Zaky (Bukalapak), Williem Tanuwijaya (Tokopedia) , mereka adalah pengusaha Start Up Unicorn dari Indonesia yang berhasil menembus global business di era disruptive.

Disruption akibat perkembangan Teknologi tidak selalu berdampak negative bagi Dunia usaha justru melahirkan peluang. Dengan terkoneksi manusia di dunia menjadikan kita semua global citizen, ini adalah kesempatan untuk turut andil menjadi problem solver dari permasalahan global sehingga menciptakan trend baru dalam bisnis.

Be positive dalam menghadapi tantangan perubahan teknologi, terus berinnovasi karena dibalik tantangan ada sebuah kesuksesan besar yang menanti. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah

keadaan yang ada didalam diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d 13: 11).

Sukses bergantung pada kemampuan kita, menyelaraskan ketiganya; iteration, innovasion, dan disruption. Jika Anda tidak mendisrupsi diri sendiri, Anda akan mendapatkan bentuk “Hadiah” dari orang lain.

-Mark Zuckerberg, Founder Facebook.

Jakarta, 29 Juni 2019

TENTANG PENULIS; David Chalik S.T, dan Marwan Ali S.T (Mahasiswa Magister Managemen Universitas Paramadina).

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here