Kefatalan KLB Difteri di Garut Sangat Mengerikan

0
114 views
Kabupaten Garut Masih Banyak Dikepung Kondisi Lingkungan, dan Sanitasi yang Tidak Serhat.

“Catatan Akhir Tahun Menampar Pemkab Setempat”

Garut News ( Kamis, 28/12 – 2017 ).

Kabupaten Garut Masih Banyak Dikepung Kondisi Lingkungan, dan Sanitasi yang Tidak Serhat.

Kefatalan “Kejadian Luar Biasa” (KLB) Difteri di Kabupaten Garut sangat mengerikan, lantaran meski secara kuantitatif penderitanya  lebih banyak di Kabupaten Purwakarta, dan Karawang.

Namun intensitas kefatalan “Case Fatality Rate” (CFR) wabah penyakit menular dan mematikan di kabupaten Garut itu menewaskan empat penderita, sehingga  menduduki peringkat nomor satu di Provinsi Jawa Barat. Sebagai catatan akhir tahun yang menampar Pemkab Garut sebab gagal melakukan pencegahan.

Tidak Bersih, dan Tak Sehat.

Pada jumlah kasusnya dari 27 kabupaten/kota di Jabar, Kabupaten Garut bertengger di peringkat ketiga, setelah Kabupaten Purwakarta masih dengan 21 kasus menewaskan satu orang, dan Karawang (13) kasus juga menewaskan satu orang.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan kabupaten setempat, Dr Asep Surachman, SKM, MKM di ruang kerjanya, Kamis (28/12-2017), katakan terjadi peningkatan jumlah kasus positip difteri hasil kultur di kabupatennya menjadi 17, empat di antaranya meninggal dunia.

Dr Asep Surachman, SKM, MKM Tunjukan Sarana Penyimpanan Vaksin Berstandar WHO.

Terdapat tiga penderita masing – masing satu orang dirawat di RSHS Bandung, RS Al Islam Bandung, serta di RSUD Dr Sukarjo Kota Tasikmalaya.

Sedangkan suspek difteri dirawat 10 orang di RSUD, tujuh di antaranya pulang pascarawat inap, katanya.

Dari 17 positif difteri terdiri enam laki-laki dan 11 perempuan, dengan usia 0 – 5 tahun (4 orang), 11 – 20 tahun (7 orang), 21 – 30 tahun (1 orang), serta terdapat lima penderita berusia lebih 30 tahun.

Sedangkan 10 kasus suspek difteri terdiri tiga laki – laki dan tujuh perempuan, mereka berusia 11 – 20 tahun (6 orang), 21 – 30 tahun (2 orang), dan berusia lebih 30 tahun (2 orang).

Wabah KLB Difteri pada 2017 ini, pola pergeseran penyebarannya semakin meluas ke wilayah Selatan Kabupaten Garut hingga mencapai 75 persen, sedangkan selebihnya di perkotaan, serta wilayah Garut Utara.

Sedangkan solusi yang kini gencar diselenggarakan, pertama cakupan imuniasi pada 56.000 an anak usia 0 – 1 tahun, kemudian bayi usia 18 bulan hingga 24 bulan, imunisasi tambahan pada 107.833 anak sekolah dasar kelas satu hingga kelas tiga.

Selanjutnya imunisasi pada 55.056 perempuan usia subur juga perempuan hamil, karena itu masyarakat diimbau agar tidak cemas melainkan bisa segera dilengkapi imunisasinya.

Dilaksanakan pula langkah antisipatif berupa surveilans ketat pada fasilitas kesehatan milik pemerintah, dan swasta.

Menyusul wabah KLB Difteri tersebut, merupakan insfeksi akut yang mematikan lebih cepat daripada HIV/AIDS, ungkap Asep Surachman.

Diagendakan tahun depan di Kabupaten Garut diselenggarakan “ORI” (Outbreak Response Immunization) anak usia 1 – 19 tahun, secara selektif mulai pekan kedua Januari 2018.

Pada wilayah yang tak terkena wabah, dilaksanakan penguatan – penguatan termasuk kegiatan sweping, imbuhnya.

Dikatakan, penyebaran wabah KLB Difteri pada wilayah Selatan Garut, di antaranya terjadi di Sukamulya Sukaresmi, Cihurip, Pakuwon Cisurupan, Peundeuy, Cisandaan, Mekarmukti, Cikajang, serta di Sindangratu.

Mereka terserang wabah KLB jenis penyakit ini, sebagian besar berkondisi ekonomi menengah ke bawah di lokasi pemukiman perkampungan penduduk.

Difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae yang kini kembali mewabah..

Kondisi ini kian mengkhawatirkan lantaran ditengarai penyebabnya kengganan orangtua memberikan imunisasi pada anak.

Diafteri mudah sekali menular melalui batuk atau bersin, paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi saluran nafas.

Bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Menyebabkan kematian, bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah, juga remaja.

Sebagian besar atau nyaris dua pertiga terkena difteri karena belum pernah diimunisasi sama sekali, atau belum pernah diimunisasi DPT. Karena imunisasi di luar itu tak bisa cegah difteri.

Gejala kentara bagi penderita difteri jika mendapati ada selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung, apalagi disertai leher bengkak. Bisa jadi itu difteri, dan walaupun belum tentu, akan lebih baik diperiksa dulu untuk dibuktikan.

Jika mendapati gejala itu, ada baiknya segera bawa ke puskesmas, atau RS terdekat.

“Status Imunisasi”

Berdasar status imunisasi, justru terdapat lima positif difteri di Kabupaten Garut yang sebelumnya telah menjalani imunisasi lengkap, dan 12 positif difteri telah menjalani imunisasi tidak lengkap.

Kemudian terdapat pula satu kasus suspek difteri yang sebelumnya menjalani imnisasi lengkap, serta sembilan suspek difteri telah menjalani imuniasasi tidak lengkap.

Masih menurut Asep Surachman, akar permasalahannya antara lain terhambat isu haram imunisasi, penolakan orang tua, dan vaksin yang kurang. Sehingga terjadi disparitas capaian imunisasi atau belum menyeluruh.

Penatalaksanaan yang tak memadai juga bisa meyebabkan kegagalan imunisasi, antara lain menyimpan vaksin di dalam thermos tidak berstandar WHO yang disyaratkan bertemperatur konstan 2 – 8 derajat Celsius.

“Kita bisa lengkap memilikinya sejak 2016 silam,” katanya.

Selain itu, diperparah pula banyaknya bayi dan balita berkondisi kekurangan gizi yang menjadikan imunitas mereka berkondisi sangat rentan, serta kondisi sanitasi dan lingkungan yang jelek, katanya pula.

Undang-undang RI Nomor 4/1984 Tentang Penanggulangan Penyakit Wabah Menular, antara lain mengamanatkan seluruh rumah sakit menggratiskan pengobatan penderitanya.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here