Kengerian dan Waktu Kiamat Terjadi, ini Penjelasannya

Kengerian dan Waktu Kiamat Terjadi, ini Penjelasannya

542
0
SHARE
Tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi. (Republika).
Tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi. (Republika).

“Kiamat merupakan akhir waktu kehidupan di dunia ini”

Rep: Andrian Saputra/ Red: Erdy Nasrul

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alam semesta dan seluruh isinya akan hancur tak tersisa ketika hari kiamat (yaumul qiyamah). Kehancuran jagat raya ini diawali dengan terdengarnya suara sangkakala Malaikat Israfil oleh seluruh makhluk. 

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kali malaikat Israfil meniup sangkakala. Sebagian ulama berpendapat bahwa tiupan sangkakala terjadi tiga kali, sebagian lagi berpendapat terjadi dua kali.

Di antara ulama yang berpendapat bahwa tiupan sangkakala malaikat israfil terjadi sebanyak tiga kali ialah Ibnu Arabi, Ibnu Taimiyah dan Imam Asy Syaukani.

Mereka berpendapat  bahwa tiupan sangkakala yang pertama membuat terkejut dan menyebabkan kepanikan seluruh makhluk serta menimbulkan kerusakan (nafkhotul faza’) sebagaimana bersandar pada keterangan Alquran surat An Naml ayat 87.

Tiupan sangkakala kedua menyebabkan setiap makhluk mati seketika (nafkhotu ash-sha’qi) sebagaimana bersandar pada keterangan Alquran surat Az Zumar ayat 68.

Dan tiupan sangkakala yang ketiga membuat seluruh manusia yang telah mati dari zaman nabi Adam hingga hari kiamay bangkit kembali (nafkhotul ba’tsi wan nusyuur) sebagaimana bersandar pada keterangan Alquran surat Yasin ayat 51.

Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa tiupan sangkakala malaikat israfil terjadi dua kali merupakan pendapat jumhur para ulama.

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Imam Hasan Bashri, Ibnu Hajar dan Imam Qurthubi.

Mereka berpendapat bahwa tiupan sangkakala yang pertama menyebabkan kepanikan dan kematian seluruh makhluk serta kehancuran alam jagat raya dan isinya (nafkhotul faza’ wa ash-sha’qi)  sebagaimana bersandar pada keterangan Alquran surat An Naziat ayat 6-7. Sedangkan tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan kebangkitan yang membuat seluruh manusia hidup kembali.

Tak ada keterangan detail tentang berapa lama jarak waktu antara tiupan sangkakala malaikat israfil.

Meski begitu dalam hadits yang diriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jaraknya adalah empat puluh. Hanya Allah SWT yang mengetahui apakah jaraknya empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun.

مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ

“(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” Para sahabat bertanya,”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi,”Empat buluh bulan?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” Mereka bertanya lagi,”Empat puluh tahun?” Abu Hurairah menjawab,”Aku enggan.” (HR. Bukhari no. 4935)

Terlepas dari itu, ketika malaikat Israfil telah meniupkan sangkakalanya, keadaan jagat raya menjadi begitu mencekam, seluruh makhluk panik untuk menyelamatkan diri masing-masing. Bahkan gunung-gunung pun berterbangan, dan hancurlah jagat raya.  Allah SWT berfirman:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا

Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya (Alquran surat Taha ayat 105). 

Allah SWT berfirman: 

 وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَفَزِعَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَكُلٌّ اَتَوْهُ دٰخِرِيْنَ

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (Alquran surat An Naml ayat 87).

Tak satupun manusia yang selamat pada hari itu. Seluruhnya mati kembali pada sang pencipta. Setelah fase hancurnya jagat raya dan matinya seluruh makhluk.

Maka manusia menghadapi fase kedua, yakni hari kebangkitan (yaumul ba’ats). Pada fase ini, malaikat Israfil meniup kembali sangkakala yang membuat manusia bangkit dari kematiannya. Allah berfirman:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ  ;

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar 68).

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa kondisi manusia ketika dibangkitkan dari kubur beragam sesuai dengan amal yang pernah dilakukannya ketika di dunia.

Bahkan ada juga manusia yang berwajah hewan. Sementara kondisi manusia yang paling baik ketika dibangkitkan adalah para syuhada. Mereka memiliki wangi yang sangat harum. 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « والشهيد يبعث يوم القيامة وجرحه يثعب , اللون لون الدم , والريح ريح المسك

Artinya: Seorang yang mati syahid, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya darah namun baunya bau misk (HR. Bukhari)

Maka seluruh manusia pun digiring ke Padang Mahsyar. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Padang mahsyar adalah satu tempat yang lapang dan bersih hingga tak ada sedikitpun kotoran di tempat itu. Maka seluruh manusia berkumpul di Mahsyar. Allah berfirman: 

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 

Artinya: (yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Alquran surat Ibrahim ayat 48).

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ketika di Padang Mahsyar manusia tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Kendati demikian mereka tak mementingkan di sekelilingnya karena rasa takut.

Selain itu di Padang Mahsyar pun manusia berbeda-beda keadaan, ada yang berjalan dengan wajahnya yang diseret-seret, ada yang naik kendaraan, ada juga yang berjalan kaki.

Pada riwayat lain disebutkan ketika itu jarak matahari sangat dekat kepada manusia. Sehingga ada sebagian manusia yang mandi keringat akibat panasnya.

Manusia pun berbondong-bondong berupaya mencari nabi-nabi untuk meminta syafaat. Mereka mendatangi nabi Adam dan nabi-nabi yang lain, tetapi tak satupun mau memberikan syafaat.

Saat itu, Rasulullah SAW menyeru umatnya yakni yang beriman. Merekalah yang mendapat syafaat dari Rasulullah pada hari pertimbangan (yaumul Mizan).

Setelah fase-fase yang begitu mengerikan itu, manusia digiring untuk melalui jembatan Shirath yang begitu licin sehingga dapat menggelincirkan orang yang melaluinya. Shirath itu juga dihiasi besi-besi pengait dan kawat berduri.

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ

Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?”. Jawab beliau,“ Licin (lagi) mengelincirkan.

Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kelak yang pertama melewati Shirath adalah Rasulullah. Rasul berdoa untuk umatnya yang beriman agar selamat.

وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ رواه البخاري

Artinya: Dan dibentangkanlah jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada shirâth itu, terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?”

Para Sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasulullah. Maka ia seperti duri pohon Sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allâh. Maka ia mencangkok manusia sesuai dengan amalan mereka. (HR. al-Bukhari).

*******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY