Kenaikan Harga Beras Tak Otomatis Sejahterakan Petani

0
76 views

Garut News ( Senin, 23/02 – 2015 ).

H. Dayat.
H. Dayat.

Apapun penyebabnya, kenaikan harga beras berlangsung nyaris sejak sepekan terakhir. Ternyata tak otomatis, atawa serta-merta bisa meningkatkan kesejahteraan petani produsennya.

Menyusul antara lain musim penghujan selama ini, banyak dituduh menjadi penyebab meningkatnya harga empat jenis komoditi terutama beras di Garut, Jawa Barat.

Kepala UPTD Pasar pada Disperindag kabupaten setempat H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha Akhmad Wahyudin, SE katakan kenaikan harga mata dagangan beras tersebut dinilainya “signifikan”.

Kepada Garut News, Senin (23/02-2015), mereka mengemukakan kenaikan harganya dari semula rata-rata Rp9 ribu per kilogram, menjadi Rp11 ribu bahkan lebih.

Akhmad Wahyudin Turun Gunung Monitoring Harga, Sekaligus Membangun Komunikasi Humanis dengan kalangan Pedagang.
Akhmad Wahyudin Turun Gunung Monitoring Harga, Sekaligus Membangun Komunikasi Humanis dengan kalangan Pedagang, Senin (23/02-2015) Pagi.

Lantaran terkendala musim penghujan, sehingga petani produsen mengalami keterlambatan bisa maksimal mengeringkan bulir padi produk panennya.

Dipastikan para petani menjual produknya dalam kondisi “gabah kering giling” atawa GKG yang hingga kini nilai jualnya pun, tak mengalami kenaikan.

Maupun masih bertengger pada kisaran harga Rp3.800 hingga Rp4 ribu per kilogram, katanya.

Sekalipun harga beras di pasaran terutama di tingkat pengecer mengalami peningkatan.

Selain itu terjadi keterlambatan pasokan beras dari Jawa Tengah, sehingga kini kalangan pedagang banyak mengandalkan beras lokal, yang juga terlambat pada proses pengeringan.

Kenaikan harga beras pada musim penghujan ini, kemungkinan pula akibat masih ditutupnya keran import, katanya pula.

Memonitor Pula Kualitas Mata Dagangan Beras.
Memonitor Pula Kualitas Mata Dagangan Beras.

Namun H. Dayat serta Akhmad Wahyudin menjelaskan, persediaan maupun stok beras di wilayah kerjanya masih mencukupi.

Bahkan dari hasil monitoring lapangan hari ini, juga diperoleh informasi langsung dari para pedagang di Pasar Ciawitali, yang antara lain menyebutkan kondisi harga jenis komoditi itu bisa kembali normal pada Maret mendatang.

Sebelumnya diberitakan Garut News, nyaris sejak sepekan terakhir, mata dagangan beras, telur ayam ras, daging ayam ras,  serta ikan mas, harganya merangkak naik.

Beras jenis IR-64 kualitas satu hingga kini masih bertengger pada harga Rp11 ribu per kilogram, padahal sebelumnya Rp9,5 ribu, katanya.

Disusul IR-64 kualitas dua Rp10 ribu yang sebelumnya Rp9,2 ribu, sedangkan setra harganya dinilai masih stabil yakni Rp10 ribu.

Kemudian jembar Rp11,5 ribu sebelumnya Rp10 ribu, dan beras jenis pandan wangi semula Rp11 ribu menjadi Rp11,5 ribu per kilogram.

Sedangkan harga daging ayam ras Rp30 ribu per kilogram yang semula Rp28 ribu, atawa meningkat tajam dibandingkan pada harga normalnya Rp26 ribu per kilogram.

Harga telur ayam ras Rp18,5 ribu per kilogram semula sekitar Rp18 ribu.

Harga komoditi ikan mas pun latah merangkak naik, semula Rp27 ribu per kilogram menjadi Rp29 ribu.

Naiknya harga beras lantaran berkurangnya pasokan beras lokal Garut, serta dari Jawa Tengah.

Akibat produktivitas panen berkurang juga mobilitas transfortasi terhambat curah hujan tinggi penyebab banjir.

Hambatan transfortasi menghambat pula pasokan telur, dan ayam ras dari Jawa Tengah.

Sedangkan kenaikan harga mata dagangan ikan mas, lantaran berkurangnya pasokan dari Cirata, sebab petani Cirata mengurangi produktivitasnya.

Mereka khawatir luapan banjir bisa menyebabkan ikan mati terserang virus, katanya.

********

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here