Kemungkinan Besar Awal Ramadhan Berbeda-beda, Mengapa?

“Ketua MUI Garut : jika terjadi perbedaan awal melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan, hendaknya jangan dijadikan ajang memutuskan silaturahmi”

Garut News ( Selasa, 17/06 – 2014 ).

Lengkungan sabit Bulan teramati dari Kupang (NTT), Selasa 9 Juli 2013 pukul 18:09 WITA, 18 menit sebelum Bulan terbenam, dan 32 menit pasca Matahari terbenam, dalam rukyat konfirmasi dilakukan tim Kominfo, dan Kemenag dari Menara Hilal Sulamu. Sumber : )Kominfo, 2013).
Lengkungan sabit Bulan teramati dari Kupang (NTT), Selasa 9 Juli 2013 pukul 18:09 WITA, 18 menit sebelum Bulan terbenam, dan 32 menit pasca Matahari terbenam, dalam rukyat konfirmasi dilakukan tim Kominfo, dan Kemenag dari Menara Hilal Sulamu. Sumber : )Kominfo, 2013).

Perbedaan permulaan Puasa Ramadhan kemungkinan besar terjadi lagi pada 1435 Hijriah atawa 2014.

Demikian diungkapkan Hakim L Malasan, dosen astronomi Jurusan Astronomi, Institut Teknologi Bandung.

Perbedaan terjadi, lantaran terdapat dua paham penentuan awal Puasa Ramadhan, atau secara umum awal kalender Hijriah.

Metode pertama mendasarkan perhitungan astronomis dan matematis, disebut hisab.

Cara kedua berdasar visibilitas atawa penampakan hilal atau bulan baru, disebut rukyat.

Kriteria hisab sebelumnya disebut kriteria wujudul hilal.

Muhammadiyah, organisasi massa menganut prinsip ini.

Dengan cara ini, bulan baru ditentukan hanya dengan perhitungan.

Pada perkembangannya, ada kriteria hisab imkan rukyat disusun tim “Rukyatul Hilal Indonesia” (RHI) sebagai upaya menyatukan perbedaan antara hisab, dan rukyat.

Hakim katakan, perbedaan permulaan Ramadhan tahun ini didasarkan pada kemungkinan hilal untuk diamati.

Hakim juga mengemukakan, “Tanggal 27 Juni petang, jarak antara tenggelamnya Bulan dengan Matahari hanya tiga menit.”

Saat bulan baru, Matahari, Bumi, dan Bulan terletak pada satu garis lurus.

Bulan dan Matahari tenggelam pada waktu hampir bersamaan.

Bagi pihak menganut wujudul hilal, permulaan puasa bisa ditetapkan, 28 Juni 2014 sebab dasarnya hanya perhitungan.

Muhammadiyah pada Senin (16/06-2014) menyatakan, puasa dimulai 28 Juni 2014.

Namun, bagi pihak menganut imkan rukyat, awal puasa sulit ditetapkan pada tanggal itu.

“Karena jaraknya cuma sebentar, maka pengamatan hilal akan sulit,” katanya.

Cahaya Matahari terlalu menyilaukan sehingga pengamat di Bumi cenderung kurang sensitif dalam melihat bulan baru berbentuk sabit supertipis.

“Jadi mereka mendasarkan pada imkan rukyat akan menyatakan Ramadhan jatuh 29 Juni 2014,” jelas Hakim.

Pada 18 Juni 2014 petang, jarak tenggelamnya Bulan dan Matahari cukup lama, sekitar satu jam.

Hakim mengungkapkan, teknologi sebenarnya bisa menyelesaikan permasalahan perbedaan awal puasa, misalnya dengan teleskop lebih canggih atau astrofotografi.

Namun, lebih dibutuhkan kemauan mengubah pandangan dan keterbukaan sehingga awal ibadah puasa dan hari Lebaran Idul Fitri bisa disatukan.

Menurut Hakim, menoleransi perbedaan saja tak cukup.

Pemerintah perlu berperan sehingga awal ibadah dan hari Lebaran Idul Fitri sesama umat bisa disatukan.

***** Kompas.com

“MUI Garut Serukan Sambut Ramadhan Dengan Gembira”

KH. Agus Muhammad Soleh.
KH. Agus Muhammad Soleh.

Sebelumnya, Ketua “Majelis Ulama Indonesia” (MUI) Kabupaten Garut, KH Agus Muhammad Soleh bersama seluruh jajaran keluarga besarnya menyerukan, agar masyarakat bisa menyambut pelaksanaan ibadah Puasa Ramadhan dengan “Gembira”, maupun dengan penuh “Suka Cita”.

Karena itu, hendaknya sedini mungkin menyiapkan kualitas keimanan, dan ketaqwaan pada pelaksanaan “saum” selama sebulan lamanya.

“Agar ibadah kita bisa lebih berkualitas,  dibandingkan pada ibadah Puasa Ramadhan sebelumnya,” imbuh Agus Muhammad Soleh, menyerukan pula, Rabu (11/06-2014).

Maka hendaknya, sepanjang Puasa Ramadhan bisa diisi dengan beragam kegiatan positip, termasuk bertadarus, membaca ayat suci Al Qur’an, selain tentunya tak meninggalkan shalat fardu, shalat tarawih, serta beritikap.

Sedangkan jika terjadi hal perbedaan waktu awal melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan, hendaknya pula jangan dijadikan ajang memutuskan silaturahmi.

Melainkan tetap saling hormat-menghormati, serta mengisi ramadhan dengan beragam amalan saleh.

Selain itu, Ketua MUI juga mengimbau masyarakat, senantiasa berupaya menemukan hikmah maupun makna Berpuasa Ramadhan.

Mengutamakan kesederhanaan hidup, jangan terlalu berlebihan dengan makanan dan pakaian, melainkan selalu berupaya memaknai ibadah puasa.

Jadikanlah pelaksanaan Ibadah Puasa Ramadhan, sebagai ajang berperilaku hidup sederhana, juga jangan melupakan untuk beritikap.

“Pilpres/Pilwapres”

Sedangkan mengenai Pilpres/Pilwapres dinilai sebagai agenda terjadwal lima tahunan, juga hendaknya bisa disikapi masyarakat dengan pemahaman lebih dewasa.

Lantaran helatan tersebut, bukanlah merupakan barang baru.

Sehingga hendaknya pula, kudu dewasa menyikapi situasi atawa kondisi politik tersebut, jika berkeinginan lebih mantap menentukan pilihan, silahkan laksanakan “istiqoroh” guna menentukan pilihan.

Jangan justru saling menjelek-jelekan, juga dinilain tak perlu mengangkut isu bernuansakan “SARA”, demikian antara lain seruan Ketua MUI Kabupaten Garut, KH Agus Muhammad Soleh.

*******

Esay/ Foto :  Hidayat.

Related posts

Leave a Comment