Kembalikan Rasa Aman Publik

by

Garut News, ( Rabu, 18/09 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Pemerintah semestinya bertindak luar biasa atas serentetan peristiwa tak biasa ini.

Lima polisi tewas ditembak dalam empat kejadian di Jakarta, dan sekitarnya sejak Juli lalu.

Pengungkapan kasus ini amat mendesak agar tugas kepolisian melindungi masyarakat tak terganggu.

Korban terakhir, Ajun Inspektur Dua (Anumerta) Sukardi, ditembak di depan kantor KPK, beberapa waktu yang lalu.

Mirip dalam tiga peristiwa sebelumnya, para pelaku mengendarai sepeda motor.

Dan seperti kejadian lain pula, hingga kini si penembak, apalagi motifnya, belum terungkap.

Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo memang berjanji membekuk penembak Sukardi.

Janji sama pernah diungkapkan ketika empat polisi tewas dalam serentetan kejadian di selatan Jakarta: Cireundeu, Ciputat, dan Pondok Aren.

Namun, sampai sekarang, polisi baru bisa mengidentifikasi kelompok teroris diduga menebar teror itu.

Polisi menyebutkan ada banyak kesamaan modus penembakan di selatan Jakarta itu.

Misalnya, penembakan dilakukan di jalan raya ketika situasi agak sepi.

Pelaku diperkirakan lama membuntuti korban, tetapi korban penembakan tampak dipilih secara acak.

Selongsong peluru ditemukan di tiga tempat itu berukuran sembilan milimeter.

Dari temuan itu, kecurigaan mengarah ke kelompok Pondok Aren.

Kelompok ini pernah merampok BPR di Cileunyi, dan menjalani latihan menembak di Gunung Sawal, Jawa Barat.

Namun tudingan terhadap kelompok teroris jaringan Aceh itu mesti disikapi hati-hati.

Temuan terbaru selongsong peluru dalam penembakan Sukardi berukuran 4,5 milimeter menunjukkan dugaan polisi terhadap pelaku bisa keliru.

Identifikasi pelaku kasus terakhir ini semestinya tak terlalu sulit lantaran kepolisian bisa memanfaatkan rekaman closed-circuit television (CCTV) di gedung KPK, dan gedung-gedung lain di sekitar lokasi kejadian.

Polisi juga bisa membuka pelbagai kemungkinan lain.

Fakta Sukardi bekerja sampingan mengawal truk-truk proyek pembangunan Rasuna Tower seharusnya menjadi pertimbangan.

Boleh jadi, terdapat pemain lain di bidang jasa pengawalan tersingkir.

Mungkin pula terdapat pihak lain di luar teroris dendam terhadap korps kepolisian.

Jika ada bukti cukup, polisi tak perlu ragu mengungkap dan menangkap siapa pun pelakunya.

Boleh saja kepolisian mencegah jatuhnya korban lagi dengan menyeru anggotanya agar bertugas berkelompok, dan berbaju antipeluru.

Mereka juga dianjurkan tak menggunakan seragam ketika berangkat ke kantor.

Tetapi tindakan paling penting, dan ditunggu masyarakat tentu menangkap para pelaku penembakan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semestinya tak membiarkan kepolisian, lamban membongkar serentetan kasus itu.

Semakin lama sederet kasus itu terbongkar, semakin hancur kredibilitas korps kepolisian.

Bagaimana kepolisian bisa melindungi masyarakat apabila mereka tak mampu menjaga anggotanya sendiri?

Krisis kepolisian ini, kudu segera diakhiri agar rasa aman masyarakat juga pulih kembali.

***** Opini/ Tempo.co