Kembali ke Visi

– Agung Baskoro,Analis Politik Poltracking

Jakarta, Garut News ( Selasa, 10/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Bila menelusuri kekuatan figur masing-masing calon presiden-wakil presiden, dialektika Hegel, yakni tesis-antitesis-sintesis, dapat digunakan sebagai pisau analisis guna memahami kedua pasangan kandidat ini.

Pertama, bila mencermati latar belakang masing-masing capres-cawapres, terdapat satu benang merah yang sama, bahwa empat figur yang maju dalam pemilihan presiden nanti tiga di antaranya berlatar belakang pengusaha.

Mereka adalah Hatta, Jokowi, dan JK.

Prabowo tak termasuk karena meretas kariernya di jenjang militer.

Kehadiran pengusaha dalam panggung politik ini sebenarnya relevan dengan tesis Anies Baswedan (2006) mengenai rulling elite Indonesia.

Dalam tesisnya tersebut, Anies mengidentifikasi elite dalam kategori intelektual, angkatan bersenjata, aktivis, dan terakhir pengusaha yang kini mendominasi peta politik karena tren pasar yang hegemonik.

Tesis pengusaha ini setidaknya dapat memvisualisasi kekuatan karakter dasar yang dimiliki oleh para capres-cawapres ini kepada publik, dari sikap kreatif, cermat menghitung risiko, tepat mengambil keputusan, hingga kemampuan berjejaring dan memiliki sumber daya yang baik.

Kedua, baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK hadir sebagai antitesis dari sosok Presiden Yudhoyono.

Bila selama ini Presiden Yudhoyono dianggap kurang tegas dalam memimpin, ketegasan itu kini ditemukan dalam sosok Prabowo.

Begitu pula ketika Presiden Yudhoyono dinilai berjarak dengan rakyat (high context), figur Jokowi hadir sebagai simbol yang merakyat.

Realitas ini sebenarnya berulang dan bila melihat siklus pergantian rezim di negeri ini, akan kita dapati satu kesimpulan bahwa figur antitesis selalu terjadi sebagaimana Presiden Sukarno-Presiden Soeharto, Presiden Soeharto (dan Presiden Habibie)-Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Abdurrahman Wahid (dan Presiden Megawati)-Presiden Yudhoyono.

Ketiga, rentang tahun kelahiran pasangan capres-cawapres saat ini adalah 1942 (JK), 1951 (Prabowo), 1953 (Hatta), dan 1961 (Jokowi).

Jika diakumulasikan dengan usia dewasa ataupun usia politik seorang manusia, yakni 17 tahun, tercatat, dalam rentang 1959-1978, kandidat seperti JK sempat merasakan masa kepemimpinan Presiden Soekarno dan berikutnya, sosok seperti Prabowo, Hatta, dan Jokowi mulai memahami periode pemerintahan negeri ini sejak Presiden Soeharto hingga Presiden Yudhoyono.

Artinya, visi “Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat” milik Prabowo-Hatta dan visi “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian” milik Jokowi-JK menjadi sintesis secara keseluruhan ide para presiden sebelumnya.

Di titik inilah penelusuran realisasi visi ini menjadi penting.

Sebab, visi ini harus tetap membumi.

Menurut Max DePree (2004), tugas pertama seorang pemimpin adalah mendefenisikan realitas, membuat mimpi menjadi masuk akal, dan bisa mewujudkannya melalui tahapan rasional-kalkulatif yang terejawantah melalui visi.

Artinya, realisasi visi melalui misi atau melaksanakan delapan agenda dan program nyata Prabowo-Hatta serta sembilan agenda prioritas Jokowi-JK harus diuji, apakah relevan dengan penganggaran atau realistis untuk diimplementasikan dalam konteks kebangsaan yang lebih holistik.

Jangan sampai sembilan halaman dan 41 halaman yang terlampir sebagai visi milik para capres-cawapres ini hanya untaian wacana yang enak dibaca dan indah untuk dibayangkan.

Susunan tim sukses, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, perlu diperhatikan karena mempengaruhi realisasi visi akhirnya.

Saat pra-pilpres, penentuan siapa yang terlibat dan masuk dalam tim sukses dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi publik.

Sebab, selain rekam jejak (track record) para capres-cawapres, hari ini pemilih perlu mengetahui siapa orang-orang di belakang para pemimpinnya.

Merekalah lingkar utama yang menjadi sumber informasi para pemimpin dalam berpikir, bersikap, dan berbuat.

Jangan sampai sejak awal para capres-cawapres sudah tersandera oleh masa lalu ataupun dosa politik anggota tim sukses, karena ini akan menjadi preseden buruk dalam memulai kebaikan untuk rakyat secara konsisten.

Berikutnya, ketika memasuki pasca-pilpres, tim sukses ini menjadi salah satu referensi bagi presiden dan wakil presiden terpilih dalam pengisian pos-pos penting dan strategis, baik di kabinet maupun di luar kabinet.

Walaupun hal ini menjadi hak prerogatif presiden, kedekatan yang dibangun capres-cawapres dengan tim sukses merupakan hubungan personal yang dibangun sejak lama dan telah melewati berbagai tantangan.

Pada fase ini, ujian kepemimpinan publik untuk para capres-cawapres ini akan terlihat hasilnya.

Apakah basis profesionalitas (aspirasi publik) menjadi utama atau proporsionalitas (akomodasi politik) tetap menjadi logika dasarnya?

Mengutip kata Rendra (1997), “dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Selamat berjuang me-nyata-kan kata-kata, wahai para capres-cawapres! *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment