Kematian Ibrahim bin Muhammad, Kisah di Balik Perintah Shalat Gerhana

0
52 views

Garut News ( Rabu, 02/03 – 2016 ).

Lintasan gerhana matahari cincin masa Nabi Muhammad pada 27 Januari 632. (NASA/Thomas Djamaluddin).
Lintasan gerhana matahari cincin masa Nabi Muhammad pada 27 Januari 632. (NASA/Thomas Djamaluddin).

— Bagi umat Islam, Gerhana Matahari bukan fenomena biasa. Shalat gerhana menjadi salah satu ritual yang dianjurkan bagi Muslim saat matahari tertutup bulan.

Islam memaknai gerhana sebagai perwujudan kekuasaan Allah. Kondisi gelap gulita selama gerhana berlangsung mengingatkan manusia akan suasana alam kubur kelak.

Sejarah menunjukkan bagaimana Islam mengubah makna gerhana bagi masyarakat Arab yang sebelumnya selalu dikaitkan dengan kesialan atau kematian orang penting.

Gerhana Matahari cincin masa nabi

Gerhana yang memcu perubahan pemaknaan pada masyarakat Arab adalah Gerhana Matahari cincin.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin mengatakan, Gerhana Matahari cincin pada masa nabi terjadi pada 27 Januari 632 Masehi atau menjelang awal Zulkaidah 10 H.

“Lintasannya mulai dari Afrika Utara, selatan Jazirah Arab, melintas ke India,” kata Thomas saat dihubungi Kompas.com pada akhir Februari 2016.

Madinah sendiri tidak mengalami Gerhana Matahari cincin, hanya gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85 persen.

Jarak bumi-matahari saat terjadinya gerhana kala itu adalah 148 juta kilometer dan diameter sudut piringan matahari 32’23″. Sementara itu, jarak bumi ke bulan 392.788 kilometer dengan diameter sudutnya 30’25″.

Masyarakat Arab pra-Islam percaya bahwa gerhana terkait dengan kematian orang besar.

Kebetulan, pada hari yang bersamaan dengan Gerhana Matahari, putra Muhammad yang bernama Ibrahim bin Muhammad wafat dalam usia 16 tahun.

Tak lama setelah Ibrahim dimakamkan pada pagi harinya, Madinah mengalami gerhana. Masyarakat setempat pun lantas menduga bahwa gerhana terjadi merupakan mukjizat atau tanda bahwa matahari turut bersedih.

“Jadi, intinya mitos di masyarakat dulu sampai sekarang selalu ada dan tampaknya di Jazirah Arab pun ada mitos-mitos yang menimbulkan orang takut. Gerhana sering dikait-kaitkan dengan kejadian tertentu, termasuk kematian,” kata Thomas.

Namun, Muhammad lantas membantah dugaan masyarakat setempat dan menegaskan bahwa gerhana adalah wujud kuasa Allah.

“Waktu itu Rasul mengatakan bahwa gerhana ini bukan karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang, tetapi merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah dan itu kemudian diperintahkan ketika terjadi gerhana, maka berzikirlah, takbirlah, kemudian shalat gerhana,” tutur Thomas.

Perintah shalat gerhana

Penegasan oleh Muhammad itu juga menjadi asal-muasal perintah shalat gerhana bagi umat Islam.

Muhammad seperti yang diriwayatkan HR Bukhari-Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas mengatakan, “Matahari dan bulan adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka, bila melihatnya berzikirlah kepada Allah dengan mengerjakan shalat.”

Perintah shalat gerhana juga termuat dalam sejumlah hadis lainnya yang disampaikan setelah Muhammad menerima perintah shalat wajib.

Hadis riwayat Ahmad dan Nasai, misalnya, menyatakan, “Bila kamu melihat gerhana, maka shalatlah sebagaimana shalat wajib yang biasa kamu kerjakan.”

*******
Penulis : Icha Rastika
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here