Kematangan Berpolitik

0
64 views
Ady Amar. (Foto: dok. Pribadi).

Ahad 15 April 2018 00:30 WIB
Red: Agus Yulianto

“Bicaralah sesuai kapasitas, agar lambat laun bisa matang pada saatnya”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ady Amar *)

Ady Amar. (Foto: dok. Pribadi).

Dalam makna leksikal, kencur adalah salah satu jenis tanaman empon-empon, tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan. Kencur adalah tanaman apotek yang baik bagi kesehatan, dapat menghilangkan penyakit batuk.

Namun jika dimaknai gramatikal atau struktural, jika kata kencur di awalnya ditambahkan satu kata, misal dengan kata ‘bau’; ‘bau kencur’, maka maknanya menjadi berubah seratus persen.

Bau kencur lalu bermakna menjadi seseorang yang baru ngeh pada bidang tertentu tapi sudah berlagak berlebihan… Loe itu anak bau kencur, maknanya menjadi anak yang baru bersikutat pada bidang tertentu, tapi telah bertingkah seolah sudah berpengalaman…

Begitu pula dengan garam, pada makna leksikal adalah benda putih yang rasanya asin. Tapi dalam makna gramatikal/struktural, misal dihubungkan dengan tambahan kata yang menyertainya; ‘banyak makan asam garam’, maka maknanya adalah berpengalaman.

Bau kencur akhir-akhir menjadi bahan ulasan, dan itu disematkan pada anak perempuan muda belia, dan dari partai politik pendatang baru. Dia bernama Tsamara Amany dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Inisial PSI mengingatkan pada Partai Sosialis Indonesia, yang biasa juga disebut PSI. Sebuah partai di zaman Orde Lama, yang didirikan oleh Sutan Sjahrir, dan dibubarkan oleh rezim Soekarno bersama Partai Islam Masyumi, pada tahun 1960.

Partai Solidaritas Indonesia tentu bukan jelmaan Partai Sosialis Indonesia, kecuali sama-sama berinisial PSI. Justru dua partai penyandang inisial yang sama itu memiliki perbedaan yang jauh… Partai Sosialis Indonesia dibubarkan rezim masa lalu itu karena sikapnya yang keras mengkritisi kebijakan-kebijakan Soekarno saat itu. Sedang Partai Solidaritas Indonesia adalah partai baru yang akan mengikuti Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, namun sudah menyatakan diri sebagai partai yang berada di barisan petahana…

Karenanya, banyak pihak yang melihatnya dengan skeptis bahwa PSI akan menjadi partai yang bisa kritis terhadap kebijakan pemerintah, jika petahana memenangkan pertarungan pada Pilpres yang akan datang. Pertanyaan susulannya menjadi, apakah salah pilihan politiknya itu? Tentu tidak dapat dikatakan salah, karena itu pilihannya, tapi kurang strategis untuk menampilkan jatidiri sebagai partai baru yang berisi anak-anak muda dengan karakter yang beragam.

Kekritisan anak-anak muda dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, sekali lagi jika petahana memenangkan pertarungan Pilpres, tidak akan pernah bisa kita harapkan. Lalu apa beda partai yang berisi anak-anak muda ini dengan partai-partai lama yang berada dalam kubu yang sama. Partai anak-anak muda yang kritis yang punya warna tersendiri, yang kita idamkan, akan sulit diharapkan dari PSI “baru” ini. Karena “lagunya” cuma lagu lama dengan aransemen baru.

***

Adalah Grace Natalie, mantan penyiar media televisi, tiba-tiba memimpin partai anak-anak muda itu. Dari mana “amunisi” PSI, sehingga bisa lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), sehingga bisa mengikuti Pemilu yang akan datang. Jeffrie Geovanie, yang tidak muda lagi, hadir sebagai “bos” partai itu, dan duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Partai. Dan Sekretaris Dewan Pembinanya adalah Sunny Tanoewidjaya.

Sebelumnya Jeffrie kita kenal pernah bergabung di beberapa partai, dimulai dari PAN, Golkar, dan Nasdem. Sekarang dialah tampaknya nakhoda partai PSI ini. Mungkin PSI adalah partai “peruntungannya” berikutnya untuk eksis meraih kekuasaan. Ada juga Raja Juli Antoni didapuk sebagai Sekjen Partai, dia mantan Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dan pernah dipercaya sebagai Direktur Maarif Institut.

Di antara nama, yang paling menonjol bahkan ketimbang Ketua Umumnya sekalipun, dialah Tsamara Amany. Wajahnya menghiasi dari satu media televisi ke televisi lainnya. Jika bicara terkesan seperti orang yang berlari kencang karena ketakutan, bahasa Jawa-nya nyerocos. Ada yang suka gaya bicaranya, tapi tidak sedikit juga yang tidak nyaman mendengar gaya penuturannya yang sulit dicerna dengan baik. Bicara yang tanpa tanda jeda; koma atau titik, itu sulit ditangkap pesan-pesan yang disampaikannya.

Tampaknya Tsamara Amany menjadi andalan partai ini untuk menyampaikan gagasan partainya, meski tidak banyak yang kita dengar darinya tentang platform partainya. Tsamara lebih nyaman berdebat melawan politisi-politisi yang lebih senior di kubu oposisi. Tanpa sadar dia menjelma menjadi juru bicara bukan cuma partainya, tapi juru bicara dalam membela kebijakan penguasa. Dia mengambil kapling Johan Budi, yang memang “asli” sebagai Juru Bicara Presiden.

Berkomunikasi itu bagian dari menyampaikan pikiran-pikirannya ke hadapan publik. Jika publik sulit menangkap apa yang disampaikannya, maka gagallah dia sebagai komunikator yang baik… Belum lagi pembicaraan yang tidak substansial sering ditebar Tsamara. Terjebak pada menanggapi twit dari para politisi lainnya amat tidak efektif…

Adalah Fadli Zon, politisi partai oposisi Gerindra, yang kala mentwit memuji-muji Presiden Rusia Vladimir Putin, yang dianggapnya sebagai pemimpin dengan sosok yang kuat dan tegas dalam mengelola negaranya. Karenanya, dia menganggap Indonesia perlu sosok seperti Putin…

Kekaguman Fadli Zon itu tidak ada salahnya. Itu hak pribadinya. Kenapa mesti Tsamara sewot dan menanggapinya kelewat ngawur dengan menyerang pribadi Putin, dan lebih parah lagi menyebut negara Rusia secara negatif, dengan data yang miskin. Komentarnya itu amat merugikan partainya, dan menampakkan kapasitas pribadinya, tidak cuma kualitas intelektualnya, tapi kualitas emosionalnya pun buruk.

Negeri ini butuh anak-anak muda yang kritis, yang berani mengatakan kebenaran dengan sebenarnya, tidak menutup-nutupi keburukan dengan adonan narasi yang dipelintir menjadi kebaikan… Negeri ini akan berjaya jika anak-anak mudanya tampil apa adanya, berjuang untuk kepentingan bangsanya.

Tsamara Amany, memang tergolong masih muda, dan bisa disebut masih bau kencur. Dia perlu banyak belajar, tidak cuma mampu berbicara cepat, tapi berbicaralah yang terukur dan santun. Tidak terbiasa mengomentari hal-hal yang tidak perlu dan bukan wilayah untuk diperdebatkan… Bicaralah sesuai kapasitas, agar lambat laun bisa matang pada saatnya… Dan tentu kita tidak sabar menanti perubahan dari diri Tsamara Amany…

*Pemerhati Masalah Sosial

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here