Kemarau Kian Mengancam Situ Bagendit Menjadi Daratan

0
31 views

“Pelaku wisata terutama pengunjung tetap dijaga agar tak menabrak etika, dan norma-norma sosial”

Garut News ( Senin, 03/08 – 2015 ).

Penyusutan Situ Bagendit Kandaskan Rakit dan Mainan Air. (Foto : John Doddy Hidayat).
Penyusutan Situ Bagendit Kandaskan Rakit dan Mainan Air. (Foto : John Doddy Hidayat).

Selain banyak lahan pertanian kekeringan, juga debit air sungai serta sumber mata air lainnya menyusut, lantaran kemarau panjang selama ini.

Termasuk Situ Bagendit, salah satu obyek tujuan wisata di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, juga tak luput dari dampak kemarau tersebut.

Kini kondisi debit air pada areal situ atawa danau itu, rata-rata hanya berkedalaman setengah meter. Itu pun hanya pada beberapa titik lokasi sekitar bibir situ sebelah timur. Selebihnya, situ memiliki total luas sekitar 124 hektare ini merupakan daratan dipenuhi hamparan tanaman eceng gondok.

Maka tak pelak, banyak moda angkutan air khas Situ Bagendit berupa rakit bambu tak bisa beroperasi, sehingga terpaksa hanya diparkir di pinggiran. Demikian pula wahana permainan sepeda air atawa angsa-angsaan tak bisa leluasa bergerak di perairan.

Uu Saepudin.
Uu Saepudin.

Akibatnya hasrat para pengunjung bisa menikmati wisata bahari tak maksimal terpenuhi. Mereka sekadar hendak menikmati indahnya panorama perairanpunj hanya bisa menelan kekecewaan.

Sebab areal perairan situ kian menyempit dirangsek tanaman eceng gondok, dan tanaman liar air lainnya berkembang relatif cepat. Ragam upaya pembersihan tanaman eceng gondok dilakukan nyaris tak berbekas.

“Berdasar pengamatan visual, kedalaman air kini rata-rata 0,5 meter dari normalnya sekitar tiga meter. malahan bisa kering jika hingga dua bulan ke depan  tak turun hujan,” ungkap Kepala UPTD Bagendit pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut Heri Restu Heryanto, Senin (03/082015).

Sehingga menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat kunjungan wisata pada musim liburan Lebaran/Idul Fitri 1436 H/2015 ini.

Penurunan kunjungan wisata pada salah satu objek wisata favorit legendaries di Kabupaten Garut tersebut mencapai sekitar 20 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan kekeringan selain lantaran hujan tak turun, juga pasokan aliran air irigasi Ciojar bersumber kawasan wisata Cipanas Tarogong Kaler berkurang dipergunakan mengairi areal persawahan, dan pertanian lain di sepanjang aliran irigasi.

Sumber mata air Cikabuyutan Banyuresmi selama ini memasok air Situ Bagendit lama tertutup. Diperparah terjadinya pengendapan lumpur, serta tanaman air membusuk di kawasan Situ Bagendit semakin parah.

Dalam pada itu, jaringan irigasi megaproyek Bendung Copong selama ini kerap digadang-gadang bisa memasok kebutuhan air Situ Bagendit pun, hingga sekarang masih dikerjakan.

Tak heran jika pada musim kemarau, apalagi kemarau panjang, debit air Situ Bagendit melorot cepat. Gundukan tanah atau lumpur kering situ pun terlihat seakan muncul menjqadi gugusan pulau menerabas permukaan air.

Pada musim hujan, kawasan Situ tergenangi air hanya sekitar 80 hektare dari total luas sekitar 124 hektare.

Selain dirasakan para pelaku dan pengunjung wisata, dirasakan pula para penduduk setempat bermata pencaharian penarik rakit maupun pencari ikan di kawasan situ.

Nelayan setempat kesulitan mendapatkan ikan sebab pelbagai jenis ikan seakan menghilang bersamaan merosotnya debit air situ. Kalaupun ada, kebanyakan ikan-ikan berukuran kecil cukup sulit dipancing. Termasuk ikan deleg atau gabus, salah satu ikon jenis ikan berkembang di kawasan Situ Bagendit.

“Dalam dua puluh tahun terakhir, banyak sekali perubahan alam lingkungan Situ Bagendit,” kata penduduk Kampung/Desa Cianten Banyuresmi Harun (35).

Dia mengaku, dulu airnya berlimpah-ruah dan bening bersih. Kedalamannya bisa mencapai seukuran panjang sebatang pohon bambu berbiota air khas, serta beraneka ragam.

Tanaman eceng gondok sangat sedikit. Yang ada justru tanaman teratai merah, teratai putih, rumput air khas daerah rawa, serta tanaman Walini berpopulasi terkendali, menambah daya eksotik.

Ikan berkembang pun beragam jenis. Di antaranya ikan gabus, jongjolong, nilem, beunteur, betok, paray, dan udang.

Tetapi seluruh biota khas Situ Bagendit itu nyaris tinggal cerita. Apalagi ikan jongjolong, dan tanaman Walini bisa dikatakan lama menghilang.

“Dulu, istilahnya, kalau ingin lauk pauk, kita tinggal berangkat cari ikan di situ, dan tak perlu waktu lama. Tapi sekarang, kita mancing setengah harian, belum tentu dapat seekor pun,” katanya.

Harun yakin, berubahnya lingkungan alam tak hanya faktor fisik alam semisal banyaknya penggunaan bahan kimia pada kawasan pertanian di arah hulu, atau banyaknya penduduk berebutan mendapatkan sumber daya alam situ.

Melainkan karena adanya praktik-praktik berbau maksiat dilakukan terutama para pengunjung.

Karena itu, kendati Situ Bagendit diberdayakan maksimal sebagai kawasan objek wisata namun Harun berharap perilaku para pelaku wisata terutama pengunjung tetap dijaga agar tak menabrak etika, dan norma-norma sosial yang ada, imbuhnya menyerukan.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan kabupaten setempat, Uu Saepudin mengemukakan justru kini terdapat sekitar tiga lokasi jaringan irigasi teknis mengalami kekeringan, termasuk di wilayah Kecamatan Cibatu.

Berakibat sedikitnya 700 hektare bersumber pengairan irigasi itu, menjadi kering kerontang. Sedangkan persawahan sekitar 40 ribu hektar selama ini bersumber irigasi desa, bukan merupakan ranah kewenangan menganggulanginya.

“Saya besok melakukan peninjauan lapangan,” katanya ketika didesak pertanyaan Garut News, Senin (03/08-2015).

**********

Noel, Jdh.