Kemarau 2014 Berpotensi Lebih Kering dan Panjang

Garut News ( Sabtu, 17/05 – 2014 ).

Ilustrasi. Pelihara dan manfaatkan Air Dengan Bijaksana. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Pelihara dan manfaatkan Air Dengan Bijaksana. (Foto: John Doddy Hidayat).

Musim kemarau 2014 berpotensi lebih kering, dan lebih panjang dari tahun sebelumnya.

Penyebabnya El Nino, fenomena naiknya suhu muka laut di Samudra Pasifik memengaruhi pembentukan awan, dan curah hujan di pelbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Kepala Pusat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mulyono R Prabowo, katakan, “El Nino mengganggu proses pembentukan awan hujan, terutama di Indonesia Barat.”

Mulyono menerangkan, El Nino berpotensi datang pada Juli hingga Agustus 2014 sebenarnya berskala lemah.

Artinya, peningkatan suhu muka laut di Pasifik berkisar 0,5 hingga satu derajat Celsius.

Namun, El Nino tetap kudu diantisipasi.

“Lantaran terjadi ketika wilayah Indonesia, terutama Sumatera, Jawa, dan selatan Indonesia mengalami musim kemarau,” kata Mulyono saat dihubungi Kompas.com, Jum’at (16/05-2014).

Di Jawa dan Sumatera, El Nino berpotensi mendatangkan kemarau lebih kering dan panjang.

Sektor pertanian kudu mulai mengantisipasi hal itu.

Demikian pula kemungkinan terulangnya kebakaran hutan seperti di Riau.

“Yang perlu dipersiapkan water management,” kata Mulyono.

Kalangan petani, misalnya, bisa mulai menampung air dari hujan kini masih terjadi sebagai persediaan pada musim kemarau nanti.

Cara lain, membuat bendungan kecil.

“Selain itu bisa juga dengan pemilihan varietas tanaman. Jika semula menanam padi membutuhkan air banyak, sekarang bisa menanam membutuhkan air lebih sedikit, atawa berganti komoditas ke palawija,” ungkap Mulyono.

Indonesia Barat mungkin dilanda kekeringan, Indonesia Timur mungkin mengalami surplus air.

Mulyono mengemukakan, El Nino mungkin menggeser pertumbuhan awan ke wilayah Indonesia Timur.

Surplus air bisa bermakna keuntungan atawa kewaspadaan.

Sebab, apabila tak dikelola, air juga bisa menjadi bencana.

“Karena contohnya bendungan Wae Ela di Ambon dahulu jebol saat musim kemarau,” paparnya.

Menurut dia, El Nino fenomena cuaca biasa secara periodik terjadi berrentang waktu antara dua hingga tujuh tahun.

Meski begitu, terdapat kecenderungan peningkatan frekuensi terjadinya El Nino.

“Antara awal 1900-1960, El Nino langka terjadi sehingga disebut periode nonaktif. Tetapi, sejak 1960-an hingga sekarang, El Nino semakin kerap terjadi, disebut periode aktif,” ungkapnya pula.

Kendati variasi aktif dan nonaktif bisa dikatakan biasa, terdapat indikasi peningkatan frekuensi terjadinya El Nino terkait aktivitas manusia secara tak langsung berkontribusi pada kenaikan suhu muka laut Pasifik.

Kegiatan manusia membuka hutan, mengubahnya menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun perumahan memengaruhi uap air menuju ke udara.

Bergabung dengan faktor lain memengaruhi cuaca, aktivitas manusia turut memicu peningkatan kejadian El Nino.


Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com
   

 

Related posts

Leave a Comment