Kemajuan Kabupaten Garut Masih “Secuil”

0
82 views

“Meminta agar Rudy tak selalu mengumbar janji-janji manis madunya, juga supaya konsisten bersikap, serta selaras antara ucapan dengan tindakan. Sehingga tak membingungkan masyarakat Garut, bahkan kalangan aparat birokrasi sendiri”

Garut News ( Sabtu, 24/01 – 2015 ).

Agus Gandhi. ( Foto : John Doddy Hidayat ).
Agus Sugandhi. ( Foto : John Doddy Hidayat ).

Kian banyak  kalangan menilai kemajuan Kabupaten Garut masih  “secuil”, atawa belum terdapat perubahan berarti.

Sejak rezim Bupati Rudy Gunawan dan pasangannya Wabup Helmi Budiman berkuasa, maupun menjabat selama satu tahun terakhir pemerintahannya, 23 Januari 2014 hingga 23 Januari 2015.

Reformasi birokrasi di kabupaten tersebut, juga dinilai jalan di tempat atawa stagnan. Kendati bupati beberapa kali melakukan rotasi, mutasi, dan promosi besar-besaran di kalangan pejabat Pemkab setempat hingga memasuki 2015 ini.

Bahkan tak hanya itu, peran dan fungsi DPRD Garut pun bisa dipertanyakan. Sebab kondisi seperti ini dinilai tak lepas dari tak berfungsinya pengawasan DPRD dinilai pula tak memiliki kekuatan legitimasi.

“Kami lihat pemerintahan Rudy masih stagnan. Reformasi birokrasi pun kenyataannya hanya berputar-putar di pergantian pejabat,” ungkap pemerhati kasus korupsi dan pemerintahan Garut Agus Sugandhi di sela audensi dan aksi unjuk rasa massa terkait Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Rudy-Helmi di Gedung DPRD, Jum’at (23/01-2015).

Menurut dia, guna memulai proses Reformasi Birokrasi, Bupati atau Pemkab hendaknya membentuk dahulu Tim Kerja Reformasi Birokrasi, dan tim teknisnya menyusun Grand Design Reformasi Birokrasi di kabupaten tersebut.

Minimal untuk selama lima tahun pemerintahannya. Sesuai arahan Pemerintah Pusat mengacu pada Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Men-PAN) Nomor: KEP/325/M-PAN /12/2007.

“Hingga kini, Tim Kerja Reformasi Birokrasi enggak pernah dibentuk. Apalagi grand design-nya. Sehingga arah reformasi di Garut ini tak jelas mau ke mana ? Sasaran, dan targetnya tak jelas. Yang terjadi, hanya berputar-putar di pergantian pejabat. Ada kekuatan di birokrasi berjalan sendiri-sendiri, dan itu dibiarkan oleh Bupati. Padahal itu salah satu akar permasalahan,” sesal Agus.

Senada dikemukakan aktivis tergabung Aliansi Mahasiswa Penyambung Lidah Rakyat Garut Dian Elven Hasanudin.

Dikemukakan, Rudy gagal menjawab permasalahan dan harapan masyarakat Garut. Program-program digulirkan selama 2014 pun tak lebih dari langkah pencitraan.

“Ironisnya, bupati lepas tangan atas pelaksanaan kegiatan APBD 2014 dengan dalih karena tak merencanakannya. Dia hanya melanjutkan program bupati sebelumnya. Padahal banyak sekali kebijakan dicanangkan dan dilakukan bupati pada 2014. Seperti pembangunan gedung PKL, pembangunan pabrik sepatu Chang Shin, RPJM harus direvisi, pelbagai perizinan, dan kampanye tematik,” sesal Dian.

Lebih ironis lagi, tak sedikit kebijakan itu dijanjikan Rudy rampung 2014 juga, namun kenyataannya hingga memasuki 2015 masih tak selesai-selesai.

Di ant aranya pembangunan gedung PKL ditargetkan tuntas Desember 2014 namun hingga kini masih belum rampung.

Kampanye tematik berjalan efektif hanya sekitar dua pekan.

Selama setahun ini, muncul justru kasus-kasus gugatan hukum diajukan masyarakat terhadap Pemkab Garut.

Antara lain pembangunan Pasar Limbangan, pembangunan minimarket Kadungora, obyek wisata Darajat Pasirwangi, dan pabrik sepatu Chang Shin Leles.

Ditambah sejumlah kasus sengketa informasi publik.

Dian pun meminta agar Rudy tak selalu mengumbar janji-janji manis madunya, juga supaya konsisten bersikap, serta selaras antara ucapan dengan tindakan.

Sehingga tak membingungkan masyarakat Garut, bahkan kalangan aparat birokrasi sendiri.

*********

Noel, Jdh.

SHARE
Previous articleBertindaklah, Presiden Jokowi
Next articleBW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here