Keluarga Hermawan Setiap Hari Terancam “Kelaparan”

0
299 views
Hermawan Beserta Istri dan Kedua Anaknya.

“Penghasilan Rp10 Ribu Untuk Makan Sekeluarga”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 30/09 – 2017 ).

Hermawan Beserta Istri dan Kedua Anaknya.

Hermawan, pria berusia 45 tahun selama ini berprofesi sebagai pemulung berkondisi cacat lengan kanannya, setiap hari berpenghasilan rata-rata Rp10 ribu bahkan kerap meski bekerja sehari penuh, namun tak membuahkan  penghasilan sama sekali.

Meski jika sedang beruntung bisa mengantongi penghasilan Rp20 ribu, namun dengan acap terjadinya kenaikan harga pokok, menjadikan keluarga Hermawan setiap hari terancam “kelaparan”.

“Kalau pun bisa memenuhi kebutuhan makan, terpaksa harus ikhlas sering menikmati nasi kosong atau tanpa ‘deungeuna’ maupun lauk-pauk,” ungkap Hermawan kepada Garut News di kediamannya, Sabtu (30/09-2017).

Kondisi Gubuk Kumuh Selama Ini Dihuni Hermawan Sekeluarga.

Hermawan beserta istri dan kedua anaknya, nyaris menjelang empat tahun terakhir hanya bisa menempati gubuk kumuh dan kusam di balik pagar pinggiran Jalan Perintis Kota Garut, Jawa Barat, yang sangat berdekatan lokasinya dengan kolong jembatan Sungai Cimanuk.

Mereka mengaku penduduk wilayah Kecamatan Pasirwangi yang berbatasan dengan Kecamatan Samarang, kata Hermawan seraya hendak menunjukan KTP beserta kartu keluarga dari Pasirwangi.

Berkondisi Sangat Memilukan.

Kampungnya berlokasi di pelosok perkampungan yang terletak jauh dari lintasan jalan raya, namun rumah yang dibangun di atas tanah warisan mertuanya tersebut, sejak lama tak bisa dimanfaatkan atau tak bisa dihuni lantaran tergerus longsor.

Hermawan juga mengaku pernah berkeluh-kesah kepada unsur pemerintahan atau RT dan RW di kampungnya, dengan harapan rumahnya bisa direhabilitasi dengan program perbaikan “rumah tidak layak huni” (Rutilahu).

Namun ternyata hingga kini tak pernah mendapat kabar berita apakah bisa segera terwujud harapannya itu.

Dikemukakan Hermawan, kondisi fisiknya tak memungkinkan menjadi kuli bangunan atau buruh tani, maka jalan satu-satunya menjadi pemulung di seputar Kota Garut.

Hidup Terisolir Dekat Kolong Jembatan Sungai Cimanuk.

Sehingga tak mungkin pula meninggalkan istri beserta kedua anaknya di kampung, sebab rumahnya sama sekali tak bisa lagi dihuni.

Karena itu, terpaksa pula memboyong keluarga ke kota, dan berdomisili tak jauh dari kolong jembatan atau di balik pagar lintasan Jalan Perintis.

Dia bersama keluarga selama ini pula, berusaha berkebun di atas tanah bertebing. Sedangkan kedua anaknya yang besar perempuan berusia lima tahun, sedangkan adiknya masih balita.

Mereka sekeluarga hidup terisolasi meski berada di tengah Kota Garut.

“Tergerus Longsor”

Dari Garut dilaporkan, longsor di Cisompet wilayah Garut Selatan, Sabtu sore ini mengakibatkan tertutrupnya ruas badan jalan.

Sehingga mobilitas arus lalu lintas ragam jenis kendaraan dari dan ke Pameungpeuk menjadi lumpuh total.

 

*******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here