Kelompok Jabatan Fungsional Masih Berkondisi “Lesu Darah”

0
35 views

Garut News ( Kamis, 11/12 – 2014 ).

Asep S. Farouk.
Asep S. Farouk.

Kelompok jabatan fungsional itu, ternyata hingga kini dimanapun umumnya masih berkondisi “lesu darah”.

Lantaran, nyaris seluruh personil kelompok jabatan fungsional, selain guru dan dokter, sangat kesulitan memenuhi kriteria perolehan angka kredit bisa meraih harapan dua tahun sekali naik pangkat, atawa meningkatnya kesejahteraan mereka.

Kondisi memprihatinkan tersebut, juga diakui Kepala BKD Kabupaten Garut Asep S. Farouk kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (11/12-2014), mengemukakan pula padahal jabatan fungsional sandi (sandi man), kearsipan serta perpustakaan dinilai tak kalah beratnya beban kerja mereka.

Takdir Pejabat Fungsional, Selain Guru dan Dokter.
Takdir Pejabat Fungsional, Selain Guru dan Dokter.

Namun takdir nasibnya, tak kinclong seperti guru dan dokter, barangkali ke depan bisa maksimal memenuhi harapan setiap seluruh personil jabatan fungsional sesuai keakhliannya masing-masing.

Yohanes N. Widiyanto, PhD Candidate/The Ohio State University, dosen Unika Widya Mandala Surabaya juga katakan, salah satu pos menyita anggaran besar adalah dana sertifikasi guru mencapai Rp 60,5 triliun dalam APBN 2014, sebuah kenaikan fantastis 50 persen dari tahun sebelumnya dan diperkirakan terus membengkak setiap tahunnya.

Dana sertifikasi dibagikan pada guru setiap bulannya ini, setara perbaikan 302.500 sekolah atau ratusan juta penyertaan orang miskin dalam BPJS atau ribuan kilometer jalan baru.

Ini salah satu contoh dari investasi begitu besar yang akan sia-sia jika tanpa pemikiran matang dan kerja efektif dalam mengawalnya.

Dalam pada itu, para dokter pun bisa berpraktek dimana-mana, maupun bekerja tak hanya pada satu rumah sakit, banyak banyak di antaranya mendidirkan yayasan membuka jasa layanan kesehatan.

Pada bagian lain keterangannya, Asep S. Farouk mengemukakan pula, nyaris setiap bulan memeriksa kalangan PNS yang hendak melakukan gugat cerai.

Banyak di antaranya datang dari kaum perempuan juga berprofesi guru, mungkin lantaran terdapat pergeseran nilai.

Atawa barangkali sebagai fenomena baru yang serba pragmatis, katanya.

*******

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.