Kelalaian Kebun Raya

0
29 views

Garut News ( Jum’at, 16/01 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sungguh memalukan pengelola Kebun Raya Bogor tak memiliki alat deteksi rayap dan kesehatan pohon.

Pengelola tak tahu mana pohon sehat, sakit, dan keropos. Maka, tragedi belum lama ini, pohon tumbang menewaskan enam orang serta melukai 25 pengunjung, merupakan harga amat mahal kudu dibayar.

Kejadian ini bukan pertama. Pada 2005, sebuah pohon tua juga roboh dan membunuh anak 11 tahun serta melukai 20 orang lainnya. Penyebabnya sama: rayap.

Pohon-pohon berusia di atas 50 tahun itu tampak bagus dari luar tapi keropos di dalam. Selama ini pengelola Kebun Raya hanya mengandalkan survei visual mendeteksi 40 ribu pohon di sana.

Lebih celaka lagi, para pengelola sebenarnya tahu alat deteksi rayap sudah lama ada. Di Indonesia, alat itu hanya ada di laboratorium entomologi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Alat yang disebut sonic tomography produksi Jerman itu harganya Rp250 juta. Dengan penghasilan Rp15 miliar setahun dari penjualan tiket, menganggarkan satu alat tentu bukan hal sulit.

Sonic bekerja seperti sinar-X di bidang internis kedokteran. Ia memindai dan menghasilkan foto kondisi pohon sebenarnya.

Jadi, dari hasil pemeriksaan itu, perlakuan terhadap setiap pohon bisa segera diputuskan: ditebang sebelum roboh atau disemen jika jenisnya perlu dipertahankan.

Damar roboh pekan lalu itu berumur 50 tahun, baru sepertiga usia kemampuan Agathis umumnya hidup.

Para pengelola Kebun Raya, terdiri para ilmuwan lantaran manajemennya menginduk pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tentu juga mafhum bahwa tanah Bogor yang lembap adalah rumah bagi lima famili rayap.

Karena itu, mengandalkan pemeriksaan pohon dari pandangan mata belaka, selain kuno, sangat bias, dan berpotensi keliru.

Sebab, ancaman bagi pohon-pohon di Kebun Raya bukan sekadar rayap, tetapi juga air. Seperti penjelasan Wali Kota Bogor Bima Arya, pohon-pohon di Kebun Raya terancam tumbang sebab kekurangan air akibat disedot manusia tinggal di pertokoan, kantor, dan hotel-hotel tumbuh masif sekeliling Kebun Raya Bogor dalam 10 tahun terakhir.

Bima Arya pernah berjanji mengkaji ulang izin-izin bangunan di sekelilingnya.

Dan, Bogor tak kekurangan ahli mendeteksi itu. Institut Pertanian Bogor punya jurusan Ilmu Tanah.

Fakultas Kehutanan di kampus itu pun punya laboratorium rayap, dan kayu dengan para ahli mumpuni bisa diajak bekerja sama mendeteksi pohon dan memeliharanya.

Sebab, Kebun Raya Bogor sejak mula, ketika didirikan Prabu Siliwangi pada 1474, ditujukan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tak adanya alat deteksi pohon yang elementer bagi sebuah laboratorium, selain memalukan, menunjukkan kelalaian pengelola berakibat hilangnya nyawa manusia.

Dalam kondisi normal, semestinya kelalaian itu merupakan sebuah tindak pidana punya konsekuensi hukuman bui.

Polisi berhak menyelidiki damar itu untuk mencegah kelalaian serupa yang tak perlu terulang.

********

Opini Tempo.co