Kefatalan KLB Difteri Garut Peringkat Pertama Jabar

0
134 views
Sarana Buang Air Besar, Mencuci Piring, Mencuci Bahan Makanan, dan Mencuci Pakaian Juga Mandi Memanfaatkan Air Kolam Ini, Masih Banyak Terjadi di Kabupaten Garut.

“Dari Sedikitnya 12 Kasus Tewaskan Tiga Warga Garut”

Garut News ( Rabu, 13/12 – 2017 ).

Sarana Buang Air Besar, Mencuci Piring, Mencuci Bahan Makanan, dan Mencuci Pakaian Juga Mandi Memanfaatkan Air Kolam Ini, Masih Banyak Terjadi di Kabupaten Garut.

Dari sedikitnya 12 kasus wabah difteri di Kabupaten Garut yang menewaskan tiga warganya, intensitas kefatalan maupun “Case Fatality Rate” (CFR) pada “Kejadian Luar Biasa” (KLB) jenis penyakit menular dan mematikan tersebut, menduduki peringkat pertama di Provinsi Jawa Barat.

Dr Asep Surachman, SKM, MKM .

Sedangkan pada jumlah kasusnya dari 27 kabupaten/kota di Jabar, Kabupaten Garut bertengger di peringkat ketiga, setelah Kabupaten Purwakarta dengan 21 kasus menewaskan satu orang, dan Karawang (13) kasus juga menewaskan satu orang.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan kabupaten setempat, Dr Asep Surachman, SKM, MKM katakan, pada 2006 silam di kabupatennya pernah diketemukan dua kasus difteri.

Kemudian selama 2016 lalu terdapat lima kasus menewaskan dua orang dengan CFR 40 persen, disusul sejak Januari hingga menjelang pertengahan Desember 2017 wabah KLB Difteri di Kabupaten Garut mencapai 12 kasus menewaskan tiga orang dengan CFR 25 persen.

Kondisi Lingkungan Yang Sangat Buruk Setiap Diguyur Hujan.

Sehingga meski jumlah penderitanya meningkat, namun CFR maupun kefatalannya menurun dari 40 persen menjadi 25 persen, katanya ketika didesak pertanyaan Garut News di ruang kerjanya, Rabu (13/12-2017) sore.

Dikemukakan Asep Surachman, terjadinya penurunan CFR pada lingkup Kabupaten Garut, berkat keberadaan Puskesmas yang penatalaksanaannya berlangsung dengan baik, katanya pula.

Rumah Penduduk Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, Selalu Tergenang Setiap Diguyur Hujan Deras.

Namun wabah KLB Difteri pada 2017 ini, pola pergeseran penyebarannya semakin meluas ke wilayah Selatan Kabupaten Garut hingga mencapai 75 persen, sedangkan selebihnya di perkotaan, serta wilayah Garut Utara.

Sedangkan solusi yang kini gencar diselenggarakan, pertama cakupan imuniasi pada 56.000 an anak usia 0 – 1 tahun, kemudian bayi usia 18 bulan hingga 24 bulan, imunisasi tambahan pada 107.833 anak sekolah dasar kelas satu hingga kelas tiga.

Selanjutnya imunisasi pada 55.056 perempuan usia subur juga perempuan hamil, karena itu masyarakat diimbau agar tidak cemas melainkan bisa segera dilengkapi imunisasinya.

Kondisdi Lingkungan yang Kerap Sangat Memilukan.

Dilaksanakan pula langkah antisipatif berupa surveilans ketat pada fasilitas kesehatan milik pemerintah, dan swasta.

Menyusul wabah KLB Difteri tersebut, merupakan insfeksi akut yang mematikan lebih cepat daripada HIV/AIDS, ungkap Asep Surachman.

Diagendakan 2018 mendatang di Kabupaten Garut diselenggarakan ORI atau Outbreak Response Immunization

Dikatakan, penyebaran wabah KLB Difteri pada wilayah Selatan Garut, di antaranya terjadi di Sukamulya Sukaresmi, Cihurip, Pakuwon Cisurupan, Peundeuy, Cisandaan, Mekarmukti, Cikajang, serta di Sindangratu.

Sedangkan 12 kasus wabah tersebut, terdiri tiga kasus usia 1 – 4 tahun, dua kasus usia 10 – 14 tahun, serta tujuh kasus pada usia di atas 15 tahun.

Sebanyak tiga kasus yang meninggal dunia masing-masing menimpa warga Sindangratu usia 32 tahun, serta penduduk Peundeuy dan Pakuwon Cisurupan keduanya pada usia berkisar 18 – 20 tahun.

Yang terserang wabah KLB jenis penyakit ini, sebnagian besar berkondisi ekonomi menengah ke bawah di lokasi pemukiman perkampungan penduduk.

Difteri, penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae yang kini kembali mewabah. Hingga November 2017, 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan lantaran ditengarai penyebabnya kengganan orangtua memberikan imunisasi pada anak.

Diafteri mudah sekali menular melalui batuk atau bersin, paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung sehingga membentuk selaput putih dan tebal yang lama-lama menutupi saluran nafas.

Bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Menyebabkan kematian, bisa menyerang bayi, anak-anak, dan paling banyak balita dan usia sekolah, juga remaja.

Sebagian besar atau nyaris dua pertiga terkena difteri karena belum pernah diimunisasi sama sekali, atau belum pernah diimunisasi DPT. Karena imunisasi di luar itu tak bisa cegah difteri.

“Sering orangtua kalau ditanya, sudah diimunisasi walaupun tidak bisa menunjukkan itu imunisasi difteri. Mereka kerap membela diri sudah imunisasi lengkap, di sisi lain, ternyata itu imunisasi polio, atau campak, dan DPT satu kali,” ujar Soedjatmiko.

Idealnya sampai umur 1 tahun DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, sampai umur 5 tahun kalau bisa 5 kali DPT. Sampai umur 6 tahun 6 kali DPT, sampai umur 7 tahun 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Untuk umur di atas 7 tahun, nama vaksinnya bukan DPT, tapi Td, beda vaksin tapi yang penting ada komponen D-nya.

Gejala kentara bagi penderita difteri jika mendapati ada selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung, apalagi disertai leher bengkak. Bisa jadi itu difteri, dan walaupun belum tentu, akan lebih baik diperiksa dulu untuk dibuktikan. Jika mendapati gejala itu, ada baiknya segera bawa ke puskesmas, atau RS terdekat.

ORI atau Outbreak Response Immunization

Ada tiga provinsi ditengarai kasus difteri paling banyak, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten menjalani program ini secara berkala, pada 11 Desember 2017, 11 Januari dan 11 Juli 2018. Jawa Timur juga tinggi kasus difterinya lebih dulu melaksanakan ORI.

Wabah difteri pernah terjadi pada 2009. Namun, kini wabah tersebut lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Kemungkinan terjadinya wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tak diimunisasi, dan atau diimunisasi tapi tak lengkap.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

Pelbagai Sumber.

SHARE
Previous articleAir
Next articlePalestina, Nasibmu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here