Kedodoran Menyiapkan Pemimpin

by

Garut News ( Kamis, 08/05 – 2014 ).

Ilustrasi. Memilih dan Memilah. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Memilih dan Memilah. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kalangan partai politik terlihat kedodoran membangun koalisi, dan menyiapkan calon presiden.

Hingga kini, belum muncul calon tangguh menandingi Joko Widodo alias Jokowi–calon presiden didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Partai Nasional Demokrat.

Keadaan ini tak terjadi andaikata partai-partai mendengarkan keinginan publik, dan pintar melahirkan pemimpin.

Prabowo Subianto, satu-satunya pesaing Jokowi paling siap.

Hanya, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya ini belum bisa memastikan partai lain ikut mengusungnya.

Ia menjajaki koalisi dengan sejumlah partai, seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, sertra Partai Golongan Karya.

Tetapi sejauh ini belum ada partai resmi bergandengan dengan Gerindra buat menyokong pencalonan Prabowo.

PDIP tampak hanya menunggu waktu tepat mengumumkan pasangan Jokowi.

Namun tak demikian halnya dengan partai lain.

Energi mereka banyak terkuras mencari kawan berkoalisi.

Kasak-kusuk ini kerap mengundang perpecahan seperti terjadi di Partai Persatuan Pembangunan.

Ketua Umum PPP Suryadharma Ali ingin menyokong Prabowo, tetapi para petinggi partai lain tak sepakat.

Di Golkar, posisi Aburizal Bakrie malahan serba salah.

Apabila ngotot maju sebagai calon presiden, ia diprediksi sulit menang.

Namun beralih menjadi calon wakil presiden, lalu berpasangan dengan calon presiden dari partai lain, juga bukan pilihan mudah.

Kalangan internal partai akan mempersoalkan langkah mundur ini.

Partai Demokrat pun serba repot.

Suara partai ini merosot tajam sebetulnya bukan halangan buat menyiapkan calon presiden.

Masalah muncul lantaran calon presiden bertarung lewat konvensi Demokrat memiliki elektabilitas rendah.

Ini berarti ada salah dalam menentukan mekanisme konvensi.

Demokrat juga gagal membaca keinginan pemilih ihwal figur ideal presiden 2014-2019.

Padahal partai ini memiliki banyak tokoh andal di pemerintahan, semestinya bisa ditawarkan pada publik.

Jauh hari, partai politik biasanya langsung menempatkan ketua umumnya menjadi calon presiden.

PDIP pun melakukan hal sama, sebelum akhirnya Megawati memberi kesempatan kepada Jokowi.

Inilah menimbulkan problem ketika elektabilitas calon presiden juga ketua umum partai itu tak cukup menandingi calon lain.

Aburizal mengalami kebingungan ini.

Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat, Wiranto, pun bernasib sama.

Kelemahan partai politik dalam melahirkan pemimpin andal jelas merugikan rakyat.

Kini publik baru disodori dua calon presiden benar-benar siap: Jokowi dan Prabowo.

Padahal orang tahu, di luar mereka, sebetulnya banyak tokoh berpotensi besar menjadi presiden.

Partai-partai tak mengorbitkannya sehingga rakyat menghadapi pilihan terbatas.

*******

Opini/ Tempo.co