Kebencian, Ketakutan, dan Permusuhan yang Merentang

0
36 views
Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

Sabtu , 16 September 2017, 07:49 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Harri Ash Shiddiqie. (dok.Istimewa).

Di jaman itu, tahun 1785, belum ada istilah “Teroris”, juga belum dikenal “Islamofobia”. Orang-orang Burma dari selatan dipimpin Thado Minsaw anak raja Bodawpaya menyerang Kerajaan Arakan di utara yang rajanya bernama Thamada. Kemenangan itu mengusung 20.000 budak ke selatan. Pemerintahan berikutnya sedemikian kejam dan ngeri, sehingga 35.000 kaum muslimin Arakan mengungsi ke Bengali.

Tahun 1799 Francis Buchanan Hamilton mengunjungi Arakan, ia menulis tentang penduduk Muslim setempat, Rooinga. Ketika Inggris memenangkan perperangan atas Burma tahun 1826, orang-orang muslim yang tergusur ke Bengali itu kembali ke Arakan.

Kebijakan Inggris melonggarkan orang-orang India, termasuk orang-orang Bengali yang beragama Islam berdatangan ke Burma, membuat api ketegangan. Tahun 1926 dan 1938 telah muncul protes. Ketegangan terpendam dan menjalar ke Arakan. Ketika Burma jatuh ke tangan Jepang saat perang dunia (PD) 2, Inggris mempersenjatai orang Ronghiya agar Arakan kacau, agar Jepang tidak segera masuk ke India. Kondisi ini memantik picu panas antara kaum muslim Arakan dengan penduduk beragama Budha. Bentrokan-bentrokan mulai terjadi

Tahun 1948, kemerdekaan Burma membuat Arakan tenang. Pemimpin Burma U Nu menyatakan bahwa orang-orang Muslim Arakan adalah warga negara. Tetapi sejak junta militer memegang kekuasaan, kebijakan U Nu itu mulai dikesampingkan. Tahun 1974 keluar Ketetapan Imigrasi Darurat. Ketetapan ini menghapus berlakunya Sertifikat Registrasi Nasional, yang dibuat berdasar peraturan 1947. Aturan sertifikat itu menyampingkan orang-orang Rohingya.

Ketika 1982 dikeluarkan Undang-Undang warga negara, orang-orang Rohingya termasuk orang asing. Bahkan nama Arakan diganti Rahkine pada tahun 1989, itu menegaskan wilayah beridentitaskan agama yang bukan Islam.

***

Tahun 1406, jauh sebelum Inggris hadir di Arakan, Raja Nawakhaila, seorang raja Budha di Arakan mendapat serangan. Raja ini lari ke Bengali, meminta perlindungan kepada Sultan Jalaluddin Muhammad Syah, seorang raja Muslim. Ia diterima. 24 tahun kemudian ia kembali duduk di singgasananya setelah mendapat bantuan dari Kerajaan yang melindunginya. Tahun-tahun berikutnya Kerajaan Arakan berjaya, rajanya tetap seorang Budha, dan kebudayaan berkembang sedemikian rupa sehingga mata uang di negeri itu bernama Kalima, satu sisi berhuruf Arab/Persia dan sisi lainnya beraksara Burma.

Islam datang dan bersemayam di Arakan penuh damai sekitar dua abad. Orang-orang dari Bengali, beragama islam masuk ke Arakan yang subur, menjadi petani, pedagang, dan tidak sedikit yang menjadi pegawai kerajaan.

Di sisi lain ada orang-orang Burma yang merasa sakit. Bukan hanya karena agama yang mendesak agama mereka, tapi juga karena jumlah populasi yang meningkat.

***

Menjelang pergantian abad 21, sebelum peristiwa 911 yang menghancurkan dua gedung WTC, istilah Islamofobia sudah merebak, ia eksis dan istilah itu muncul dalam laporan Trust Runnymede, Inggris, yang mengidentifikasi komponen-komponen Islamofobia di tahun 1997.

Kenapa wabah Islamofobia muncul? Berbagai pendapat menyatakan, ini dipicu Tesis Samuel P. Huntington : Setelah komunisme runtuh, benturan peradaban akan terjadi antara Barat dan Islam. Tesis ini mengejutkan sekaligus menakutkan.

Jadi, Islam benar-benar akan berdiri, dan tegak? Ketakutan beriringan dengan kebencian. Tepat seperti yang dialami Raja Bodawpaya yang kemudian memerintahkan anaknya Thado Minsaw menyerang Kerajaan Arakan. Berabad-abad kemudian, sampai hari ini, Bhiksu Ashin Wirathu mengobarkan kebencian sekaligus ketakutannya bahwa Islam akan menguasai Myanmar.

Toh, Islamophobia bukan hanya di Myanmar atau di Eropa di saat dulu maupun sekarang. Kebencian, ketakutan sekaligus permusuhan kepada Islam telah terentang sejak jaman Rasulullah, Quraisy khawatir kebiasaan yang telah turun-temurun sejak nenek moyang, berupa penyembahan berhala akan dikalahkan Islam. Islamofobia juga menancap di dada Amangkurat I. Pemberontakan Pangeran Alit yang didukung ulama membuat Amangkurat I mengumpulkan ulama, keluarga dan santri-santrinya. Sekitar 5000 nyawa di alun-alun dibantai.

Bila penyebab Islamophobia adalah ketakutan akan hilangnya eksistensi kemapanan kekuasaan, nilai-nilai, kebiasaan, sampai budaya warisan nenek moyang. Bukankah Islamophobia juga bertebaran di sekitar kita?

***

Setan itu pintar, licin dan bersembunyi. Di Eropa dan Myanmar, ketakutan kepada Islam membuahkan kebencian. Mereka menekuk Islam dengan tudingan teroris, radikalis dan semacamnya. Tetapi di sekitar kita? Orang-orang pengidap Islamofobia tetap menunjukkan dirinya beragama islam, agar warisan nilai nenek moyang tidak hilang, mereka setia melakukan ritual menyembah dan meminta keselamatan kepada gunung, batu besar atau ombak di lautan. Agar kekuasaan tidak hilang, Islam dielus, tetapi kemudian ditunggangi sebagai kendaraan untuk meraih hati agar mendapat suara ketika pemilihan.

Setan bersembunyi di dalam hati pengidap Islamofobia. Sikap dan tindakannya sering kali manis, Tapi sungguh jelas : Tidak menghendaki Islam tegak dan berjaya. Munafikkah mereka? Apa bedanya dengan Islamophobia? Kemunafikan pasti memelihara Islamofobia, dan pengidap Islamophobia belum tentu munafik.

Semoga Allah menghindarkan kita dari kemunafikan. Amin.

*) Penyuka sastra dan teknologi, di Jember.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here