Kebenaran Sains, Covid-19, dan God is Dead

0
7 views
Ilmuwan Islam Al Kindi tengah sibuk dalam ekpresimennya. Foto: Wikipedia

Sabtu 17 Jul 2021 10:12 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Alqur’an. Foto : John.

“Allah memperingatkan kembalilah kepada kebenaran sejati”

IHRAM.CO.ID — Oleh: Prof Dr. OK. Saidin, SH.,M.Hum, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara

Hasil panen dari rennaisance adalah modernisme. Sejak itu dunia  telah memiliki keyakinan baru yakni sains. 

Sains yg dihasilkan berdasarkan metode mencari kebenaran yang menafikan unsur mistis dan wahyu.

Oleh karena itu sains lah dianggap satu-satunyanya sumber  ‘kebenaran.’ dan memgeliminasi Kebenaran Wahyu. Alhasil terciptalah, seperti kata Nietszche, nihilisme. Karena modernisme ini menjadikan saintis sebagai dogma, yang wajib dipercaya.

Angka-angka, hasil pengamatan, buah dari teori empirisme Kant ditambah Cartesius, telah melahirkan ‘God is dead.’ 

Padahal Allah adalah Dzat yang maha hidup dan  maha mengetahui dan sumber kebenaran. Seumpama pabrik-pabrik  menciptakan mesin, maka pabrik mengeluarkan buku manual untuk mengoperasikan mesin itu

Justeru bukan mesin itu sendiri mencari dan membuat jalannya sendiri. Atau dia dioperasikan dengan menggunakan buku manual yang lain.

Dalam sejarah perjalanan ummat manusia di muka bumi, ketika manusia tak mampu mencari jawaban atas fenomena alam, fenomena sosial, dll, Allah Swt menurunkan wahyu kepada Rasul-Rasulnya dan menuangkannya dalam KitabNya. Kitab yang merupakan sumber dari segala kebenaran yakni: Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an.

Al Qur’an sebagai kitab terakhir menyempurnakan seluruh sumber kebenaran sebelumnya.

Maka, inilah saatnya kembali pada Al Qur’an. Tauhidullah.

Covid 19 diturunkan Allah adalah sebuah kebenaran. Kebenaran Ilahiyah. Allah hanya mengingatkan untuk tidak dikatakan menyentakkan kesadaran manusia sebagai khalifah di muka bumi, agar kembali kepada kebenaran Ilhiyah.

Sangat sedikit ayat-ayat Al Qur’an yg berisikan perintah sholat dan puasa, tetapi berapa banyak  perintah yang diturunkan agar manusia menyelamatkan lingkungan, tidak menumpuk harta, memperdulikan para yatim, mengasih makan kaum dhu’affah mustadh’affin,  menjadi pemimpin yang adil, mendidik anak, menyelamatkan keluarga dari api neraka, dan tugas menjadikam bumi dan langit menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk dihuni, dll.

Intinya Khairunnas amfa’uhum linnas. Manusia harus memberi manfa’at bagi manusia lain. Itulah sebaik-baik manusia. Bukan justeru kehadirannya menciptakan huru hara.

Jadi manusia tetap menjadi subyek yang dituju Allah. Maka lahirlah adab dan akhlak.

Metode mencari kebenarannya harus melihat pada sumber wahyu, bukan metode filsafat

Karena filsafat, membawa pada aqidah yang sesat, bahwa “manusia” adalah objek yang mengamati. Bukan objek yang di amati yang dituju Al Qur’an. inilah kesalahan fatal secara aqidah.

Al Qur’an berkali-kali menyatakan dirinya sebagai petunjuk (Al Hudan) bagi manusia, sebagai pembeda (Al Furqan)  antara yang haq dengan yang bathil. Al Qur’an penuntun jalan ke arah keselamatan ummat manusia. Sindiran Allah Swt sangat tajam, apakah manusia ingin mencari hukum-hukum lain selain yang telah ditetapkan Allah Swt?

Petunjuk yang dihasilkan sainslah yang kerap kali merusak aqidah. Al Quran tidak membenci ilmu. Bahkan kata ilmu itu dutempatkan sebagai kata terbanyak ke dua setelah kata Allah dengan berbagai sebutannya.

Akan tetapi Ilmu yang dimaksudkan di situ bukan sains yang dibangun berdasarkan metodologi filsafat yang menganulir wahyu.

Pilihan yang terakhir ini akan merusak aqidah.

Rusaknya aqidah itulah yang menjadi sebab atau sumber rusaknya syariat.

Syariat berhubungan dengan Tauhid. Bahwa semua peristiwa baik dan buruk bersumber dari Allah.

Manusia tinggal memilih jalan kiri atau jalan kanan.

Jalan kanan ada Malaikat yang membimbing, sedangkan jalan kiri ada Syeitan yang terus menerus membawa manusia ke jalan kesesatan. Malaikat dan Syeitan adalah makhluk Allah.

Manusia juga makhluk Allah. Adalah naif jika manusia mencari kebenarannya sendiri yang mengabaikan Wahyu. Itulah yang dihasilkan filsafat. Buahnya adalah sains .

Jangan terkecoh dengan kebenaran sains, semuanya nisbi. Tak ada teori yang dilahirkan para ilmuwan yang abadi.

Oleh karena itu mari kita gali kebenaran Al Qur’an , sebagai sumber Dinul Islam.Tauhid menjadi unsur penting kembalinya Dinul Islam. Jalan aman menuju Tauhidullah yang Sahihan, itulah Tassawuf. Tassawuf inilah yang akan membuka jalan Tauhid dan akan menghidupkan kembali syari’at.

Dengan tassawuf, fenomena alam akan mahirkan ilmu sekaligus memberikan jawaban atas fenomena Ilahiyah. Jangan justeru Tuhan difilsafatkan sehingga lahir cabang filsafat Theologi. Itu sesat.

Alam dan tanda-tanda kebesaran Allah yang perlu diurai dengan menggunakan pendekatan tassawuf. Dengan begitu akan terjawab sindiran Al Qur’an terhadap manusia dalam Surah Al Rahman. Nikmat mana lagi dari Raabmu yang kamu dustakan? Wallahu’alam bis shawab.

******

Republika.co.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here