Kawasan RTH eks Pasar Cibatu Rawan Gugatan

0
199 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Sedikitnya 26 unit kios pada di lahan milik PT KAI seputar eks Pasar Cibatu Desa Keresek Kecamatan Cibatu, Garut, dibongkar PT KAI. Kemudian lahan tersebut bakal “Ruang Terbuka Hijau” (RTH).
Diterjunkan sekitar seratus petugas, juga satu unit alat berat pembongkar kios-kios permanen berkondisi dikosongkan itu. Para pemilik kios pun berpindah menempati kios-kios pada Pasar Cibatu baru, di Kampung Parakan Telu Desa Cibunar, tak jauh dari lokasi pasar lama.

Meski proses pembongkaran berlangsung lancar bahkan kondusif, namun tak urung pula sebagian kalangan memertanyakan tak dibongkarnya kios-kios lain berada persis sepanjang pinggiran rel KA.

Mulai kios-kios berdekatan pintu lintasan KA pada ruas Jalan Raya Cibatu-Limbangan ke arah timur hingga pintu lintasan berikutnya pada ruas Jalan Cibatu-Bandrek.

Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) II Bandung Zunerfin katakan, 26 unit bangunan kios sekitar eks Pasar Cibatu lebih dulu dibongkar, lantaran kios-kios ini habis masa kontraknya dengan PT KAI, dan berkondisi kosong.

Selain langkah pengamanan aset milik PT KAI, pembongkaran kios tersebut juga berkaitan dengan program Pemkab setempat berencana menjadikan kawasan eks Pasar Cibatu sebagai kawasan RTH, katanya.

“Yang dibongkar karena tak punya kontrak lagi, dan ada kepentingan dijadikan RTH. Di tempat lain juga masih ada kios-kios di atas lahan PT KAI. Tetapi kalau sesuai aturan harus dibongkar, ya dibongkar. Kita bertahap laksanakan aturan ada di kita. Juga terkait soal waktu, dan terbatasnya petugas,” katanya pula.

Ketika disinggung, apakah bangunan-bangunan kios di sepanjang pinggir rel KA itu belum dibongkar karena masih terikat kontrak sewa menyewa lahan, atau ada perpanjangan kontrak sesuai permintaan warga pemilik kios, Zunerfin tak menjawab.

Dia juga menolak menjelaskan ketika ditanya apakah ada perjanjian kerjasama atau belum dilakukan PT KAI dengan Pemkab Garut terkait rencana dijadikannya lahan eks Pasar Cibatu termasuk lahan PT KAI itu.

“Kita hanya melaksanakan aturan, sesuai tanggung jawab kita. Sedangkan menentukan atau menyewakan aset sesuai peruntukkan ada kerjasama dengan daerah dan memberikan konstribusi ke daerah, tentu kita sambut,” kata dia.

Kepala DLHKP Aji Sukarmaji membenarkan pembongkaran bangunan-bangunan kios sekitar eks Pasar Cibatu itu dilakukan, adanya rencana Pemkab menjadikan lahan kawasan eks Pasar Cibatu sebagai RTH.

“Memang rencananya tahun ini, lahan eks Pasar Cibatu ini bakal dijadikan kawasan RTH. Termasuk tanah milik PT KAI yang kios-kiosnya dibongkar hari ini, rencananya kita sewa jadi kawasan RTH. Luasnya sekitar 1.700 m2,” beber Aji.

Dia mengaku masih belum tahu tentang fasilitas apa saja hendak dibangun pada lokasi diproyeksikan menjadi kawasan RTH tersebut. Namun menyatakan pada 2016, kegiatannya baru terfokus pada penataan kawasan dengan penanaman pohon-pohon besar.

Sedangkan menyangkut fasilitas dibangun direncanakan dilaksanakan pada tahun berikutnya.

Informasi diperoleh darim lapangan menunjukan, kendati sejumlah kalangan menyambut baik rencana Pemkab menjadikan lahan eks Pasar Cibatu sebagai kawasan RTH, sebagian lainnya memertanyakan status lahan tersebut dinilai rawan gugatan.

Sebab, selain lahan PT KAI, sebagian besar lahan eks Pasar Cibatu itu hingga kini statusnya masih belum jelas. Kendati disebut-sebut sebagai aset milik Pemkab, namun lahan semula merupakan carik Desa Keresek itu sempat dijual kepada pihak swasta, dan hasilnya dibelikan aset tanah tersebar di Wanakerta, Keresek, dan Cibunar.

Dokumen otentik, dan absah terkait pelepasan tanah carik desa kepada pihak swasta itu pun, masih belum jelas.

*******

(noel, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here