Kampung

Bandung Mawardi
Esais

Garut News ( Jum’at, 01/08 – 2014 ).

Ilustrasi. Kembali ke Kota Setelah Pulang Mudik di Kampung. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Kembali ke Kota Setelah Pulang Mudik di Kampung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Jutaan orang bergerak, berharap bisa pulang ke kampung.

Agenda mudik tentu berurusan dengan uang, transportasi, keluarga, dan memori.

Di kampung, orang-orang berkumpul lagi setelah terpisah jarak geografis.

Kampung menjadi ruang untuk mempertemukan orang-orang berdalih ikatan keluarga dan sosial.

Tak cuma ruang pertemuan manusia, sekarang kampung lekas menjadi garasi, galeri, dan studio.

Orang-orang dari pelbagai kota berdatangan ke kampung dengan misi imbuhan: mengekspresikan status sosial dan kesuksesan.

Kita lazim melihat kepulangan mereka menggunakan sepeda motor atau mobil.

Kita tak bisa menganggap sepeda motor dan mobil cuma alat transportasi.

Orang-orang telah menjadikan sepeda motor dan mobil sebagai penjelasan selera, kemodernan, harta, dan martabat.

Kampung kedatangan puluhan atau ratusan sepeda motor dan mobil.

Lihatlah, kampung menjadi garasi besar!

Sepeda motor dan mobil berseliweran di jalan-jalan kampung.

Di pekarangan dan pinggir jalan, sepeda motor dan mobil diparkir.

Fantastis, kampung adalah ruang untuk mengumbar pelbagai hal: merek, model, warna, dan jumlah.

Kehadiran sepeda motor dan mobil menjelaskan perubahan-perubahan di kampung.

Kampung juga rawan menjadi galeri, ruang untuk pameran busana, perhiasan, dan ponsel.

Selebrasi Idul Fitri merangsang orang-orang berpenampilan apik, rapi, dan parlente.

Busana ditampilkan dengan makna-makna tambahan berkaitan dengan desain dan harga.

Kita melihat orang-orang mirip ada di gelaran pameran busana, tersaji di jalan, rumah, warung, dan masjid.

Busana semakin ramai pesona saat dilengkapi pelbagai perhiasan.

Di kampung, busana bisa memicu perebutan makna, dari urusan duniawi sampai simbolisasi spiritualitas.

Pameran tak berakhir dengan busana dan perhiasan.

Di kampung, kita bakal melihat keberadaan pelbagai jenis ponsel di tangan-tangan para pemudik dan warga kampung.

Pameran ponsel tentu mengikutkan pengertian uang, status sosial, profesi, dan puja teknologi.

Pameran ponsel ini bisa mengartikan pola komunikasi mutakhir telah melampaui perjumpaan raga.

Kampung perlahan menjadi studio.

Dulu, kita menganggap mudik itu ikhtiar orang-orang pulang ke kampung dengan misi rekonsiliasi.

Mudik pun memberi ajakan menelusuri atau menguak memori kampung.

Orang, tempat, pohon, dan peristiwa adalah acuan-acuan memori kampung.

Adegan silahturahmi dan sungkem ke para tetua tentu mengabarkan masa silam, memicu ikatan kembali dengan memori individu dan kolektif di kampung.

Memori sering disajikan oleh para tetua dengan eskpresi tubuh dan kata.

Memori semakin kukuh jika orang-orang mengunjungi permakaman, situs-situs lawas, dan petilasan.

Bagi orang-orang lawas, memori bekerja secara naratif dan kehadiran.

Sekarang, angan tentang memori dilangsungkan dengan berfoto.

Kesibukan di kampung bertambah sejak orang-orang beranggapan bahwa berfoto bisa menjadi memori dan dokumentasi.

Segala hal dipotret, bermaksud mencipta foto-foto sesuai dengan keinginan.

Lihatlah, Idul Fitri di kampung malah membuat orang-orang sibuk memotret peristiwa salat, sungkeman, makan bersama, kumpul keluarga, dan kumpul teman.

Kampung menjadi studio, tempat orang memilih adegan berfoto untuk dipamerkan dan disebarkan ke orang-orang.

Kita jadi merasa aneh jika mudik ke kampung justru dimaksudkan untuk meningkatkan koleksi foto tapi abai terhadap memori secara naratif dan kehadiran ragawi.

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment